Glorifikasi Gelar Akademis tanpa Esensi

Prof. Dr. Pitoyo Hartono

Dalam satu bulan ini dua kali Tempo mengangkat tema yg bersinggungan dengan carut marutnya dunia akademis di Indonesia. Satu plagiarisme utk mendapat posisi akademis dan satu lagi ttg obral receh doctor honoris causa.

Ini sangat menggelikan, dan juga menjijikkan. Ini terjadi karena ada glorifikasi gelar akademis dan ketidaktahuan dari orang2 yg menginginkan gelar instant semacam ini, dan ketidakmauan akademisi di Indonesia utk menjelaskan arti ttg gelar akademis ini, mungkin utk menjaga "nilai" gelar mereka sendiri.

Saya punya gelar doctor dan juga prof., sehingga saya merasa qualified utk menerangkan arti ttg kedua gelar ini. Saya katakan bahwa kedua gelar ini sama sekali tidak istimewa, tidak ada yg sakral ttg dua gelar ini, tidak juga menunjukkan bahwa yg punya pintar. Ini cuma menunjukkan bahwa dia pernah mempertahankan disertasi tingkat doctoral dan sekarang bekerja di institusi pendidikan atau penelitian, titik. Ini bisa dilakukan utk sebagian besar orang yg memilih jalur karir ini dan mau berusaha utk menjalaninya. Hanya, seperti profesi lainnya bisa sukses bisa tidak. Utk kebanyakan dunia luar yg tidak relevan, gelar semacam ini sebaiknya disikapi dng "terus kenapa ? bodo amat".

Doctor atau Ph.D. adalah gelar akademis tertinggi yg bisa didapat oleh seseorang. Gelar ini melekat seumur hidup, meskipun bisa dicabut kalau ditemukan kecurangan dalam proses memperolehnya. Gelar ini diberikan pada orang yg bisa menemukan satu tema penelitian yg punya novelty (sesuatu yg baru) di bidangnya, mengeksekusi penelitian itu, menarik kesimpulan darinya, berargumen ttg novelty yg di-claimnya, dan mempertahankan metodology dan claimnya di hadapan panel ahli. Gelar ini semacam lisensi yg menyatakan bahwa "orang ini punya potensi menjadi peneliti". Cuma itu, tidak lebih tidak kurang. Masalah apakah dia bisa menjadi peneliti yg baik adalah masalah lain, seperti orang punya SIM belum tentu bisa menjadi sopir taksi yg baik. Saya melihat banyak orang Indonesia dapat gelar doctor di Jepang, tapi setelah pulang mereka terus melakukan penelitian remeh temeh dan tidak bisa mengembangkan tema baru. Mereka bisa meneliti kalau ada pembimbingnya, sama dengan orang yg lulus ujian SIM karena ada instrukturnya yg duduk disebelahnya. Penelitian doctor itu cuma penelitian tingkat awal, pilot project dan bukan tujuan akhir. Kalau penelitain doctoral seseorang adalah produk akademis terbaiknya, ya dia sebaiknya tidak berkarier di dunia akademis. Di Jepang, lebih mudah menjadi doctor daripada menjadi tukang kayu spesialis kuil, yg perlu waktu latihan belasan tahun sebelum bisa ambil bagian yg signifikan dalam perbaikan kuil.

Doctor Honoris Causa beda dengan Doctor. Ini gelar kehormatan, yg diberikan belum tentu karena kontribusi akademis seseorang, lebih sering karena kontribusi politis, budaya atau sekedar basa basi. Megawati Soekarnoputri mendapat gelar honoris causa dari alamamater saya, Waseda University. Tapi tidak ada doctor dan prof. waras di Waseda yg mengharap Megawati bisa menghasilakan produk akademis. Sambutan tertulis di Waseda utk pengangkatannya isinya lebih banyak membahas ttg kontribusi bapaknya dalam hubungan bilateral Indonesia-Jepang. Kalau dia bukan anak Soekarno, presiden pertama RI, tapi anak Soekarno tukang klepon di pasar, mungkin lebih mudah bagi dia utk menjadi doktor dengan merangkak dari bawah daripada doctor honoris causa.

Prof. itu gelar akademispun bukan, ini gelar kepangkatan tertinggi di dunia akademis. Sama dengan direktur di suatu perusahaan. Dan di kebanyakan negara gelar ini tidak melekat seumur hidup. Kalau saya berhenti dari univ. besok, gelar prof. saya otomatis dicabut. Sangat aneh kalau ada seseorang yg mengaku bergelar Prof. tapi tidak bisa menunjukkan Prof. di mana. Ini seperti seorang yg mengaku direktur tapi tidak bisa menyebutkan perusahaannya. Yg melekat seumur hidup adalah gelar Emeritus Prof. Gelar ini diberikan pada prof. , yg telah pensiun tp pengabdiannya di dunia akademis selama kariernya signifikan, oleh institusinya. Ini berbeda dengan Prof. honoris causa yg kebanyakan diberikan sebagai gelar seremonial dan basa basi.

Seorang diangkat menjadi prof. karena dia diharapkan dapat mengarahkan misi akademis dan penelitian di institusinya. Dia diharapkan utk membuat blueprint pendidikan, sekaligus membimbing penelitian di tingkat doktoral dan di atasnya. Kemampuannya utk meneliti harus di atas calon2 doktor yg dibimbingnya. Dia harus mampu utk terus menerus menghasilkan produk penelitian yg jauh lebih baik dari penelitiannya sewaktu menjadi doktor. Di Indonesia, ini sering menjadi gelar para ndoro yg tugas utamanya berpidato membuka seminar, dan entah kapan terakhir meneliti dengan tangannya sendiri.

Sangat absurd kalau ada orang yg melakukan plagiarisme utk menjadi doctor atau prof. Mereka tidak mengerti sedikitpun ttg makna dari gelar yg akan mereka dapatkan secara instant itu. Mereka cuma tertarik akan remeh temeh penulisannya di depan atau belakang nama mereka dan mengharap orang lain tertipu akannya. Membeli gelar honoris causa lebih lucu lagi. 

Ini semua tidak akan terjadi kalau dunia akademis tidak meng-glorikasi gelar yg dikeluarkannya dan mau menempatkannya dalam proporsi yg waras.
Share:

HAMBA TERBAIK, HAMBA TERBURUK

Oleh : Alm. KH. Muhammad Idris Jauhari

قَالَ رَسُولُ اللَّه ِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :"خِيَارُ عِبَادِ اللَّهِ الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللَّهُ، وَشِرَارُ عِبَادِ اللَّهِ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ اْلأَحِبَّةِ الْبَاغُونَ الْبُرَآءَ الْعَنَتَ."

(رواه أحمد والبخاري في الأدب المفرد)

Rasulullah saw. bersabda,

"Sebaik-baik hamba Allah adalah mereka yang membuat orang lain mengingat Allah saat melihat mereka. Dan seburuk-buruk hamba Allah adalah mereka yang berjalan ke sana ke mari menyebarkan fitnah, yang menyebabkan perpisahan di antara orang-orang yang saling mencintai, yang berusaha mendatangkan kesulitan kepada orang-orang yang tidak bersalah."

(HR Ahmad dan Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad)

Berdasar hadits di atas, ada dua tipe seorang hamba di mata Allah SWT. Pertama, hamba terbaik yaitu mereka yang mampu membuat orang lain mengingat Allah ketika melihat mereka. Kedua, hamba terburuk yaitu mereka yang suka menyebarkan fitnah dan mendatangkan kesulitan bagi orang yang tidak bersalah.

Hamba Allah Terbaik

Menjadi hamba Allah dengan predikat terbaik menjadi dambaan setiap muslim. Predikat terbaik di sisi Allah adalah capaian tertinggi seorang muslim sebagai seorang hamba. Tidak ada posisi yang lebih mulia dalam kehidupan seorang muslim kecuali Allah benar-benar telah menetapkan orang tersebut sebagai kekasih-Nya.

Hamba terbaik di mata Allah bukanlah semata seorang yang mampu menjalankan perintah Allah dengan istiqamah dan menjauhi segala larangan-Nya secara sungguh-sungguh, melainkan mereka yang mampu membuat orang lain senantiasa mengingat Allah (dzikrullâh) dalam situasi dan kondisi bagaimanapun, baik hati, pikiran, maupun tingkah lakunya.

Barometer hamba terbaik di mata Allah tidak lagi didasarkan pada kesholehan individu semata. Tapi, bagaimana kesholehan individu bertransformasi menjadi sebuah energi spiritual-magnetik yang secara spontan mampu menarik orang-orang di sekitarnya untuk senantiasa melakukan dzikrullâh. Karena itu, bagi hamba Allah terbaik, upaya menjadikan orang lain agar senantiasa melakukan dzikrullah bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan. Modalnya: kekuatan spiritual, kematangan kepribadian, dan kedalaman pikiran.

Hamba terbaik senantiasa memancarkan nur ilahiah dari sekujur tubuhnya. Nur ilahiah ini kemudian memancar menelusup kepada siapa pun yang berada di sekelilingnya. Siapa pun yang terkena pancaran nur ilahiah ini, sedikit banyak, akan mengalami perubahan kepribadian. Tak jarang mereka kemudian berbalik arah menjadi seorang alim, taat, dan istiqamah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Prototipe hamba Allah terbaik dengan mudah bisa kita baca pada sosok Nabi Muhammad. Sebagai seorang utusan Allah, Nabi Muhammad menjadi cermin insan paripurna di sisi Allah sekaligus sebagai sosok teladan bagi umatnya. Karena sosoknya yang paripurna dan keteladanannya, banyak kaum Quraisy saat itu berbalik menjadi seorang yang beriman kepada Allah. Keteladanan Rasulullah diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur'an surah Al-Ahzâb ayat 21: "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."

Untuk saat ini,  hamba Allah terbaik, di antaranya, direpresentasikan oleh para kiai, habib, tuan guru, dan lainnya. Sebagai pewaris para nabi, ulama-ulama tersebut tidak saja bertugas menyampaikan pesan-pesan ilahiah, melainkan juga "menyucikan" hati umat yang penuh dengan kerak kotoran. Mereka adalah panutan umat dalam banyak hal di bidang kehidupan.

Ada perasaan sejuk dan tenteram setiap kali memandang wajah ulama. Tidak ada rasa bosan dan kesal setiap kali bermuwajah  dengan para ulama. Inilah mengapa setiap kali kita memandang mereka, tiba-tiba timbul keinginan untuk meneladani dan menjadi seperti dia. Yaitu menjadi seorang hamba yang semakin dekat dengan Allah.

Yang perlu disadari bersama, tidak ada keharusan menjadi "ulama" untuk menjadi hamba terbaik di sisi Allah. Siapa pun identitas dan latar belakang sosial kita, kita memiliki hak yang sama untuk menjadi hamba Allah terbaik. Syaratnya tentu bagaimana menjadikan orang-orang di sekeliling kita istiqamah mengingat Allah setiap kali melihat diri kita.

Untuk mencapai taraf itu, keteladanan yang baik (uswah hasanah) dalam pikiran, sikap, maupun tindakan, menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap hamba manakala berharap menjadi kekasih Allah, menjadi hamba terbaik di sisi-Nya dan di sisi manusia.

Hamba Allah Terburuk

Ada dua perilaku jahat yang selalu dilakukan oleh hamba Allah yang paling buruk. Pertama, suka menyebarkan fitnah. Kedua, suka mendatangkan kesulitan bagi orang yang tidak bersalah.

Fitnah merupakan perkataan bohong tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang, dan lainnya. Fitnah bersumber dari rasa dengki dan benci terhadap seseorang. Fitnah lahir sebagai akumulasi dari ghibah dan buhtan. Fitnah merupakan kejahatan tertinggi yang diproduksi oleh lisan. Tujuan utamanya bagaimana agar orang-orang yang saling mencintai bisa berpisah.

Fitnah ada di mana-mana dan bisa menimpa siapa pun tanpa pandang status. Seorang tetangga misalnya, tega memfitnah tetangga lainnya dengan tujuan agar kehidupan keluarga tetangga tersebut berantakan dan berakhir dengan penceraian. Atau, karena ambisi untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi orang tega memfitnah atasannya sehingga karirnya hancur. Taktik busuk menebarkan fitnah untuk kepentingan pribadi atau golongan ini seringkali terjadi di tengah-tengah kehidupan kita. Terhadap fitnah ini, orang Islam harus selalu waspada. Waspada untuk tidak berbuat fitnah dan waspada untuk menghadapi fitnah pihak lain dengan cara-cara yang arif, bijaksana, dan tegas.

Begitu besarnya bahaya dan dosa fitnah, hingga Islam mengkategorikannya sebagai perbuatan yang lebih kejam dari pembunuhan (QS Al-Baqarah [2]: 191). Bahkan, Nabi Muhammad saw menyebutkan orang yang suka menebar fitnah sebagai calon penghuni neraka, "Tidak akan masuk surga orang yang suka menyebarkan fitnah." (HR Bukhari & Muslim).

Fitnah itu ibarat menyulut ranting kering. Ia akan cepat merebak ke mana-mana dan membakar apa pun yang dilaluinya. Lalu, menjadi abu. Cara terbaik untuk terhindar dari fitnah adalah jangan pernah sedikit pun terdetik di hati kita untuk memfitnah. Ketika ada dorongan kuat dari nafsu kita memfitnah, beristighfarlah dan mohonlah ampun kepada Allah. Insya-Allah kita selamat dari api fitnah.

Perilaku jahat seorang hamba Allah terburuk lainnya adalah suka mendatangkan kesulitan bagi orang yang tidak bersalah. Sikap ini biasanya bersumber dari rasa dengki atau hasad. Dengki merupakan sifat tercela. Ia adalah perasaan tidak senang dengan kebahagiaan orang lain, disertai keinginan agar kebahagiaan itu hilang darinya. Karena itu, segala cara dan taktik jahat akan dilakukan bahkan menghalalkan sesuatu yang haram sekalipun.

Betapa jahat seorang pendengki, ia tidak rela melihat orang lain bahagia, sebaliknya ia bersuka cita melihat orang lain bergelimang lara. Allah menggambarkan sikap dengki ini dalam firman-Nya, "Bila kamu memperoleh kebaikan, maka hal itu menyedihkan mereka, dan kalau kamu ditimpa kesusahan maka mereka girang karenanya." (QS Ali Imran [3]: 120)

Sifat dengki tidak bisa dianggap remeh. Jika virus ini terus mengendap dalam hati seseorang, cepat atau lambat akan merusak keimanan dan kepribadian seseorang. Ia akan menjelma menjadi usaha-usaha negatif yang merugikan. Seperti tutur kata yang kasar dan menyakiti hati, atau perbuatan dan tindakan yang kerap bermotif menjatuhkan, menghina dan menyudutkan. Bahkan, tidak jarang kedengkian yang terpelihara dalam hati seseorang kemudian berbuntut tragedi pembunuhan mengenaskan. Seperti yang pernah terjadi pada kedua putra Nabi Adam, Qabil dan Habil.

Untuk itulah, Rasulullah saw mengajak umatnya untuk senantiasa menjauhi sikap dengki sesuai sabdanya, "Jauhilah dengki, karena dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api makan kayu bakar." (HR Abu Daud).

Memang, manusia diciptakan dengan kecenderungan untuk mendengki. Tetapi, orang yang beriman akan selalu berusaha menghilangkan sifat jelek ini. Mereka tidak tertawan oleh perasaan buruk yang jelas-jelas sangat tidak produktif dan menyengsarakan ini. Hal itu disebabkan karena orang-orang beriman menyadari bahwa sifat dengki akan semakin menjauhkan mereka dari Allah. Seperti halnya mereka menyadari bahwa sikap dengki hanya akan menyebabkan pelakukanya dimasukkan api neraka. Masihkah kita akan bersikap dengki? Wallâhu a'lam bish-showâb.

Prenduan, 17 April 2012
Share:

Surat dari Editor Kompas.com

Saya mendapat Surat dari Editor Kompas.com, Wisnu Nugroho, berikut ini di email saya. Saya simpan di sini, bagus sebagai catatan dan renungan bagaimana mengelola media sebesar Kompas.



Wisnu Nugroho <newsletter@kompas.com>
15 Sep 2020, 11:15 (2 days ago)

Dear Ahmadie Thaha,

Ditinggal orang yang kita cintai, hormati, kagumi dan jadikan panutan di hampir separuh hidup memunculkan duka mendalam. Duka karena kehilangan itu membuat banyak hal terasa hambar.

Itu saya alami sejak Rabu (9/9/2020) saat mengetahui kabar meninggalnya Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta.

Saya tidak langsung membaca kabar itu saat peristiwa terjadi dan kabar duka diluaskan pukul 13.05. Lantaran tengah menjadi moderator webinar Indonesia Content Marketing Forum (ICMF) yang digelar Grid.id (Grup Majalah Kompas Gramedia), kabar tertunda saya ketahui.

Ketika acara selesai pukul 14.00, saya mendapati puluhan pesan dan telepon masuk yang tidak terjawab di telepon seluler saya.

Dari informasi yang membuat saya tertegun karena duka ini, banyak hal lantas terasa hambar. Bukan saja hal-hal yang baru saja saya kerjakan, tetapi juga rencana-rencana ke depan terasa hambar.

Dalam suasana seperti ini, Kompas.com yang didirikan pada 14 September 1995 memperingati ulang tahun ke-25. Jumlah tahun yang tidak sedikit untuk sebuah media online yang karena sifatnya mudah tumbuh dan cepat berguguran.

Banyak pengalaman jatuh, bangun, jatuh lagi dan bangun lagi dalam mencari bentuk di tengah derasnya arus perubahan yang menuntut banyak adaptasi atau penyesuaian.

Oleh Jakob Oetama, perubahan ini sudah lama diprediksi dan terjadi seperti menggenapi apa yang beberapa kali dinyatakannya di berbagai kesempatan soal jati diri media massa.

Karena itu, memperingati ulang tahun ke-25 Kompas.com adalah kesempatan untuk memperingati apa yang diwariskan Jakob Oetama untuk diteruskan.

Tentang jati diri media yang harus melakukan banyak penyesuaian atau adaptif terhadap perubahan zaman, Jakob Oetama pernah menegaskannya dalam tulisannya berjudul "Merajut Nusantara, Menghadirkan Indonesia".

Tulisan itu muncul di halaman 1 harian Kompas 28 Juni 2010 tepat pada ulang tahun ke-45 harian Kompas. Berikut ini kutipannya:

"Jati diri lembaga media massa, termasuk surat kabar-sebagai bagian dari ekstensi masyarakat (de Volder)-adalah berubah. Tidak hanya berubah dalam cara, menyampaikan kritik with understanding, teguh dalam perkara lentur dalam cara (fortiter in re suaviter in modo), juga dalam sarana atau alat menyampaikan."

Tulisan reflektif sepuluh tahun lalu itu masih bertenaga untuk dibaca hari ini. Sepuluh tahun berselang, masih belum ditemukan tuntunan dalam cara dan sarana media massa hadir di tengah perubahan yang terus menerus terjadi.

Bukan semata-mata karena sebagian dari kita yang enggan berubah tetapi acuan perubahan itu juga terus berubah. Jati diri lembaga media massa adalah berubah.

Perubahan dalam cara, dalam sarana itu dilakukan terus menerus secara dinamis, secara lentur untuk mewujudkan cita-cita atau perkara yang dipegang teguh: Merajut Nusantara, Menghadirkan Indonesia.   Cara dan sarana bukan prinsip

Tidak banyak yang tahu bahwa dalam perjalanannya sejak didirikan 28 Juni 1965, harian Kompas pernah dua kali dilarang terbit oleh penguasa. Pertama bersama semua media massa pada 2-5 Oktober 1995 dan kedua bersama tujuh media massa lain pada 20 Januari 1978.

Sejarah ini tidak jadi ingatan publik karena bukan peristiwa heroik. Namun, karena peristiwa ini, khususnya pembredelan kedua, harian Kompas tumbuh dengan karakter yang dirawat hingga hari ini.

Terhadap pembredelan 1978 yang tanpa batas waktu itu, Jakob berpandangan: "Mayat hanya bisa dikenang, tetapi tidak akan mungkin diajak berjuang. Perjuangan masih panjang dan membutuhkan sarana, di antaranya melalui media massa."

Teguh dalam perkara lentur dalam cara (fortiter in re suaviter in modo) ditegaskan Jakob Oetama dalam pandangan dan tindakannya. Setelah permintaan maaf dan janji dinyatakan di hadapan pemegang kekuasaan, harian Kompas kembali terbit pada 6 Februari 1978.

Tiga hari kemudian, Hari Pers Nasional ke-32 yang jatuh pada 9 Februari 1978 diperingati di Solo. Di acara para wartawan berjabat tangan dengan Presiden, ketika tiba giliran Jakob Oetama, Soeharto menyambut uluran tangannya sambil berkata, "Aja meneh-meneh!" (jangan lagi-lagi).

Singkat, padat, menyentak dan terus menerus diingat. Para senior di harian Kompas mengisahkan ucapan Soeharto yang singkat, padat, menyentak dan terus menerus diingat ini. Salah satunya J Osdar, wartawan senior harian Kompas yang bertugas di Istana Kepresidenan sejak era Soeharto hingga Joko Widodo.

Karena ingatan ini, saya menjadi paham kenapa pada suatu siang Jakob Oetama menelepon saya dari Jakarta. Saat itu, Agustus 2010, saya bertugas sebagai Wakil Kepala Biro Kompas di Yogyakarta setelah 5 tahun sebelumnya menjadi wartawan Istana Kepresidenan (2004-2009).

Saat di Yogyakarta, buku berjudul "Pak Beye dan Istananya" dalam rangkaian seri Tetralogi Sisi Lain SBY diterbitkan Penerbit Buku Kompas. Buku pertama diluncurkan 4 Agustus 2010, dua bulan setelah ulang tahun harian Kompas ke-45.

Saat panggilan telepon masuk dari Jakarta, saya sedang mengayuh sepeda dari rumah di utara menuju Kantor Kompas di kawasan Kotabaru. Banyak panggilan tak terjawab membuat saya berhenti bersepeda dan mencari tempat aman untuk menerimanya.

Nomor-nomor yang masuk tidak saya kenal karena pakai nomor kantor. Saya tunggu beberapa saat untuk kemudian saya angkat telepon berikutnya yang masuk.

Dari kejauhan, terdengar suara perempuan yang kemudian saya ketahui adalah sekretaris Jakob Oetama, Etty Sri Marianingsih. Etty langsung memberi tahu bahwa Jakob Oetama hendak bicara.

Saya tarik nafas panjang karena perjalanan sepeda yang terhenti sambil menunggu suara Jakob Oetama dari Jakarta. Meskipun singkat jedanya, saya deg-degan juga saat menunggu.

Tidak banyak yang dikatakan. Jakob Oetama yang selalu kami panggil Pak Jakob menanyakan kabar. Ia memberi apresiasi atas buku yang diterbitkan dari tulisan di blog kompasiana. Terakhir ia memastikan kondisi saya setelah buku soal sisi lain Istana dan penguasanya itu ludes di pasaran seminggu setelah diluncurkan.

"Mas, baik-baik saja kan?" ujar Jakob Oetama yang saya panggil Bapak memastikan.  Saya kebingungan menjawab pertanyaan itu karena tidak terlalu paham konteks pertanyaan secara keseluruhan. Ingatan sejarah yang bersinggungan dengan kekuasaan kemudian saya ketahui menjadi landasan pertanyaan itu.  Ini pengalaman saya pertama kali dan satu-satunya ditelepon Jakob Oetama dalam suasana berdebar. Kenangan yang selalu saya ingat sampai sekarang.

Terlebih setelah saya memahami bagaimana situasi yang terjadi antara 20 Januari-5 Februari 1978 saat harian Kompas dihentikan oleh pemegang kekuasaan.

Persis setelah Tetralogi Sisi Lain SBY terbit, saya ditugaskan kembali ke Jakarta pada Februari 2011. Dalam tugas-tugas sebagai editor di harian Kompas, perjumpaan dengan Jakob Oetama lebih sering terjadi terutama di ruang-ruang rapat redaksi.

Penyelenggaraan Ilahi

Tidak jarang, saat rapat pagi pukul 09.00, Jakob Oetama hadir. Kursi khusus selalu tidak diisi meskipun peserta rapat penuh karena berjaga-jaga jika tiba-tiba Jakob Oetama hadir. Kalau ternyata tidak hadir, kursi itu tetap kosong sebagai representasi kehadiran juga meskipun tidak langsung.

Saat hadir rapat, Jakob Oetama kerap mengajak diskusi. Biasanya diawali dengan pertanyaan kepada Pemimpin Redaksi Kompas dan sejumlah editor yang dikenalnya. Tema besarnya soal "Merajut Nusantara, Menghadirkan Indonesia".

Dalam perjumpaan-perjumpaan itu, nilai-nilai yang diyakini, dihidupi dan diperjuangkan Jakob Oetama bersama harian Kompas disampaikan dan diinternalisasikan. Sikap rendah hati dalam ungkapan yang jadi pegangan yaitu providentia dei (penyelenggaraan ilahi) dinyatakan tanpa pelantang.

Karena penyelenggaraan ilahi itulah, Jakob Oetama percaya, semua yang menghampiri hidupnya bukan hasil kerja dan upayanya semata-mata. Begitu juga dengan apa yang kemudian terjadi di grup Kompas Gramedia. Penyelenggaraan ilahi hadir di sana.

Memperingati ulang tahun ke-25 kompas.com yang didirikan 14 September 1995, semangat ini hendak kami hidupi di tengah perjalanan penuh perubahan dan setelah kami petakan setidaknya ada tiga tahapan.

Pertama, saat awal-awal didirikan, kompas.com merupakan repilikasi konten harian Kompas edisi cetak. Newsroom masih sama, pekerja masih sama, dan konten sepenuhnya sama. Dari sisi pembaca, belum ada tuntutan karena pertumbuhan belum signifikan. Periode pertama terjadi sepanjang 1995-1998.

Kedua, pada 1998 kompas.com diputuskan menjadi perusahaan sendiri terpisah dari harian Kompas dan memproduksi sendiri konten yang secara orisinil tidak semata-mata replikasi dari edisi cetak. Newsroom berbeda, pekerja direkrut secara khusus meskipun masih melibatkan pekerja dari edisi cetak. Pembaca mulai tumbuh dan memunculkan harapan akan model bisnis baru. Di periode kedua ini brand-nya adalah KCM, Kompas Cyber Media.

Ketiga, periode reborn pada 2008. Brand-nya tidak lagi KCM, tapi kompas.com. Media online ini lahir kembali dengan brand yang sama persis dengan mothership-nya. Jakob Oetama sendiri yang meminta agar brand Kompas versi online ini tidak perlu dibedakan namanya.

Adalah cita-cita Jakob Oetama untuk mewujudkan Kompas secara multimedia demi mengikuti perkembangan zaman. Ia ingin agar roh Kompas dapat menjumpai pembaca di setiap platform: cetak, digital, juga TV. Ini bagian dari perubahan sarana dan alat penyampaian yang ditegaskannya.

Harapannya, daya jangkau Kompas untuk memberi enlightment kepada masyarakat bisa menjadi lebih luas. Cita-cita ini mewujud secara penuh saat akhirnya Kompas TV mengudara pertamakali pada 9 September 2011. Lengkap sudah kehadiran Kompas secara multimedia.

Di periode ketiga ini Kompas.com secara total mengadopsi seluruh karakter medium digital yang membuat kerja-kerja jurnalistik lebih paripurana.

Newsroom sudah mandiri. Konten dibaut dengan logika yang berbeda dengan surat kabar lantaran pembaca yang berbeda tabiatnya. Model konten ditemukan bersamaan dengan model bisnis yang bisa menghidupi.

Kami yakin, ini bukan akhir dari perubahan. Seperti digariskan Jakob Oetama, perubahan adalah jati diri media, maka kami bersiap dengan perubahan yang dituntut perkembangan jaman.

Melihat harapan

Apa yang lantas menjadi pegangan? Harapan. Kemampuan melihat harapan dan berpegang pada harapan. Untuk itu, "Melihat Harapan" menjadi tema peringatan ulang tahun ke-25 kompas.com setahun ke depan.

Melihat dan berpegang pada harapan adalah ungkapan syukur hari ini yang membuat kita tidak terlekat di masa lalu, tidak meloncat ke masa depan.

Salam penuh harapan,

Wisnu Nugroho
Share:

Video Rekaman Webminar Probiotik MUI

Komite Dakwah Khusus (KDK) MUI Jawa Timur mengadakan webminar probiotik pada akhir pekan lalu, Sabtu 07 Agustus 2020, pkl 20.00 Wib yang berlangsung hingga pkl 00.30. Peserta webminar, yg sebagian besar berasal dari kalangan pesantren, mencapai tiga ratusan orang, yang menunjukkan betapa besar minat mereka pada probiotik.


Alhamdulillah, rekaman video webminar KDK MUI Jatim tersebut sdh bisa sy tayangkan di youtube esok harinya. Silahkan simak didampingi kopi. Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE, SHARE ya, utk sedikit menyatakan terima kasih kita pada sesama, dan rasa syukur kita pada Allah Swt bhw kita telah diberi ilmu pengetahuan oleh Dia Yang Mahatahu. Ini linknya: https://youtu.be/E3LVm-5lg_k

Oh ya ... Sebetulnya, webminar sudah usai setelah berlangsung dua jam lebih. Namun, seperti biasa di pesantren, acara dilanjutkan dengan semacam kongkow-kongkow. Ini berakhir hingga dinihari pkl 00:30, dengan jumlah peserta bertahan hampir seratus orang, yang menunjukkan minat besar mereka pada probiotik.

Ada satu hal yang sempat saya tanyakan saat kongkow. Yaitu, soal jumlah strain probiotik. Betulkah jumlahnya mencapai ribuan? Dlm webminar probiotik yg diadakan KDK MUI Jatim ini, Dr Farid Lusno dari Universitas Airlangga mengatakan (lihat menit 03:30-an pada video), berhubung keterbasan kemampuan lab di dalam negeri, pihaknya sudah mengirimkan sampel produk2 probiotik BioSyafa ke bbrp lab di LN sprt di Korea dan Prancis, utk mengetahui berapa sebenarnya jumlah strainnya. Apakah sama seperti yg diklaim pihak BioSyafa bahwa jumlah strainnya mencapai ribuan.

Menurut Farid Lusno, setelah tiga bulan penelitian di Korea, ditemukan species probiotik produk BioSyafa jumlahnya hanya 62 strain, sedangkan dari penelitian di Prancis sudah ditemukan jumlahnya sebanyak 120 strain. Jadi, klaim BioSyafa bahwa strain produk2nya mencapai ribuan, yang sekarang blm berhasil dibuktikan, semoga ke depannya dapat dibuktikan. Farid Kusno memang tak menafikan kemungkinan jumlah strainnya bertambah jika mesin lab mampu mengidentifikasinya lebih jauh lagi.

Semoga bermanfaat.

Cak AT (ahmadiethaha@gmail.com)
Share:

Tujuhpuluh Kata al-Qur'an

Ahmadie Thaha

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ


Di dalam al-Qur'an sendiri, ditemukan sebanyak 70 kata "al-Qur'an" yang terdapat di 69 ayat. Tapi ada di antaranya tidak berarti kitab suci al-Qur'an. Berikut ayat-ayat tersebut:

عَلَّمَ الْقُرْآنَ
(Allah) Yang telah mengajarkan al-Qur'an. (55: 2)

وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ
Demi al-Qur'an yang penuh hikmah, (36: 2)

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ
Sesungguhnya al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, (56: 77)

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ
Bahkan (yang didustakan mereka itu) ialah al-Qur'an yang mulia, (85: 21)

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. (75: 17)

الَّذِينَ جَعَلُوا الْقُرْآنَ عِضِينَ
(yaitu) orang-orang yang telah menjadikan al-Qur'an itu terbagi-bagi. (15: 91)

فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (75: 18)

مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ
Kami tidak menurunkan al-Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; (20: 2)

أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan. (73: 4)

وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ
dan apabila al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, (84: 21)

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنزِيلًا
Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur'an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. (76: 23)

وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi al-Qur'an dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (27: 6)

قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
(Ialah) al-Qur'an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa. (39: 28)

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (17: 78)

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (54: 40)

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (54: 32)

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (54: 22)

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (54: 17)

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur'an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). (43: 3)

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (12: 2)

ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ
Qaaf Demi al-Qur'an yang sangat mulia. (50: 1)

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci? (47: 24)

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِّقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, (41: 3)

ص وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ
Shaad, demi al-Qur'an yang mempunyai keagungan. (38: 1)

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ
Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur'an yang agung. (15: 87)

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Apabila kamu membaca al-Qur'an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (16: 98)

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan apabila dibacakan al-Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (7: 204)

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
Berkatalah Rasul "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur'an itu sesuatu yang tidak diacuhkan". (25 30)

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ
Dan mereka berkata "Mengapa al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?" (43: 31)

طس تِلْكَ آيَاتُ الْقُرْآنِ وَكِتَابٍ مُّبِينٍ
Thaa Siin (Surat) ini adalah ayat-ayat al-Qur'an, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan, (27: 1)

الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَقُرْآنٍ مُّبِينٍ
Alif, laam, raa. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat Al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) al-Qur'an yang memberi penjelasan. (15: 1)

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلًا
Dan al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (17: 106)

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِيَذَّكَّرُوا وَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا نُفُورًا
Dan sesungguhnya dalam al-Qur'an ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). (17: 41)

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُّبِينٌ
Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. al-Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. (36: 69)

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِن كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam al-Qur'an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. (39: 27)

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَقُصُّ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَكْثَرَ الَّذِي هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ
Sesungguhnya al-Qur'an ini menjelaskan kepada Bani lsrail sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya. (27 76)

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ
Dan orang-orang yang kafir berkata "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur'an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka". (41: 26)

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِن كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَىٰ أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا
Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam al-Qur'an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari(nya). (17: 89)

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur'an? Kalau kiranya al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (4: 82)

نَّحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ وَمَا أَنتَ عَلَيْهِم بِجَبَّارٍ فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَن يَخَافُ وَعِيدِ
Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan al-Qur'an orang yang takut dengan ancaman-Ku. (50: 45)
 
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٍ وَكَانَ الْإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا
Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam al-Qur'an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. (18: 54)

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَّسْتُورًا
Dan apabila kamu membaca al-Qur'an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, (17: 45)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Dan Kami turunkan dari al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (17: 82)

وَكَذَٰلِكَ أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا
Dan demikianlah Kami menurunkan al-Qur'an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) al-Qur'an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka. (20: 113)

وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَقُلْ إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنذِرِينَ
Dan supaya aku membacakan al-Qur'an (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah "Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan". (27: 92)

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ
Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui. (12: 3)

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan". (20: 114)

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا
Katakanlah (hai Muhammad) "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Qur'an), lalu mereka berkata Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur'an yang menakjubkan, (72: 1)

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ قُل رَّبِّي أَعْلَمُ مَن جَاءَ بِالْهُدَىٰ وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) al-Qur'an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah "Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata". (28: 85)

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (17: 9)

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا
Berkatalah orang-orang yang kafir "Mengapa al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). (25: 32)

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
Katakanlah "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (17: 88)

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِن كُلِّ مَثَلٍ وَلَئِن جِئْتَهُم بِآيَةٍ لَّيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ أَنتُمْ إِلَّا مُبْطِلُونَ
Dan Sesungguhnya telah Kami buat dalam al-Qur'an ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan Sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata "Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka". (30: 58)

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ
Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur'an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (46: 29)

وَمَا كَانَ هَٰذَا الْقُرْآنُ أَن يُفْتَرَىٰ مِن دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِن رَّبِّ الْعَالَمِينَ
Tidaklah mungkin al-Qur'an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (al-Qur'an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. (10: 37)

وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا
dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam al-Qur'an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya, (17: 46)

لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (59: 21)

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِّتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَىٰ وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيهِ فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ
Demikianlah Kami wahyukan kepadamu al-Qur'an dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam. (42: 7)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِن تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu al-Qur'an itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (5: 101)

وَإِذْ قُلْنَا لَكَ إِنَّ رَبَّكَ أَحَاطَ بِالنَّاسِ وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِّلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ وَنُخَوِّفُهُمْ فَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا طُغْيَانًا كَبِيرًا
Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia". Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam al-Qur'an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (17: 60)

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَّقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍ بَعِيدٍ
Dan jikalau Kami jadikan al-Qur'an itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut al-Qur'an) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah "al-Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang al-Qur'an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh". (41: 44)

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن نُّؤْمِنَ بِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَلَا بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِندَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ
Dan orang-orang kafir berkata "Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada al-Qur'an ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya". Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadap kan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri "Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman". (34: 31)
 
وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِن قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari al-Qur'an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (10: 61)

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هَٰذَا أَوْ بَدِّلْهُ قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِن تِلْقَاءِ نَفْسِي إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata "Datangkanlah al-Qur'an yang lain dari ini atau gantilah dia". Katakanlah "Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)". (10: 15)

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً قُلِ اللَّهُ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنذِرَكُم بِهِ وَمَن بَلَغَ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَىٰ قُل لَّا أَشْهَدُ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ
Katakanlah "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan al-Qur'an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah "Aku tidak mengakui". Katakanlah "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)". (6: 19)

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (9: 111)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (2: 185)

وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَىٰ بَل لِّلَّهِ الْأَمْرُ جَمِيعًا أَفَلَمْ يَيْأَسِ الَّذِينَ آمَنُوا أَن لَّوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُم بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلُّ قَرِيبًا مِّن دَارِهِمْ حَتَّىٰ يَأْتِيَ وَعْدُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah al-Qur'an itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (13: 31)

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِّنَ الَّذِينَ مَعَكَ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَىٰ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur'an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (73: 20) 
Share:

Wallahu a’lam untuk Dua Tokoh Mikroba

Senin, 24 Februari 2014
Dahlan Iskan Manufacturing Hope 117

Mungkin saya belum akan bisa bertemu tokoh kita yang hebat ini: Prof Dr Ali Zum Mashar. Setidaknya dalam waktu dekat ini.

Padahal saya pengin sekali bertemu. Dialah penemu mikroba P2000Z yang oleh beberapa pihak disebut mikroba google.

Keinginan saya itu bermula dari permintaan masyarakat. Yakni agar BUMN ikut mengatasi tanah pertanian yang tertimbun abu gunung berapi. Baik di Sinabung maupun di sekitar Gunung Kelud.

Abu itu memang bisa jadi sumber kesuburan, tapi bukan sekarang. Beberapa waktu lagi. Padahal petani harus segera bercocok tanam.

"Tanah itu akan langsung bisa ditanami kalau diberi mikroba temuan Prof Zum," tulis seorang petani dalam SMS-nya kepada saya.

Saya pun segera melacak keberadaan ahli kita itu. Saya gagal. Saya hanya berhasil memperoleh info yang membuat saya sedih.

Pertama, beliau akan tinggal lama di Dubai. Prof Zum, kata seorang stafnya, lagi dipercaya oleh pemerintah Dubai untuk menerapkan penemuan itu di sana.

Intinya, Prof Zum dipercaya untuk mengubah tanah Timur Tengah itu agar menjadi tanah yang bisa ditanami.

Informasi kedua lebih menyedihkan lagi: beliau mengatakan kepada stafnya untuk tidak mau saya temui.

Penyebabnya sederhana. Beliau merasa kecewa yang amat panjang. Kecewa pada keadaan. Temuannya tidak dapat kepercayaan yang memadai di dalam negeri. Sejak dari pemerintahan Pak Harto sampai ke pemerintahan-pemerintahan berikutnya. Sampai sekarang.

Apa hubungannya dengan saya? Ini salah saya sepenuhnya. Saya telat mengenal beliau. Blak-blakan saja saya baru tahu tentang kehebatan beliau itu minggu lalu. Setelah Gunung Kelud meletus.

Memang juga ada selentingan ini: mengapa saya, dalam tulisan saya dulu, memuji pupuk temuan Adi Wijaya. Yakni ketika saya untuk pertama kalinya menemui Adi di Grobogan, Purwodadi.

Dalam uji cobanya Adi berhasil membuat produktivitas kedelai menjadi tiga ton per hektar. Dari hanya 1,5 ton per hektar selama ini.

Saat itu saya belum tahu kalau ada penemuan serupa. Yakni oleh Prof Ali Zum Mashar. Dengan menggunakan mikroba temuan Prof Zum konon hasilnya bisa lebih hebat dari itu.

Rupanya dua tokoh peneliti ini lagi perang dingin. Setidaknya di dunia maya. Saya tidak tahu itu. Baru tahu belakangan. "Bukan perang kok Pak. Saya tidak pernah menanggapi," ujar Adi Wijaya kepada saya kemarin.

Dengan nada merendah Adi mengatakan: saya ini bukan kelas beliau, saya ini masih yunior.

Tapi Adi memastikan bahwa temuan pupuknya itu tidak bisa dibandingkan dengan temuan Prof Zum. "Saya tidak meniru. Memang dulu sering ada proyek bersama. Tapi temuan saya itu beda," kata Adi.

Inilah penjelasan Adi: temuan saya itu "Prebiotik". Temuan beliau adalah "Probiotik".

Prebiotik adalah materi non digestible yg mampu menstimulasi pertumbuhan mikroba. Umumnya itu adalah hasil fermentasi sempurna dari biomassa organik.

Sedang "probiotik" adalah mikroba yang mendukung berada dalam suatu ekosistem tertentu, mendukung pertumbuhan pada ekosistem tersebut. Istilah ini sebenarnya dipakai dalam istilah pencernaan.
Secara umum prebiotik bisa dibilang nutrisinya mikroba, dan probiotik adalah mikrobanya, yang di pertanian disebut pupuk hayati.

Tentu saya tidak dalam posisi menilai mana yang terbaik. Saya bukan ahlinya. Saya akan menggunakan logika saya sendiri: mencoba keduanya di lahan yang bersebelahan dengan penggarapan dan benih yang sama.

Mudah-mudahan bisa saya lakukan musim tanam yang akan datang. Seperti saat membuat generasi pertama mobil listrik dulu. Ada aliran harus menggunakan gearbox, ada aliran tidak perlu gearbox.
Saya putuskan membuat dua-duanya. Hasilnya sudah ketahuan di lapangan.

Bagaimana dengan lahan yang tertutup abu sekarang? Ternyata tetap bisa langsung ditanami. Hanya perlakuannya yang harus berbeda. Misalnya untuk yang lapisan abunya antara 5-10 cm, pengolahan tanahnya harus sedalam 20 cm.

Sedang yang lapisan abunya antara 10 sampai 15 cm pengolahan tanahnya harus sedalam 30 cm. Tentu harus ditambah pupuk organik satu ton per hektar (untuk padi) atau dua ton per hektar untuk tanaman hortikultura.

Tentu saya akan tetap berusaha untuk bisa bertemu Prof Zum. Saya akan minta maaf pada beliau. Kok telat mengenal beliau. Juga akan minta agar beliau bersedia diskusi dengan tim BUMN.

Tokoh seperti beliau tidak boleh lebih dapat penghargaan di luar negeri daripada di negeri sendiri.
Prof Zum (45 tahun) punya sejarah penelitian yang panjang. Beliaulah yang ditugaskan untuk menemukan jalan ini: bagaimana agar tanah gambut yang mahaluas di Kalimantan bisa ditanami padi. Waktu itu Presiden Soeharto mempunyai program membuka sawah baru seluas satu juta hektar di Kalteng. Lahan itu berupa tanah gambut yang keasamannya sangat tinggi.

Prof Zum yang lulus dari Fakultas Perrtanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, memperdalam ilmunya di IPB sampai memperoleh gelar doktor.

Kini beliau memiliki produk P2000Z. Pupuk yang ditemukan di tahun 2000 itu ditandai huruf Z di belakangnya pertanda itu ciptaan Prof Zum.

Mengapa konsumennya menyebut P2000Z itu sebagai mikroba google? Konon itu karena mikroba ini bisa mencari sendiri sasaran mana bagian tanah yang bisa disuburkan.

Wallahu a'lam.

Oleh Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Share:

Obat Antibiotik Bakteri Levofloxacin

Levofloxacin adalah obat antibiotik golongan quinolone yang bermanfaat untuk mengobati penyakit akibat infeksi bakteri, seperti pneumonia, sinusitis, prostatitis, konjungtivitis, infeksi saluran kemih, dan infeksi kulit. Obat antibiotik ini tersedia dalam bentuk tablet, sirup, dan tetes mata.

Levofloxacin tidak hanya untuk mengatasi, tetapi juga mencegah penyakit anthrax dan penyakit pes pada orang-orang yang terpapar bakteri ini. Obat ini bekerja dengan cara membasmi bakteri penyebab infeksi. 

(https://www.alodokter.com/levofloxacin)

Share:

Jaringan Ulama dan Islamisasi Jawa Tengah Bagian Selatan

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

REPUBLIKA.CO.ID, --  Beberapa tahun silam, kami pernah mewancarai Prof DR Hermanu Joebagio. Dia adalah Guru Besar Sejarah Politik Islam Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Menyelesaikan program doktornya di UIN Sunan Kalijaga dengan disertasi bertajuk Politik Islam di Kasunanan Surakarta pada 2010.

Pada wawancara  tersebut, Hermanu memaparkan fakta liatnya jaringan ulama di selatan Jawa. Menurut dia, meski terus-menerus ditekan, misalnya dengan peristiwa pembantaian ulama semasa Raja Amangkurat I dan peristiwa kekalahan Pangeran Diponegoro, jaringan ini malah semakin solid dan kuat. Bahkan, semenjak dahulu jaringan ulama ini sudah terkoneksi dengan jaringan ulama internasional. Jaringan ulama inilah yang terindikasi melakukan penyebaran Islam (Islamisasi) di Jawa Tengah bagian selatan. Berikut ini wawancaranya:

(-) Sebenarnya dari manakah asal usul jaringan ulama yang ada di selatan Jawa Tengah, atau yang memanjang dari Pacitan sampai Cilacap?

Menurut saya, asal jaringan itu berasal dari 'satu pohon', yakni bermula dari Maulana Malik Ibrahim (hidup pada masa awal Wali Songo sekitar abad 15 M) yang berada di Jawa Timur itu. Jadi, asal usul pemikiran pesantren berasal dari sana. Lalu, kemudian berkembang. Tapi, Islam di Jawa sudah ada sejak abad ke-10, 11 M (sedangkan Islam tiba di Sumatra sudah ada sejak abad ke-8 Masehi).

Tapi, patut diketahui Islam masuk ke Indonesia itu ada dalam dua versi. Pertama, versi Islam yang masuk ke Sumatra, dan satu versi lainnya masuk dari Campa ke Jawa. Inilah yang harus dipertimbangkan bahwa ketika Cina dan Campa masuk ke Jawa, Islam di Jawa mempunyai dua kultur, yakni kultur Arab, Cina, dan Jawa. Tiga kultur ini menjadi satu kesatuan dalam kehidupan masyarakat yang ada di pesisir selatan Jawa itu. Inilah yang harus dipahami dulu karena memang ada perbedaan masyarakat Jawa yang tinggal di pantai utara dan selatan tersebut.

Masyarakat Jawa yang tinggal di utara itu egalitarian dan kosmopolitan. Ini berbeda dengan yang di selatan. Nah, ketika Demak runtuh, masyarakat pun pindah ke pedalaman yang berada di selatan, yakni mendirikan kerajaan di Mataram Islam di Kota Gede. Jadi, ketika berada di sana, kultur Islam yang ada tidak lagi egaliter dan kosmopolitan, tetapi menuju masyarakat yang tertutup dan feodal.

(-) Lalu jaringan ulamanya seperti apa?

Dari jaringan ulama yang tersebar itu adalah jaringan ulama yang berasal dari Giri (Sunan Giri) sebagai kelanjutan dari Maulana Malik Ibrahim tersebut. Dan kalau dibuka berbagai manuskrip,  terlihat bahwa jaringan ini pernah dihancurkan oleh Sunan Amangkurat I dan II. Namun, meski luluh lantak, jaringan ini ternyata tidak padam. Ulama yang berhasil lolos dari pembantaian itu kemudian pergi mengembara atau berkelana ke berbagai wilayah yang ada di selatan Jawa Tengah itu, seperti ke Purwokerto, Banyumas, Kedu Selatan, dan sekitarnya.

Nah, isi jaringan inilah yang tumbuh begitu kental dan sangat liat ketika menyebarkan Islam dan kemudian juga ketika mereka melawan penjajah Belanda. Selain itu, jaringan ini juga punya kecenderungan berani melawan raja atau penguasa yang pro-Belanda. Kalau sudah seperti itu, apa yang dikatakan Peter Carey itu benar bahwa bila semenjak dahulu itu Solo adalah pusat Islam.

Bukan hanya itu, orang-orang Yogyakarta ketika belajar Islam juga ke kota itu. Bahkan, Solo pernah punya raja yang sangat kuat Islamnya (sangat santri), yakni Paku Buwono IV. Raja ini pernah menginginkan menghapus perjanjian antara Paku Buwono III dan Belanda ketika ayahnya itu wafat. Nah, saat hendak membatalkan perjanjian itu, dia memanggil semua ulama yang selama ini berada dalam jaringan keraton. Jumlah ulama keraton ini banyak sekali. Mereka tersebar dan tinggal di sepanjang tepian Bengawan Solo. Namun, sayang usaha ini gagal.

Maka, kalau kita lihat dalam 'Babad Pakepung', di sana ada satu episode di mana para ulama itu harus dihancurkan oleh Hamengku Buwono I, Mangkunegoro I, dan oleh Belanda. Ajaran Islam dan jaringan ulama ditakuti karena dianggap berbahaya dalam konteks politik persaingan kekuasaan kolonial saat itu.

(-). Apakah jaringan ulama itu juga membentuk berbagai pesantren?

Iya, memang begitu dari dulu ulama-ulama itu selalu membentuk pesantren-pesantren. Di sepanjang Sungai Bengawan Solo yang membentang serta bermuara di dekat Surabaya itu berdiri banyak sekali pesantren. Jadi, Sungai Bengawan Solo bisa dikatakan sungainya para santri. Nah, Paku Buwono IV sering belajar di berbagai pesantren tersebut. Misalnya, dia pernah 'nyantri' di Pesantren Bekonang. Sikap santri raja ini ditunjukkan dengan selalu memakai jubah putih ketika berada di keraton.

Namun, usaha yang dilakukan Paku Buwono IV menyatukan Mataram gagal. Dan, dia kemudian diminta Belanda membunuh enam ulama utama keraton. Ketika itu terjadi, dia merasa telah mengalami kegagalan total. Menyadari kekalahan itu, dia kemudian berpikir bahwa satu-satunya jalan agar di kemudian hari bisa mewujudkan cita-citanya, dia menyatakan harus mendirikan pesantren, yakni Pesantren Jamsaren yang letaknya di sebelah selatan Keraton Solo.

Jadi, di sini para raja semenjak dahulu selalu memainkan politik agama sebagai suatu kekuatan. Dan, ini tidak hanya dilakukan Pakubuwono IV, tapi juga pihak raja lain, seperti Mangkunegara II yang hidup sezaman dengannya (awal 1800 M). Dalam buku Catatan Harian Prajurit Wanita Jawa Mangkunegaran yang diterjemahkan Ann Kumar, diceritakan  kekecewaan orang Islam atas tragedi yang dialami Paku Buwono IV. Menurut catatan itu, para santri yang empati dan simpati kepada Raja Pakubuwono IV kemudian mengembara untuk menggalang kekuatan.

Tak hanya terjadi pada saat Paku Buwono IV bertakhta, tekanan terhadap jaringan ulama di selatan Jawa Tengah itu terus terjadi pada masa berikutnya. Contohnya, kemudian munculnya dalam Perang Jawa (1825-1830) tersebut. Juga pada masa Indonesia modern, yakni zaman Orde Baru, kekuatan ulama di Solo juga kembali ditekan. Situasi ini pun pada masa reformasi itu kemudian meledak menjadi kerusuhan.

(-). Kalau begitu, jaringan ulama itu eksis mulai kapan?

Saya kira jaringan ulama di selatan Jawa itu eksis sejak Raja Amangkurat II menghancurkan semua pusat keilmuan yang ada di pesantren. Kesolidan ini makin bertambah setelah raja ini—dan kemudian disusul penggantinya—ingin melakukan proses sekularisasi. Sikap ini jelas berbeda sikap dengan leluhurnya, yakni Sultan Agung, yang justru selalu bersikap baik kepada para ulama. Dunia pesantren—terutama pesantren di Kajoran dan Tembayat—malah kemudian berkembang menjadi pusat kekuatan yang yang selalu berseberangan dengan keraton.

Jadi, sebenarnya kalau dilihat pusat-pusat pesantren di selatan Jawa, sejak zaman dahulu memang punya sejarah radikal. Itulah yang selalu menjadi problem hubungan Islam dan kekuasaan di Jawa (khususnya di Jawa Selatan). Semenjak dahulu kala sudah terfriksi dengan kekerasan atau konflik antara agama dan pihak penguasa.

(-). Kalau begitu, bagaimanakah pesantren kemudian terus bisa eksis meski berkali-kali  dihancurkan oleh penguasa?

Melalui gerakan 'bawah tanah', terutama ketika mereka diberikan hak mengelola wilayah sendiri (tanah perdikan). Dan, di sini sebenarnya semenjak dahulu juga ketika terkait dengan politik kekuasan raja yang secara tersamar sebenarnya selalu membutuhkan kekuatan Islam atau ulama yang ada di berbagai pesantren. Jadi, atas jasa serta posisinya yang strategis, kemudian seorang ulama diberi tanah perdikan untuk memberikan suplai ekonomi kepada pesantrennya.

Namun, ketika kekuasaan itu mentok saat bernegoisasi dengan kekuatan ulama, pesantren itu dijadikan sasaran untuk dihancurkan. Namun di sini, bukan pihak raja yang langsung  meruntuhkannya, melainkan melalui tindakan militer oleh Belanda. Jadi, raja dalam soal ini memakai cara 'nabok nyilih tangan' (memukul dengan meminjam tangan orang lain—Red).

Bila melihat kenyataan ini, kerap ulama itu berusaha mencari situasi ekuilibrium politik agar mereka bisa tetap eksis. Dan, sebagai cara agar para raja dan ulama tetap bisa menjaga hubungan harmonis antarkeduanya,  munculah sosok mediator yang berasal dari para aristrokat (kaum bangsawan) yang pernah belajar di pesantren. Para aristokrat santri inilah yang kemudian menjadi pengurai masalah ketika muncul problem antara raja dan para ulama. Jadi, di sini kadang tercipta hubungan benci tapi rindu, ketika ada persoalan mereka bisa kompak, tapi ketika tak ada soal malah kerap berkonflik.

(-). Bagaimana kemudian cara jaringan ulama terus membesar?

Para santri yang kemudian dianggap pintar dalam agama banyak yang direkrut pihak keraton dan kemudian diberi tanah perdikan untuk mendirikan pesantren. Di sana kemudian jaringan mereka terus menyebar secara luas. Misalnya, ulama Banyumas yang ada di bagian barat dari dulu sangat erat hubungannya dengan Keraton Solo (di samping juga ada juga pengaruh dari ulama Jawa Timur). Pengaruh ulama ini malah sangat mewarnai wajah kekuasaan keraton itu. Dan, jangan lupa pula jaringan penikahan antara putri raja dan putra ulama pesantren yang dari dulu sudah terjadi, semakin mengokohkan serta meluaskan pengaruh jaringan ulama itu.

Jadi, tak hanya para bangsawan yang punya darah biru, para ulama yang ada di wilayah selatan Jawa Tengah pun punya darah yang sama. Harap diketahui, Raja Paku Buwono I ibunya adalah orang pesantren. Begitu juga Raden Mas Mutahar (Pangeran Diponegoro) yang juga punya ibu dari anak seorang ulama berpengaruh. Di sini, selain terjadi kawin-mawin antaranak pesantren, anak kiai dengan santri, para ulama juga melakukan hubungan perkawinan dengan para keluarga raja. Hubungan ulama dan keraton ini terus berkelindan dan seiring berputarnya zaman kemudian memintal jaringan yang kuat.

(-). Lalu kapan hubungan antara pesantren dan keraton terputus?

Yang memutus adalah kekuatan kolonial Belanda, seusai kekalahan Diponegoro dan munculnya era tanam paksa, hubungan itu merenggang. Pada saat yang sama, raja pun sebenarnya tak punya kekuatan politik yang signifikan lagi. Posisinya digantikan oleh para patih dan adipati yang merupakan wakil pemerintah kolonial Belanda.

Nah, ketika para bupati tersebut punya kekuatan politik, antaranak mereka saling melakukan hubungan perkawinan. Setelah era itu, yakni setelah tahun 1830 dan seiring dimulainya masa tanam paksa, tak ada lagi anak raja (bangsawan) yang menikahi anak ulama. Jadi tahun 1830 merupakan titik poin dari keruntuhan relasi antara dua kekuatan, yakni ulama (pesantren) dan raja (keraton). Dan, situasinya masih tegang sampai sekarang.

(-). Kalau begitu, bisa dikatakan peran dan posisi politik bernilai penting dalam penegakan eksistensi jaringan ulama?

Memang demikian. Ini tecermin dari situasi sosial antara tahun 1830-1870 ketika terjadi situasi yang sangat kacau di Jawa. Bahkan, kekacauannya bisa disebut endemik. Selama kurun itu terjadi pemberontakan yang terus-menerus meski skalanya kecil. Dan, yang melakukannya adalah para santri di pesantren. Dan selama kurun itu, pihak yang menjadi mediator tumbuhnya konflik adalah para aristokrat (bangsawan) yang dulu pernah ditugaskan raja untuk belajar di pesantren.

Penyebaran pengaruh pesantren dan kaitannya dengan kekuasaan di Jawa itu bisa terlihat dalam Serat Centini. Di sana tersirat dengan jelas bahwa setelah penghancuran kekuatan ulama pada masa Raja Amangkurat, kekuatan ulama malah makin kuat dan luas, bukan malah melemah dan hilang.

(-). Bagaimana dengan jaringan internasional yang ada di selatan Jawa Tengah itu, sebab di Kebumen ada pesantren yang sudah sangat tua dan punya hubungan jaringan dengan Yaman dan Makassar?

Sejak peristiwa 'Palihan Negari' tahun 1755, posisi Makkah mempunyai intervensi terhadap Islam Indonesia. Bila sebelum itu hubungan Makkah dan Islam di Jawa hanya sekadar relasi, mulai saat itu hubungan keduanya telah masuk secara sangat kuat dalam soal politik. Di situ karena Abd Al-Shammad Al Palimbani sudah mengirimkan surat untuk mengingatkan kepada Paku Buwono III, Hamengku Buwono I, dan Mangkunegoro I  agar ketiga raja ini melakukan 'perang sabil' melawan kekuasaan kolonial Belanda.

Jadi, fakta ini mengonfirmasi bahwa para mufti di Makkah saat itu sudah punya pikiran bahwa Belanda atau bangsa Eropa akan menghancurkan Islam. Dan, mulai saat itu tarekat mengalami proses radikalisasi sebagai sarana melawan kekuatan penjajah. Maka, dalam konteks politik tarekat tak mistik lagi, tapi menjadi sangat rasional.

Maka, bila di pesantren tua di Kebumen dikeahui sejak akhir 1400-an M punya relasi dengan dunia internasional, memang begitu keadaannya. Relasi internasional itu malah sifatnya kini sudah kuat sekali. Dan, jaringan itu terus berhubung satu sama lain, bahkan sampai detik ini ulama tetap terhubung dengan ulama-ulama bukan tak hanya Yaman, melainkan Arab Saudi, Mesir, Sudah, dan Maroko.

(-). Apa risikonya?

Risikonya adalah mudah tersebarnya ideologi transnasional. Dan, ini susah dihentikan karena jalinan jaringannya sudah sangat lama dan mengakar. Maka untuk mencegahnya, haruslah datang dari kaum Muslim sendiri, yakni bagaimana menerapkan ajaran Islam secara kontekstual, bukan tekstual.

Pemerintah pun harus pula memberikan sarana dan perhatiannya. Jangan biarkan pesantren dan kaum Muslim terus hidup merana. Berdayakan mereka dan lepaskanlah dari kepenatan hidup serta kemiskinan. Bantulah pesantren sebaik mungkin.

Harus diakui, sampai kini di wilayah selatan Jawa Tengah itu saya melihat Islam sebagai kekuatan yang tidak pernah diberdayakan oleh negara. Bahkan, Islam kerap dimusuhi seperti pada zaman Soeharto yang lebih memilih mengakomodasi kekuatan militer dan Cina.

Republika edisi Kamis 16 Apr 2020 16:41 WIB

Share:

Bagaimana Covid-19 Membunuh



Dr. Duc Vuong, dokter Ahli Bedah Berat Badan #1 Dunia, Pengarang 13 buku, menjelaskan bagaimana virus Corona atau Covid-19 membunuh musuh-musuhnya. Video yang sudah ditonton hampir 15 juta orang ini dihadirkan dengan teks Bahasa Indonesia, dengan harapan kita pun bisa lebih mudah menikmatinya, dan kita lebih siap menghadapi musuh kita bersama. Silahkan share, agar pengetahuan kita tentang musuh kita bertambah.
Share:

"Pesan dalam Botol" untuk Generasi Setelah Covid-19

Dr. Muhammad Faisal
Youth Researcher. Founder Youth Laboratory Indonesia. Penulis Buku 'Generasi Kembali Ke Akar'

WAHAI anak muda, surat ini adalah sebuah "pesan dalam botol" yang aku tulis untuk dirimu.

Surat ini aku tulis di masa-masa paling genting dari sebuah pandemi global. Pandemi Covid-19 yang memaksa diriku serta jutaan manusia di dunia untuk berdiam diri di rumah (home isolation) dalam jangka waktu yang tidak menentu.

Di tengah berbagai kegelisahan yang aku alami selama minggu-minggu pertama home isolation, aku terpikir tentang dirimu dan generasimu. Generasi yang akan tumbuh besar menjadi remaja serta manusia dewasa yang utuh setelah Covid-19 berlalu.

Patahan sejarah baru Anak muda, aku baru tersadar bahwa pandemi Covid-19 ini akan membentuk sebuah generasi baru. Generasi yang akan memiliki kepribadian serta arketip yang betul-betul berbeda dengan generasi sebelumnya.

Tahukah kau bahwa generasi baru akan muncul setiap kali terjadi sebuah peristiwa besar. Peristiwa besar dapat mewujud dalam bentuk revolusi sosial, politik, maupun ilmu pengetahuan.

William Strauss dan Neil Howe ahli teori generasi menyebutnya dengan critical moment. Covid-19 adalah sebuah critical moment yang bukan hanya berdampak pada kesehatan sebuah bangsa, namun juga mengubah tatanan sosial, ekonomi hingga kepemimpinan politik.

Pada saat surat ini aku tulis, dirimu masih berusia 7 hingga 15 tahun. Sebuah rentang usia yang penting menurut Karl Manheim dalam artikelnya Problems of generations, sebab pada usia itu dirimu menyerap berbagai nilai-nilai dari pengalaman hidup secara bawah sadar.

Prof. Slamet Iman Santoso tokoh pendidikan Indonesia, menyebutnya dengan projective years. Sebab, apa-apa yang engkau telah internalisasi akan terproyeksi dalam sanubarimu selamanya.

Berani untuk berkreasi

Duhai anak muda, pada saat dirimu membaca surat ini, rekam jejakmu sudah penuh dengan berbagai kreasi. Pada usia senja, generasi kami akan terkagum-kagum dengan capaian kreatifmu serta generasimu. Dirimu akan memiliki kemampuan kreasi yang luar biasa karena engkau telah sanggup mengatasi masa-masa kebosanan sepanjang home isolation Covid-19.

Rollo May seorang tokoh psikologi humanistik telah berpesan dalam bukunya The Courage to Create bahwa kebosanan adalah kunci dari kreasi. Berbagai karya monumental yang telah dikenal oleh manusia lahir dari kemampuan melampaui kebosanan yang dialami sang maestro.

Bila kau ingat, pada masa isolasi Covid-19 ruang gerak dan ekspresimu terbatas. Namun, kreativitasmu akan mendominasi berbagai kecenderunganmu yang lain. Kreativitas secara bawah sadar akan menjadi mekanisme pertahanan diri mental (defence mechanism) yang akan menjagamu serta membawa jiwamu menembus ruang fisik yang terisolasi.

Generasiku akan terkejut melihat bagaimana engkau akan merespons kebosanan. Berbagai stereotip yang kami miliki tentang generasimu seperti mudah menyerah, suka berbagai hal instan, serta kerap temperamental, akan lambat laun runtuh.

Penyambung generasi Anak muda, perlu kau ketahui bahwa pada masa sebelum Covid-19 melanda salah satu kegelisahan terbesar yang dimiliki para orang tua generasiku adalah jurang generasi (Generation Gap). Generasimu diprediksi akan memiliki generation gap terbesar.

Margaret Mead seorang tokoh Antropologi terkemuka pernah menulis terkait jurang generasi dalam karyanya Culture and Commitment. Ia menjelaskan bahwa akan muncul satu generasi yang hanya mengambil referensi nilai-nilai pada teman sebaya. Proses itu disebut Margaret Mead sebagai proses cofigurative.

Generasimu adalah generasi cofigurative yang tidak lagi mengambil referensi dari generasiku maupun generasi sebelumku. Kami cemas, membayangkan apa yang akan terjadi dengan bangsa ini bila dirimu dan generasimu tidak lagi menengok ke belakang.

Kami khawatir bahwa revolusi digital telah menarikmu sepenuhnya kepada imaji masa depan. Namun di luar dugaan, masa-masa home isolation telah secara aksidental memaksa generasi kami untuk membangun bonding atau ikatan batin dengan generasimu. Tanpa disadari, dirimu kembali mengambil referensi dari kami lewat waktu bermain bersama, dongeng sebelum tidur, hingga obrolan di meja makan.

Margaret Mead menyebut proses yang kau lalui dengan sebutan prefigurative (mengambil nilai-nilai dari generasi terdahulu). Aku menyebutmu sebagai "generasi kembali ke akar"!.

Mindful dan empati

Di era di mana segala yang dilihat oleh mata dapat diperoleh melalui klik telepon genggam, alih-alih menjadi seorang anak manja engkau akan tumbuh menjadi manusia yang mindful. Dirimu akan senantiasa sadar akan perasaan serta pilihanmu sendiri.

Sebab, krisis Covid-19 akan memaksa orang tua dan dirimu untuk senantiasa mindful. Engkau akan ingat, walau secara samar, bahwa menurunnya tingkat kesadaran karena keinginan-keinginan sepele dapat berakibat buruk bagi seseorang di masa Pandemi Covid-19.

Wahai anak muda, karakter empati akan menjadi salah satu ciri dirimu dan generasimu. Masa krisis Covid-19 dan masa setelahnya akan mengajarkanmu untuk tidak lagi bersikap egosentris.

Kolektivitas dan gotong-royong akan menjadi satu-satunya cara untuk keluar dari krisis tersebut. Dirimu akan menjadi lebih peka terhadap rasa dan pengalaman orang lain.

Generasimu akan berusaha sekuat tenaga agar duka yang kau ingat semasa Covid-19 tidak akan pernah terjadi lagi di masa depan.

Generasi terbaik Anak muda, maafkan kami generasi pendahulumu. Kami telah meninggalkan kondisi alam yang buruk bagi masa depanmu. Kami juga telah menciptakan sistem yang kurang siap terhadap pandemi dan resesi yang akan menyertainya. Namun, dirimu akan tumbuh menjadi generasi terbaik di tengah semua itu.

Pandemi ini seakan-akan menyekolahkan kami kembali ke dalam sebuah sekolah kehidupan. Generasi kami belajar kembali. Akan tetapi aku yakin, dirimu, generasimu, adalah lulusan-lulusan terbaik dari sekolah ini.

Aku memiliki keyakinan kuat bahwa generasimu akan menjadi generasi terbaik sepanjang masa. Sebab, generasimu akan tumbuh besar dengan nilai-nilai universal kemanusiaan.

Pengalaman home isolation membuatmu memiliki sebuah memori kolektif yang mengikat generasimu dalam sebuah kebersamaan imajiner (imagined solidarity).

Dirimu akan memiliki keseimbangan yang didambakan oleh generasi-generasi terdahulu, yaitu kemampuan mengolah teknologi yang diringi dengan kearifan untuk merestorasi lingkungan hidup.

Generasimu akan memiliki visi optimis terhadap masa depan tanpa melupakan warisan generasi terdahulu.

Wahai anak muda, terima kasih telah menemani kami dengan baik sepanjang krisis pandemi ini. Kehadiranmu lah yang membuat kami tangguh melalui rintangan seberat apapun.

Sumber: Kompas.com - 31/03/2020, 07:00 WIB

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Pesan dalam Botol" untuk Generasi Setelah Covid-19", https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/31/070000065/-pesan-dalam-botol-untuk-generasi-setelah-covid-19.

Editor : Heru Margianto
Share:

Dunia Menyempit (Syair Imam al-Syafi'i)

وتضيقُ دُنيانا فنحسَبُ أنَّنا
سنموتُ يأساً أو نَموت نَحيبا

واذا بلُطفِ اللهِ يَهطُلُ فجأةً
يُربي منَ اليَبَسِ الفُتاتِ قلوبا

قل للذي مَلأ التشاؤمُ قلبَه
ومضى يُضيِّقُ حولنا الآفاقا

سرُّ السعادةِ حسنُ ظنك بالذي
خلق الحياةَ وقسَّم الأرزاقا

الامام الشافعي رحمه الله

Dunia Menyempit

Imam al-Syai'i

Dan dunia kita menyempit, kita pun mengira
akan mati putus asa atau mati meratap

Namun dengan kelembutan Tuhan, tiba-tiba turun hujan
menumbuhkan pecahan hati dari kekeringan

Katakan kepada orang yang hatinya dipenuhi rasa pesimis
dan terus mempersempit cakrawala di sekitar kita

Rahasia menuju kebahagiaan adalah dugaan baik Anda pada
Dia yang menciptakan kehidupan dan membagi-bagi rizki.

(Imam al-Syafi'i r.a)

(Terjemahan Ahmadie Thaha)
Share:

Seedr, Seed With Speed, Download With Speed As Well

As someone who collects old programs and a lot of abandonware, it's really hard to be certain what are you downloading when you find it somewhere on the internet. Seedr.cc is a great sandbox like environment to check a bit more what are you planing to download.

Really good download speeds, works consistently well!
I use it to download a lot of old content, that way I don't need to leave my computer on for the ones that take days.

Seedr Preview

Seedr is a cloud downloader that downloads torrents for you and works without any installation of any software. Seedr works rather in your browser, and it is accessible on almost all display sizes, but unusual sizes of monitors can hurt your experience since the responsive elements of Seedr design are not flexible enough to deal with it. You can fix their issue with changing size of your browser window to more casual size which will bring order to elements on the main page. It is important to do it quickly because, upon successful registration, the page welcomes you by a tutorial that suffers most of these resize problem.

Adding torrent is possible via few methods. You can use magnet links or links that point to the .torrent file. And if you have the .torrent file downloaded to your computer, you can upload it to Seedr, to download your content. Currently, you can not use info hashes for starting your download. After adding your torrent file to Seedr queue, the fetching phase will begin. By the nature of internet torrent downloaders, your fetching is done entirely on different IP than yours. Fetching is useful if you worry about your privacy, or you are IP tracked by the third parties like your government or boss because your IP won’t be shown during downloading at all.

First, the request for fetching happens, and then you are provided with a direct link which leads to your file. In legal terms, you are clear of any torrent activity, and you are never part of it. Speed of fetching is a variable, that depends on a few key factors. Thanks to the nature of torrenting, downloads are faster, if others downloaded as well. These others are called seeders, and the act, when they “share” parts of information back and forth, is called seeding. These seeds are the real key factor, that you, as the end user, can influence by downloading files with a high amount of them.
Share: