Mohon Doa utk Guru Kita KH Abdullah Syukri Zarkasyi
Obat Batu dari Dokter Sebelah
Global Politician - Saudi Arabia, Wahhabism and the Spread of Sunni Theofascism
Salah Makan, Siapa Suruh?
Pak Rifai tentang Khazanah Pemikiran Syiah
- Budaya kehidupan intelektual Syiah memang tidak bisa dibantah, bukan hanya dari segi jumlah karya tetapi juga dari sisi bobot. Hal itu konon buah dari sikap mereka terhadap filsafat sebagai sistim dan metode berfikir. Sementara otoritas sunni lama dan masih ditandai dengan sikap 'memusuhi filasafat' (dampak dari 'Tahafatul Falasifah ' Alghazali ?) . Otoritas ulama Syiah bersikap sebaliknya, bahkan mereka tidak segan untuk mewacanakan pandangan2 non Islam (Persia, Urdu, Greko Yunani). Akibatnya ya itu, selama berabad, budaya intelektual sunni tertidur lelap berselimutkan taklid dan khurafat (obscurantisme). Syukurlah masa kegelapan kehidupan intelektual Sunni itu mulai berakhir, ditandai dengan munculnya pemikir2 dengan karya2 pencerahan seperti Tafsir Al Manar (Abduh, Rasyid Ridho dsb) yang disusul oleh karya2 lainnya yang muncul di berbagai negara seiring dengan lepasnya penjajahan Barat. Dalam hubungan ini saya pernah mewacanakan agar kita mulai menoleh pada karya keislaman Turki dan ulama India/Pakistan. Seperti diketahui pemikiran ulama yang berasal darinegara Arab selama ini lebih mendominasi pemahaman agama kita. (Kita sering lupa Imam Bukhari bukan orang Arab). Turki dan India selama berabad memimpin peradaban islam, yang pasti melahirkan karya2 unggul.
- Sewaktu saya mengunjungi perpustakaan masjid nabawi madinah, saya melihat kekayaan koleksi buku2 klasik dari ulama berbagai madzhab, phenomena dari zaman keemasan kehidupan intelektual Muslim. Saya tidak tahu apa disana ada juga hasil karya ulama Syiah, kecuali mungkin 1 kitab Tafsir yang banyak dibaca di pesantren2 kita yang konon ditulis ulama Syiah (Zamaksyari?). Tentang banyaknya kitab2 'Sunni' dalam kepustakaan Syiah, tidak perlu heran, karena posisi kaum syiah sebagai 'sempalan' yang harus berposisi 'menyerang' pemikiran mainstream sunni. Hal ini paling tidak terkesan dari nada-nada tulisan dari buku2 syiah di tanah air kita.( contoh, buku debat Syiah-Sunni, terbitan awal Mizan). Meski demikian sudah pasti saya tidak setuju untuk menyebutkan Syiah bukan Islam, karena itu bertentangan dengan realita dan logika publik dunia. Kerajaan Saudi saja tidak berani melarang orang Syiah berhaji.
- Selepas subuh tadi di masjid dekat rumah saya bicara2 dengan imam rawatib Ustadz Komarudin, dan Asep seorang angg jamaah, guru SMA negeri. Kita menyinggung betapa rendahnya budaya baca di kalangan ustad2/muallim di kampung. Betapa sempit dan dangkalnya pemahaman keagamaan mereka, padahal mereka adalah 'pekerja terdepan' (front runner) keagamaan ummah. Grassroot . Sebagian mereka tidak lagi membaca kitab (juga Al Quran, apalagi hadist) yang sebagian sempat mereka baca waktu dulu belajar di pesantren. Mereka terjebak pada issue2 kecil khilafiyah yang itu ke itu. Yang lebih parah lagi, mereka sangat tertutup untuk berwacana. Setiap upaya dialog buntu dengan stigma wahabi dan sikap ' tapi ini ajaran guru saya'. Titik. Kemandegan serupa terjadi di kalangan warga PUI. Hampir tidak ada majlis bahtsul masail di kalangan PUI. Tidak ada lagi karya2 tulis sesudah puluhan karya KH AHMAD SANUSI & KH ABDUL HALIM. Oleh karena itu, saya berpikir pentingnya 'distinksi' program HIMA PUI dengan PEMUDA PUI. HIMA harus lebih didorong untuk lebih banyak berwacana daripada aksi-aksi sosial kemasyarakatan. Tentu saja perlu terus dirintis dan didorong upaya2 lain untuk menggerakkan budaya intelektual di kalangan warga PUI. Sayang sampai sejauh ini Dewan Pakar dan Syariah masih sedikit bergerak.
Wassalam
Maktabah Syi'ah, Sungguh Karya Luar Biasa
Prediksi Rapat Paripurna DPR Besok
Hitungan Subsidi BBM Ala Kwik Kian Gie
Gunadarma Sediakan Lebih 300 e-Buku Bisa Didownload
Al-Qaradhawi: Haram Hukumnya Berkunjung ke Al-Quds dengan Visa dari Israel
al Qardhawi menegaskan haram hukumnya orang-orang non Palestina
mengunjungi al Quds. Hal tersebut kembali dinyatakan Qardhawi merespon
seruan Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas soal kunjungan orang
Arab dan kaum muslimin ke al Quds. Dia kembali menegaskan fatwanya yang terdahulu, “Adalah hak
orang-orang Palestina untuk masuk ke al Quds sehendak mereka. Namun
bagi orang-orang non Palestina tidak boleh mereka masuk al Quds.” Dia
menjelaskan bahwa larangan kunjungan ini “agar tidak memberi legalitas
kepada penjajah Israel. Karena itu siapa yang melakukan kunjungan
berarti memberi legalitas kepada entitas perampas tanah kaum muslimin
dan terpaksa harus berurusan dengan kedubes Israel untuk mendapatkan
visa (masuk ke al Quds) dari Israel.” Dari Doha, Qatar, Qardhawi menegaskan, “Seyogianya kita harus merasa
bahwa kita dilarang masuk ke al Quds dan sedang berperang untuk al
Quds sampai menjadi milik kita. Kita harus merasa bahwa tanggung jawab
membebaskannya dan mengusir agresor Zionis dari sana adalah tanggung
jawab seluruh umat Islam dan bukan hanya tanggung jawab rakyat
Palestina saja.” Dia menembahkan, “Tidak masuk akal kita meninggalkan
orang-orang Palestina sendirian menghadapi negara Zionis yang memiliki
kemampuan militer besar.” Qardhawi melanjutkan, “Al Quds tidak akan kembali kecuali dengan
perlawanan, jihad dan upaya besar bangsa Arab dan umat Islam,”
terutama dalam menghadapi penjajah Zionis Israel untuk mencegahnya
mendekati masjid al Aqsha. Dia menegaskan bahwa “masjid al Aqsha
adalah garis merah”. Karena itu dia memperingatkan kaum ekstrimis
Zionis dari penyerang masjid al Aqsha dan berupaya memaksakan realitas
dengan berulang-ulang melakukan penyerbuan terhadap al Aqsha. Syaikh Qardhawi mengimbau kepada kaum muslimin di Gaza, Tepi Barat,
Mesir, Yordania, Suriah dan semua yang ada di sekitar masjid al Aqsha
agar membela masjid tersebut dan mempersiapkan diri untuk mengusir
penjajah Israel. (asw/pip/io) Sumber: http://www.al-ikhwan.net/2012/02/5338/al-qaradhawi-haram-hukumnya-berkunjung-...
Kitab Kuno Karya Ulama Indonesia Diklaim Malaysia
Dalam sejumlah situs internet, Malaysia melansir katalog kitab-kitab kuno karya ulama Nusantara sebagai karya ulama Malaysia. Salah satunya disebut Kitab Bahrul Lahud. Padahal, naskah asli kitab tersebut saat ini ada di mushollah pondok pesantren Sumber Anyar, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan bersama 120 kitab kuno lainnya.
"Klaim Malaysia memang tidak terbuka, kita tahu beberapa tahun lalu, tapi kok bisa diklaim, padahal ini naskah aslinya," kata pendiri Lembaga Sejarah dan Kebudayaan Ponpes Sumber Anyar, Habibullah Bahwi, Rabu (9/3), kepada wartawan. Kitab Bahrul Lahud sendiri memiliki tebal 10 halaman, berisi tentang ajaran ilmu tasawuf dan dibuat sekitar tahun 1600 masehi oleh ulama asal jazirah Arab yang menetap di Aceh, Syekh Abdullah Arif.
Selain kitab Bahrul Lahud, koleksi lainnya adalah kitab Tuhfah Almursalah karya ulama India, Burhan Buni, isinya tentang pemikiran Jalauddin Ar-Rumi. Konon karena mengamalkan ajaran Wahdatul Wujud dalam kitab ini, Hamzah Fansuri penyair Aceh, dihukum mati. Kitab ini juga dikenal dengan nama kitab Martabat tujuh.
Bagaimana kitab-kitab kuno ini bisa berada di pondok pesantren Sumber Anyar, Habibullah tidak tahu pasti. Dia menduga buku-buku tersebut dibawa oleh KH Zuber, pendiri pondok pesantren Sumber Anyar. Sampai sekarang daerah asal KH Zuber belum diketahu secara pasti. Mmungkin beliau ini orang Arab yang kemudian menikah dengan orang Madura dan mendirikan pesantren," terangnya. Semula, lanjut dia, kitab-kitab kuno tersebut diduga hanya kitab kuno biasa. Namun setelah dalam beberapa tahun terakhir banyak orang datang untuk meneliti, dia baru tahu kalau kitab-kitab tersebut punya nilai sejarah, bahkan salah satu kitab tersebut merupakan tulisan tangan asli pengarangnya. Salah satu peneliti kitab-kita kuno dari Balai Litbang Kementrian Agama Semarang, Zainul Adzfan mengatakan, kitab-kitab yang ada di pesantren Sumber Anyar sangat menakjubkan. Selain masih asli dan langka, kertas yang digunakan adalah kertas buatan Eropa yang tidak mungkin ada di Indonesia pada tahun pembuatannya. Yyang menarik lagi, kitab-kitab ini ditulis dengan tinta langes, agar rekat, tinta dicampur dengan getah pohon Soekarno," paparnya. Selain itu, Zainul melanjutkan, keberadaan kitab-kitab twersebut menunjukkan bahwa sistem pendidikan kuno di Pamekasan sangat tinggi dan maju. "Ini bukti bahwa budaya belajar dan menulis di Pamekasan sudah ada sejak dahulu," ungkap Zainul ditemani peneliti lainnya Umi Masfiah.
MUSTHOFA BISRI
http://www.tempointeraktif.com/hg/surabaya/2011/03/09/brk,20110309-318777,id.html
Mengembalikan Data di Flash Disk Yang Terkena Virus
Setelah lihat data di flash disk…Data hilang juga!!!
Jangan putus asa…siapa tau datanya belum hilang, cuma sembunyi…
Salah satu efek yang dibuat virus ke dalam Flash yang terinfeksi yaitu menyembunyikan Data yang ada didalam Flash Disk dengan mengubah attribute File atau Folder dalam Flash Dish menjadi Hidden (H) atau SuperHidden (S H).
Untuk mengembalikan Data Flash Disk tersebut, berikut ini caranya:
Buka Command Prompt, caranya dari Start> Run Trus ketik cmd klik OK atau tekan Enter. Setelah muncul jendela command prompt, ketik syntax berikut:
Attrib -a -r -h -s “e:\*.*” /d /s Lalu tekan enter.
Maka semua file atau folder dalam flash disk akan muncul kembali.
Contoh syntax diatas adalah dengan alamat drive flash disknya “e”,
sesuaikan syntax dengan alamat drive flash disk yang terpasang dikomputer anda.
Keterangan:
Attrib = adalah perintah Dos untuk menggubah attribute File atau Folder
a = archive r = read only h =hidden s = system (tanda min artinya reset attribute)
e= adalah drive flash disk anda (jika flash disk drive anda f maka gantilah syntax e tsb diatas dengan f)
*.* = adalah untuk apply ke semua file atau folder
/d = adalah untuk apply attribute dalam directory
/s = adalah untuk apply attribute sub directory
Ok…semoga data flash disk anda belum hilang, hanya sembunyi…
Semoga bermanfaat…
Creating Virtual Hosts on Apache 2.2
This tutorial is intended for use only in a local testing environment on Windows. For a production server, please refer to the official documentation on the Apache site.
Apache 2.2 adopts a modular approach to its main configuration file, httpd.conf. Although you can still put everything in the one big file, it's more efficient to use external files, and include only those that you need to implement. Consequently, it's no longer recommended to define virtual hosts at the bottom of httpd.conf. Instead, you include an external file called httpd-vhosts.conf.
The other change is that Apache 2.2 imposes stricter permissions than previous series, so you need to add an extra command to the virtual hosts definition to prevent getting the following message when accessing a virtual host:
- Forbidden
You don't have permission to access /index.php on this server.
Because of the permissions issue, I recommend creating a top-level folder to hold all virtual hosts in your local development environment. The following instructions assume that all virtual hosts are located in a folder called C:\vhosts.
NOTE: Security restrictions on Windows Vista and Windows 7 prevent you from saving edits to the files referred to in these instructions, even if you are logged in as an administrator. To get around this restriction, open Notepad or your script editor from the Start menu by right-clicking the program name and selecting "Run as Administrator" from the context menu. Then open the relevant files by using File > Open inside the program you have just launched. By default, Notepad shows only files with a .txt file name extension, so you need to select the option to view All Files (*.*) in the Open dialog box. You can then save the files normally after editing them. (If you're using XAMPP, this restriction applies only to steps 2–4.)
-
Create a subfolder inside
C:\vhostsfor each virtual host that you want to add to your Apache server. -
Open
C:\WINDOWS\system32\drivers\etc\hostsin Notepad or a script editor. Look for the following line at the bottom:127.0.0.1 localhost -
On a separate line, enter
127.0.0.1, followed by some space and the name of the virtual host you want to register. For instance, to set up a virtual host calledphpdw, enter the following:127.0.0.1 phpdw -
Add any further virtual hosts, each one on a separate line and pointing to the same IP address (
127.0.0.1). Save thehostsfile, and close it. -
Open
C:\Program Files\Apache Software Foundation\Apache2.2\conf\httpd.confin a text editor. If you're using XAMPP, the file is located atC:\xampp\apache\conf\httpd.conf. Scroll down to the Supplemental configuration section at the end, and locate the following section (around line 460):#Virtual hosts #Include conf/extra/httpd-vhosts.conf -
Remove the # from the second line so the section now looks like this:
#Virtual hosts Include conf/extra/httpd-vhosts.conf -
Save
httpd.confand close it. -
Open
C:\Program Files\Apache Software Foundation\Apache2.2\conf\extra\httpd-vhosts.confin Notepad or a text editor. If you're using XAMPP, the location isC:\xampp\apache\conf\extra\httpd-vhosts.conf. The main section looks like this:Note: In XAMPP, all lines are commented out. You must remove the hash mark from the beginning of the line that contains the following directive:
NameVirtualHost *.80 -
Position your cursor in the blank space shown on line 15 in the preceding screenshot, and insert the following four lines of code:
<Directory C:/vhosts> Order Deny,Allow Allow from all </Directory>This sets the correct permissions for the folder that contains the sites you want to treat as virtual hosts. If you chose a location other than
C:\vhostsas the top-level folder, replace the pathname in the first line. The pathname must use forward slashes in place of the Windows convention of backward slashes. Also surround the pathname in quotes if it contains any spaces.As long as all your virtual hosts are in subfolders of this top-level folder, this directive sets the correct permissions for all of them. However, if they are in different top-level folders, create a separate
<Directory>directive for each one. -
The code shown on lines 27 through 42 in the preceding screenshot shows examples of how to define virtual hosts (in XAMPP, they're commented out). It shows all the commands that can be used, but only
DocumentRootandServerNameare required.When you enable virtual hosting, Apache disables the main server root, so the first definition needs to reproduce the original server root. You then add each new virtual host within a pair of
<VirtualHost>tags, using the location of the site’s web files as the value forDocumentRoot, and the name of the virtual host forServerName. Again, use forward slashes, and if the path contains any spaces, enclose the whole path in quotes. If your server root is located, like mine, atC:\htdocs, and you are addingphpdwas a virtual host inC:\vhosts, change the code shown on lines 27 through 42 so they look like this (in XAMPP, just add these new directives at the bottom of the file, and set theDocumentRootforlocalhosttoC:/xampp/htdocs):<VirtualHost *:80> DocumentRoot c:/htdocs ServerName localhost </VirtualHost> <VirtualHost *:80> DocumentRoot c:/vhosts/phpdw ServerName phpdw
</VirtualHost> -
Save
httpd-vhosts.conf, and restart your computer. All sites in the server root will continue to be accessible throughhttp://localhost/sitename/. Anything in a virtual host will be accessible through a direct address, such ashttp://phpdw/. -
If you still have difficulty accessing your virtual hosts, make sure that you have added
index.phpto theDirectoryIndexdirective inhttpd.conf.