Sesat dan Menyesatkan - Said Aqil Siroj

Jumat,
13 April 2012

Sesat dan Menyesatkan

Oleh Said Aqil Siroj

Ada celotehan yang muncul: mengapa perbedaan—khususnya di ranah internal agama—saat ini terlihat semakin ganas. Mudah bersitegang, tidak pernah tuntas, ujungnya saling menyalahkan. Jangan murka dulu. Keluh kesah itu layak ditanggapi secara bijak. Seeing is believing, fakta yang bicara.

Apanya yang fakta? Kepenasaran kembali meluncur. Bukankah beda pendapat dalam segala hal sah-sah saja?

Dunia ini diciptakan sudah bermacam rupa. Mustahil untuk bisa dipersatukan. Tuhan menciptakan manusia dan seisi alam ini beragam supaya manusia saling memahami dan mengenali satu sama lain (lita’arafu). Penyeragaman terjadi karena ulah manusia yang didasari unsur luaran, semisal kepentingan politik.

Menyejarah

Sulit dielak, fakta keragaman dalam pemahaman internal keagamaan sering kali mencuat. Sungguh, fakta tersebut sudah terjadi jauh-jauh silam.

Dalam sejarah Islam, perbedaan pemikiran bukan sesuatu yang ”najis”. Vonis penajisan hanya ”dibakukan” dalam kelompok yang meyakini kebenaran pendapatnya, lalu menvonis pihak lain sebagai sesat. Baku hantam pun kerap mewarnai perjalanan dalam pencarian kebenaran.

Sejarah juga mencatat, hiruk-pikuk polemik dan kontroversi telah mewarnai pemikiran umat Islam sedari dulu. Sengitnya perdebatan antara Muktazilah, Murjiah, Rafidhah, dan Ahlussunnah, misalnya, telah direkam rinci oleh Abdul Qohir ibn Thahir ibn Muhammad al-Baghdadi dalam kitab al-Farqu bain al-Firaq. Dalam kitab tersebut terpapar dengan jelas kemajemukan pemahaman keagamaan.

Masyhur diketahui, dulu ada sekte khawarij yang mengaku pembela Islam yang paling orisinal. Mereka ini berslogan ’la hukma illa Allah’, tidak ada hukum kecuali yang datang dari Allah. Mereka hendak memancangkan kedaulatan hukum Allah.

Saking militannya untuk membela Islam, mereka jadi kalap dan tega-teganya mengafirkan kubu Ali bin Abu Thalib dan kubu Muawiyah bin Abu Sufyan yang terlibat dalam Perang Shiffin. Dalihnya, kedua kubu tersebut telah keluar dari Islam karena menempuh ”tahkim” (arbitrase) demi mengakhiri perang saudara di antara mereka.

Bagi khawarij, model arbitrase dianggap identik dengan berhukum berdasar aturan manusia, bukan aturan Allah. Karena itu, hukum yang pantas adalah vonis kekufuran dan hukum mati. Tak ayal, pada Ahad pagi, 17 Ramadhan 40 H, Ali bin Abi Thalib dibunuh di Kuffah. Pembunuhnya adalah Abdurrahman Ibnu Muljam. Sebenarnya yang akan dibunuh ada dua orang lagi, yakni Gubernur Syam (Suriah) Muawiyah bin Abu Sofyan dan Gubernur Mesir Amr bin Ash. Kedua pemimpin Islam ini akan dibunuh masing-masing oleh Abdul Mubarok dan Bakr Attamimi.

Saat ini pun muncul jemaah-jemaah Islam yang dengan ”pede”-nya tidak henti memojokkan Muslim lain sebagai ahli bidah, bahkan musyrik. Presiden SBY dan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini pun sudah sering ditunjuk-tunjuk sebagai penguasa dan negeri thoghut karena tidak mau menerapkan hukum syariah. Tuduhan-tuduhan terhadap ulama di luar kelompoknya juga kerap meluncur seperti tuduhan ulama sesat (su’) hanya karena berbeda cara pengambilan dasar pemikiran (istinbath al-hukm). Ada pula doktrin dari suatu jemaah tertentu yang melarang menikahi seseorang yang jarang atau tidak pernah menjalankan shalat berjemaah. Kumpul-kumpul dengan kelompok yang dicap ahli bidah juga dilarang. Ukuran ’jidat hitam” atau beda cara berbusana pun bisa menjadi arena pertikaian.

Sebenarnya, jauh sebelumnya, di negeri kita muncul beberapa kelompok Islam yang kehadirannya menghebohkan sehingga dilarang. Contoh yang terkenal adalah Islam Jamaah, DI/TII, Baha’i, Inkarus Sunnah, Darul Arqam, gerakan Usroh, aliran-aliran tasawuf berpaham wahdatul wujud, tarekat Mufarridiyah, juga gerakan Bantaqiyah (Aceh). Termasuk di dalamnya Ahmadiyah dan Syiah.

Sederet fakta di atas kiranya bisa jadi gambaran betapa sikap saling sesat-menyesatkan terus bergulir selaju derap perkembangan zaman. Porosnya adalah sikap yang mengklaim terhadap kebenaran pendapatnya serta merasa diri sebagai yang paling benar dan selamat (firqah al-najy).

Di balik penyesatan

Kelompok yang divonis sesat atau sempalan selalu dipandang sebagai kelompok yang memisahkan diri dari ortodoksi yang berlaku. Di sini menebal keyakinan bahwa yang sesat adalah sesat; ada fatwanya atau tidak. Dulu, kita ingat saat panas-panasnya ribut antara kalangan Islam modernis dan kalangan tradisionalis, selalu muncul sikap saling tuding sesat-menyesatkan. Dari sudut pandangan ulama tradisional, kaum modernis adalah sesat, sedangkan kaum modernis justru menuduh lawannya menyimpang dari jalan yang lurus.

Kelompok yang dituduh sesat tentu saja juga menganggap dirinya lebih benar daripada lawannya. Biasanya mereka justru merasa lebih yakin akan kebenaran paham atau pendirian mereka. Bahkan, sering kali mereka cenderung eksklusif dan kritis terhadap para ulama yang mapan.

Sepanjang sejarah Islam telah terjadi berbagai pergeseran dalam paham dominan, yang tidak lepas dari situasi politik. Dalam banyak hal, ortodoksi didukung oleh penguasa, sedangkan paham yang tak disetujui dicap sesat. Persoalan ortodoksi atau otoritas keagamaan terlihat sebagai sesuatu yang bisa berubah menurut zaman dan tempat. Ada kadar kontekstual.

Paham Asy’ariyah pada masa Abbasiyah pernah dianggap sesat saat ulama Mu’tazililah yang waktu itu didukung penguasa merupakan golongan yang dominan. Bahwa akhirnya paham Asy’ari-lah yang menang juga tidak lepas dari faktor politik.

Contoh lain di Iran. Syiah berhasil menggantikan Ahlussunnah sebagai paham dominan baru lima abad belakangan. Seperti diketahui, Syiah Itsna ’asyara kini merupakan ortodoksi di Iran. Sampai abad ke-10 H (abad ke-16 M), mayoritas penduduk Iran masih menganut mazhab Syafi’i. Paham ini baru dominan setelah dinasti Safawiyah memproklamasikan Syiah sebagai mazhab resmi negara dan mendatangkan ulama Syi’ah dari Irak Selatan.

Komunikasi

Dalam agama selalu ada yang sifatnya dogma (ma’lumun min al-diny bi al-dharurah). Ini jangan diulik-ulik, sebaliknya harus dihampiri dengan iman. Makanya, ketika muncul aliran-aliran ”aneh” seperti Lia Eden atau Al-Qiyadah yang mengaku-aku ”nabi” dengan menafikan ajaran yang sifatnya ritual, seperti tak wajib shalat lima waktu, sontak disikapi secara tandas. Aliran-aliran tersebut dihukum melenceng dari ajaran Islam yang baku.

Kata ”sesat” sendiri di dalam Al Quran berasal dari akar kata dhalalah, yang dengan segala bentuk derivasinya disebutkan 193 kali. Bermacam-macam sifat dan perilaku manusia oleh Al Quran dinyatakan sebagai orang-orang yang sesat. Jangan lupa, ”penyesatan” juga dibidikkan kepada orang-orang zalim serta orang yang suka hidup mewah, berlebihan, dan korupsi.

Secara teoretis kita bisa meramalkan, semakin dekat ortodoksi kepada kemapanan politik dan ekonomi, semakin kuat kecenderungan radikalisme gerakan kelompok yang diinisiasi sesat. Nah, disinilah perlunya dialog dan komunikasi secara terus-menerus, tidak hanya bereaksi dengan melarang-larang. Terputusnya komunikasi akan mengandung bahaya. Para tokoh agama perlu kembali memberikan perhatian lebih kepada umat dengan memberikan pemahaman keagamaan yang lebih mendalam agar masyarakat merasakan keteduhan dalam beragama serta meminimalkan ketegangan yang merusak harmoni keindonesiaan.

Said Aqil Siroj Ketua Umum PBNU

Posted via email from ahmadie thaha

Share:

E-buk Hakekat Perekonomian Islam

Makasih Mas Zaim Saidi yang telah membagi  gratis e-buk tipisnya di http://jawaradinar.com/wp-content/uploads/2012/04/Hakekat-Perekonomian-dalam-Islam.pdf. Ia mengurai secara ringkas lima pilar muamalat, seakan suara aneh di tengah konsep-konsep ekonomi modern.#more 

Kelima pilar muamalat tersebut adalah:

  1. Suq (Pasar Terbuka)
  2. Mekanisme Perdagangan Terbuka (Kafilah atau Karavan Dagang)
  3. Kontrak-Kontrak Kemitraan dan Pembiayaan, khususnya Syirkat dan Qirad (Mudharabah).
  4. Paguyuban-Paguyuban Produksi Mandiri (Sinf atau Gilda)
  5. Mata Uang Halal, yakni Dinar dan Dirham, serta Fulus
Kelima pilar di atas tidak berdiri sendiri-sendiri tetapi saling terkait membangun suatu tatanan kehidupan yang akan menghasilkan pemerataan kemakmuran. Dengan kata lain, muamalat, yang bertolak belakang dengan kapitalisme atau sistem riba yang menghasilkan pemusataan kemakmuran pada segelintir orang ini, tidak akan dapat disandingkan bersama-sama. Bila kita ingin menegakkan muamalat maka kita harus meninggalkan kapitalisme. Karena itu, upaya islamisasi ekonomi, termasuk islamisasi perbankan dan industri finansial lainya, bukan saja merupakan perbuatan sia-sia, tetapi juga justru menutup kemungkinan penerapan muamalat.

Dinar dan Dirham telah beredar dan bersirkulasi, meski masih agak terbatas, selama 10 tahun terakhir ini. Sirkulasi utamanya melalui Festival Hari Pasaran (FHP) sebagai rintisan kembalinya pasar (suq). Untukmemperluas sirkulasi, dan memudahkan masyarakat berbelanja dengan Dinar dan Dirham, maka Suq ini menjadi penting dan harus diprioritaskan. Diharapkan umat Islam mendukung wakaf tersebut.

Posted via email from ahmadie thaha

Share:

Kyai Syukri Sudah Sadarkan Diri

Alhamdulillah, berkat doa semua, Pak Kyai Syukri dikabarkan sudah sadarkan diri, dan kini dirawat di RS Sudono Madiun utk pemulihan kesehatan yang tentu membutuhkan waktu. Beliau terserang gangguan penyakit jantung Ahad lalu, kemudian mengalami stroke dan tak sadarkan diri. Sekali lagi kami mohon doa yang tulus dari rekan-rekan semua bagi kesembuhan beliau. Al-Faaaatihah.

Posted via email from ahmadie thaha

Share:

NursiStudies - JNU Conference Bulletin Online

Pak Rifai: Berikut ini  proceeding seminar tentang Badiuzzaman Nursi yang diselenggarakan di India baru-baru ini. Saya terkesan bukan saja mengenai perhatian kalangan intelektual India atas pemikiran2 Said Nursi, tapi juga bagaimana kegiatan itu diorganisir. Saya berharap satu kali seminar serupa bisa diselenggarakan oleh perguruan tinggi Islam di Indoensia. You can download the Bulletin for the conference which was held in JNU, in New Delhi: http://www.iikv.org/images/tools/bulten/jnu.pdf 

Posted via email from ahmadie thaha

Share:

Global Politician - Saudi Arabia, Wahhabism and the Spread of Sunni Theofascism

Barusan sy dapat kiriman email lagi dapi Pak Rifai (Ahmad Rifai), Wakil Ketua Majelis Syura PUI: "Mau tahu mengapa Said Agil Siraj /NU begitu kwatirkan Wahabisme, yang sering dikatakannya harus dikutuk sebagaimana terorisme? Tulisan di situs ini bisa bantu menjelaskan. Saya tidak tahu, apakah sang kiyai merujuk situs yang susunan 'orang kafir' ini: http://www.globalpolitician.com/23661-saudi. Isu bahaya Wahabi, salafi, radikalisme, terorisme akan tetap sexy, karena bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan objekan. Wallahu a'lam."

Posted via email from ahmadie thaha

Share:

Salah Makan, Siapa Suruh?

Sy sdg batuk2 nih, kayaknya ada yg salah dengan makanan dlm bbrp hari ini, dan terpaksa sy santap karena memang sdh lapar. Sy telusuri, siapa yg menyiapkan makanan sy? Rupanya ada istri, anak2 perempuan, juga menantu. Terus muncul pikiran buruk sy: "Jangan2 banyak suami atau anggota keluarganya mati karena salah istri menyiapkan makanan buat suami2 mereka." Tp sy juga mikir, "Lha kok dimakan juga? Kok gk ngasih tahu ke mereka ttg makanan yg sehat buat keluarga," dst. Jd, salah sy juga. Ampuni kami ya Allah. Wallahu a'lam.

Posted via email from ahmadie thaha

Share:

Pak Rifai tentang Khazanah Pemikiran Syiah

Berikut tanggapan Wakil Ketua Majelis Syura PUI H. Ahmad Rifai terhadap posting saya sebelum ini mengenai luar biasa kayanya khazanah pemikiran Syiah. Jika mengambil pemikiran mereka terlalu beresiko, mungkin memang lebih aman kalau "mewacanakan agar kita mulai menoleh pada karya keislaman Turki dan ulama India/Pakistan." 
  1. Budaya kehidupan intelektual Syiah memang tidak bisa dibantah, bukan hanya dari segi jumlah karya tetapi juga dari sisi bobot. Hal itu konon buah dari sikap mereka terhadap filsafat sebagai sistim dan metode berfikir. Sementara otoritas sunni lama dan masih ditandai dengan sikap 'memusuhi filasafat' (dampak dari 'Tahafatul Falasifah ' Alghazali ?) . Otoritas ulama Syiah bersikap sebaliknya, bahkan mereka tidak segan untuk mewacanakan pandangan2 non Islam (Persia, Urdu, Greko Yunani). Akibatnya ya itu, selama berabad, budaya intelektual sunni tertidur lelap berselimutkan taklid dan khurafat (obscurantisme). Syukurlah masa kegelapan kehidupan intelektual Sunni itu mulai berakhir, ditandai dengan munculnya pemikir2 dengan karya2 pencerahan seperti Tafsir Al Manar (Abduh, Rasyid Ridho dsb) yang disusul oleh karya2 lainnya yang muncul di berbagai negara seiring dengan lepasnya penjajahan Barat. Dalam hubungan ini saya pernah mewacanakan agar kita mulai menoleh pada karya keislaman Turki dan ulama India/Pakistan. Seperti diketahui pemikiran ulama yang berasal darinegara Arab selama ini lebih mendominasi pemahaman agama kita. (Kita sering lupa Imam Bukhari bukan orang Arab). Turki dan India selama berabad memimpin peradaban islam, yang pasti melahirkan karya2 unggul.
  2. Sewaktu saya mengunjungi perpustakaan masjid nabawi madinah, saya melihat kekayaan koleksi buku2 klasik dari ulama berbagai madzhab, phenomena dari zaman keemasan kehidupan intelektual Muslim. Saya tidak tahu apa disana ada juga hasil karya ulama Syiah, kecuali mungkin 1 kitab Tafsir yang banyak dibaca di pesantren2 kita yang konon ditulis ulama Syiah (Zamaksyari?). Tentang banyaknya kitab2 'Sunni' dalam kepustakaan Syiah, tidak perlu heran, karena posisi kaum syiah sebagai 'sempalan' yang harus berposisi 'menyerang' pemikiran mainstream sunni. Hal ini paling tidak terkesan dari nada-nada tulisan dari buku2 syiah di tanah air kita.( contoh, buku debat Syiah-Sunni, terbitan awal Mizan). Meski demikian sudah pasti saya tidak setuju untuk menyebutkan Syiah bukan Islam, karena itu bertentangan dengan realita dan logika publik dunia. Kerajaan Saudi saja tidak berani melarang orang Syiah berhaji.
  3. Selepas subuh tadi di masjid dekat rumah saya bicara2 dengan imam rawatib Ustadz Komarudin, dan Asep seorang angg jamaah, guru SMA negeri. Kita menyinggung betapa rendahnya budaya baca di kalangan ustad2/muallim di kampung. Betapa sempit dan dangkalnya pemahaman keagamaan mereka, padahal mereka adalah 'pekerja terdepan' (front runner) keagamaan ummah. Grassroot . Sebagian mereka tidak lagi membaca kitab (juga Al Quran, apalagi hadist) yang sebagian sempat mereka baca waktu dulu belajar di pesantren. Mereka terjebak pada issue2 kecil khilafiyah yang itu ke itu. Yang lebih parah lagi, mereka sangat tertutup untuk berwacana. Setiap upaya dialog buntu dengan stigma wahabi dan sikap ' tapi ini ajaran guru saya'. Titik. Kemandegan serupa terjadi di kalangan warga PUI. Hampir tidak ada majlis bahtsul masail di kalangan PUI. Tidak ada lagi karya2 tulis sesudah puluhan karya KH AHMAD SANUSI & KH ABDUL HALIM. Oleh karena itu, saya berpikir pentingnya 'distinksi' program HIMA PUI dengan PEMUDA PUI. HIMA harus lebih didorong untuk lebih banyak berwacana daripada aksi-aksi sosial kemasyarakatan. Tentu saja perlu terus dirintis dan didorong upaya2 lain untuk menggerakkan budaya intelektual di kalangan warga PUI. Sayang sampai sejauh ini Dewan Pakar dan Syariah masih sedikit bergerak.
Wallahu a'lam.
Wassalam

Posted via email from ahmadie thaha

Share:

Maktabah Syi'ah, Sungguh Karya Luar Biasa

Selama ini kita mengenal Maktabah Syamilah yang konon digagas oleh kalangan Sunni. Rupanya, kalangan Syiah juga telah memiliki Maktabah Syi'ah (al-Maktabah al-Syi'iyyah) yang dapat diakses di Websitenya, http://www.shiaonlinelibrary.com. Saya lihat, sedikitnya terdapat 4.714 kitab yang telah tersedia online. Kitab-kitab itu sebagian besar memang karya para ulama Syiah. Namun, saya juga lihat tidak sedikit kitab karya ulama Sunni dicantumkan di sana. Itu artinya, kalangan Syiah pun mengakui karya-karya mereka sebagai rujukan yang memang tak mungkin diacuhkan begitu saja secara akademis.

Kitab-kitab mereka begitu kaya, seperti halnya kitab-kitab karya ulama Sunni. Kita bisa baca dan download kitab-kitab karya mereka, disamping karya kalangan Sunni yang banyak menjadi rujukan di kalangan ulama kita, seperti kitab Fathul Wahhab karya Zakariya al-Anshari, kitab a-Umm karya Imam Syafii, kitab Tamhid karya Ibn Abdil Barr, dst. Yang mencengangkan, terdapat satu kitab Biharul Anwar karya Allamah al-Majalisi yang jumlah jilidnya mencapai 110 jilid. Luar biasa. Berikut ini beberapa kitab yang sempat saya catat dari Website Maktabah Syiah, termasuk jumlah jilidnya bila ada.

Dengan melihat judul-judul kitab karya mereka serta kandungan pembahasannya, sekali lagi kita bisa buktikan, Syiah itu masih masuk bagian dari Islam. Sangat konyol kalau ada orang mengatakan bahwa Syiah itu bukan bagian dari Islam. Bahkan tak sedikit yang menyebutnya sesat. Naudzubillah. Sesama muslim kita mestinya tak usah saling menyesatkan. Lihatlah karya mereka, sungguh luar biasa. Kita ini masih jauh dari mereka, dan boleh jadi bukan apa-apa ketimbang mereka.

(110 jilid) بحار الأنوار  - العلامة المجلسي
(26 jilid) جامع أحاديث الشيعة - السيد البروجردي
(25 jilid) عمدة القاري -العيني
(24 jilid) التمهيد - ابن عبد البر
(20 jilid) تفسير الميزان - السيد الطباطبائي
(20 jilid) روضة الطالبين - محي ى الدين النووي المجموع
(18 jilid) شرح مسلم- النووي
(13 jilid) فتح الباري -ابن حجر
(12 jilid) المغني - عبد الله بن قدامه
(11 jilid) الغدير- الشيخ الأميني
(11 jilid)  المصنف - عبد الرزاق الصنعاني
(10 jilid) السنن الكبرى- البيهقي
(10 jilid) تحفة الأحوذي - المباركفوري
(8 jilid) كتاب الأم - الإمام الشافعي
(8 jilid) روضة الطالبين - محيى الدين النووي
(4 jilid) مغني المحتاج - محمد بن أحمد الشربيني
(4 jilid) فتح المعين - المليباري الهندي
(4 jilid) إعانة الطالبين - البكري الدمياطي
(9 jilid) نيل الأوطار -الشوكاني
(8 jilid) الكافي - الشيخ الكليني
(6 jilid) فيض القدير شرح الجامع الصغير -المناوي
فتح الوهاب - زكريا الأنصاري
كتاب الخمس  ,التقية - الشيخ الأنصاري
اقتصادنا,  شرح العروة الوثقى - السيد محمد باقر الصدر
كتاب الاجتهاد والتقليد - السيد الخوئي
المتعة النكاح المنقطع -  مرتضى الموسوي الأردبيلي
تعليقة على العروة الوثقى -  السيد علي السيستاني
زواج المتعة - السيد جعفر مرتضى
زواج المتعة في كتب أهل السنة - الدكتور السيد علاء القزويني
واقع التقية عند المذاهب والفرق الإسلامية من غير الشيعة الإمامية -ثامر هاشم حبيب العميدي
الرسالة - الإمام الشافعي
المراجعات -السيد شرف الدين

Posted via email from ahmadie thaha

Share:

Prediksi Rapat Paripurna DPR Besok

DPR sepertinya ingin selamat dan cuci tangan, meski hanya pada tingkat retorika. Itulah intinya. Golkar maupun PKS, misalnya, tegas menyatakan bahwa apakah BBM naik ataukah tidak, itu "urusan pemerintah." Karena itu, jika BBM tetap dinaikkan, maka pemerintahlah yang bertanggung-jawab sepenuhnya. Begitu pula sikap PDI-P, meskipun partai ini lebih tegas menuntut, lewat demo segala, agar pemerintah tidak menaikkan harga BBM. Jadi, bila harga BBM nanti tetap naik, maka kesalahan dan tanggungjawab sepenuhnya diserahkan ke pemerintah. Begitulah maunya orang Senayan.

Maka saya memprediksi, dalam rapat paripurna DPR Jum'at besok, secara formal tak akan ada keputusan dari Senayan tentang kenaikan BBM. Pihak DPR sepakat, yang akan diputuskan hanyalah tentang besaran subsidi di APBN-P 2012. Ada dua paket opsi untuk itu, yakni: opsi pertama (mengamini usulan yang diajukan pemerintah), adalah subsidi BBM senilai Rp 137 triliun, subsidi listrik senilai Rp 65 triliun, dan cadangan risiko fiskal sebesar Rp 23 triliun; opsi kedua adalah subsidi BBM senilai Rp 178 triliun, subsidi listrik senilai Rp 65 triliun, dan cadangan risiko fiskal sebesar Rp 23 triliun. Perbedaan kedua opsi terletak di besaran subsidi untuk BBM sebesar Rp 41 triliun. Opsi pertama disepakati Golkar, PKS dkk, sementara opsi kedua diajukan PDI-P dkk yang menginginkan subsidi BBM lebih besar Rp 41 triliun dari nilai subsidi yang diajukan pemerintah. 

Namun, jika ditilik konsekuensi masing-masing opsi, jelas bahwa sikap Golkar maupun PKS seperti ambigu, karena dengan pilihan opsi itu, otomatis pemerintah harus menaikkan harga BBM. Di situlah letak "permainan politik" Golkar dan PKS. Mereka sama-sama ingin kelihatan memihak rakyat, tetapi sesungguhnya memihak pemerintah. Hanya saja, saya lihat PKS lebih cerdik dari Golkar, sehingga PKS masih punya alasan untuk tak dianggap memihak pemerintah sepenuhnya. Caranya, seperti kita tahu, PKS mengajukan lima opsi menyangkut kenaikan BBM tersebut ke pemerintah. Diiringi ancaman hendak keluar dari koalisi jika pemerintah menaikkan BBM, sikap PKS seakan-akan mengamini sikap PDI-P.

Begitulah politik. Wallahu a'lam.

Posted via email from ahmadie thaha

Share:

Hitungan Subsidi BBM Ala Kwik Kian Gie

Dengan melonjaknya harga minyak mentah di pasaran dunia sampai di atas US$ 100 per barrel, DPR dan Pemerintah menyepakati mengubah pos subsidi BBM dengan jumlah Rp. 153 trilyun. Artinya Pemerintah sudah mendapat persetujuan DPR mengeluarkan uang tunai sebesar Rp. 153 trilyun tersebut untuk dipakai sebagai subsidi dari kerugian Pertamina qq. Pemerintah. Jadi akan ada uang yang dikeluarkan?
Share:

Gunadarma Sediakan Lebih 300 e-Buku Bisa Didownload

Bagi Anda pengelola lembaga pendidikan, boleh jadi yang dilakukan Universitas Gunadarma ini Anda bisa tiru. Di website Universitas ini, tersedia hampir seluruh buku dan modul2 kuliah dalam bentuk e-book (masih berformat pdf, belum epub).

Sekitar 300-an ebook sekelas perguruan tinggi telah tersedia dan bisa di-download di situs elearning Univ Gunadarma di sini:

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/

Kapan perguruan Anda bisa melakukan hal yang sama, sehingga siswa/mahasiswa dapat menghemat anggaran biaya pembelian buku. Dengan tersedia secara online, buku2 pegangan mata kuliah dapat mereka dimiliki tanpa membelinya. Alias gratis. Kenapa tidak Anda tiru tradisi yang baik (sunnah hasanah) ini, agar Anda mendapatkan pahala lebih banyak?

Posted via email from ahmadiethaha

Share:

Al-Qaradhawi: Haram Hukumnya Berkunjung ke Al-Quds dengan Visa dari Israel

al-ikhwan.net – Doha, Ketua Persatuan Ulama Islam Dunia, Syaikh Yusuf
al Qardhawi menegaskan haram hukumnya orang-orang non Palestina
mengunjungi al Quds. Hal tersebut kembali dinyatakan Qardhawi merespon
seruan Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas soal kunjungan orang
Arab dan kaum muslimin ke al Quds.

Dia kembali menegaskan fatwanya yang terdahulu, “Adalah hak
orang-orang Palestina untuk masuk ke al Quds sehendak mereka. Namun
bagi orang-orang non Palestina tidak boleh mereka masuk al Quds.” Dia
menjelaskan bahwa larangan kunjungan ini “agar tidak memberi legalitas
kepada penjajah Israel. Karena itu siapa yang melakukan kunjungan
berarti memberi legalitas kepada entitas perampas tanah kaum muslimin
dan terpaksa harus berurusan dengan kedubes Israel untuk mendapatkan
visa (masuk ke al Quds) dari Israel.”

Dari Doha, Qatar, Qardhawi menegaskan, “Seyogianya kita harus merasa
bahwa kita dilarang masuk ke al Quds dan sedang berperang untuk al
Quds sampai menjadi milik kita. Kita harus merasa bahwa tanggung jawab
membebaskannya dan mengusir agresor Zionis dari sana adalah tanggung
jawab seluruh umat Islam dan bukan hanya tanggung jawab rakyat
Palestina saja.” Dia menembahkan, “Tidak masuk akal kita meninggalkan
orang-orang Palestina sendirian menghadapi negara Zionis yang memiliki
kemampuan militer besar.”

Qardhawi melanjutkan, “Al Quds tidak akan kembali kecuali dengan
perlawanan, jihad dan upaya besar bangsa Arab dan umat Islam,”
terutama dalam menghadapi penjajah Zionis Israel untuk mencegahnya
mendekati masjid al Aqsha. Dia menegaskan bahwa “masjid al Aqsha
adalah garis merah”. Karena itu dia memperingatkan kaum ekstrimis
Zionis dari penyerang masjid al Aqsha dan berupaya memaksakan realitas
dengan berulang-ulang melakukan penyerbuan terhadap al Aqsha.

Syaikh Qardhawi mengimbau kepada kaum muslimin di Gaza, Tepi Barat,
Mesir, Yordania, Suriah dan semua yang ada di sekitar masjid al Aqsha
agar membela masjid tersebut dan mempersiapkan diri untuk mengusir
penjajah Israel.  (asw/pip/io)

Sumber: http://www.al-ikhwan.net/2012/02/5338/al-qaradhawi-haram-hukumnya-berkunjung-...

Posted via email from ahmadiethaha

Share: