Sepuluh Mitos tentang Israel

Oleh Ahmadie Thaha
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, Manglayang Sukabumi & Gadog Bogor

Jarang sarjana Israel bersikap objektif tentang konflik Israel-Palestina. Di antara yang sedikit itu adalah Ilan Pappé. Dia dipuji oleh John Pilger sebagai "sejarawan Israel yang paling berani, paling berprinsip, dan paling tajam." New Statesman mensejajarkan Pappé dengan Edward Said, penulis paling fasih tentang sejarah Palestina. Dia "menulis tentang sisi Palestina dengan pemahaman dan empati yang nyata," tulis Avi Shlaim di Guardian.

Salah satu karya utama Ilan Pappé , "Ten Myths About Israel," disebut-sebut sebagai panduan sangat berguna bagi orang-orang yang baru mengenal perjuangan pembebasan Palestina. Tapi, buku ini sebetulnya lebih dari itu. Seperti banyak karya Pappé lainnya, buku ini mengupas sisi-sisi culas yang dipropagandakan Israel secara besar-besaran di media massa.

"Ten Myths about Israel" tersedia secara gratis sebagai buku elektronik di situs web Verso (https://www.versobooks.com/en-gb/products/370-ten-myths-about-israel). Dalam buku revolusioner ini, yang diterbitkan pada ulang tahun ke-50 Pendudukan, Ilan Pappé sebagai sejarawan Israel yang tegas dan radikal memeriksa gagasan-gagasan yang paling kontroversial tentang asal-usul dan identitas negara Israel kontemporer.

"Sepuluh mitos" yang dieksplorasi Pappé — yang diulang terus-menerus di media, diperkuat oleh militer, dan diterima tanpa pertanyaan oleh banyak pemerintah di seluruh dunia — memperkuat status quo regional. Dia mengeksplor klaim bahwa Palestina adalah tanah kosong pada saat Deklarasi Balfour, serta membedah pembentukan Zionisme dan peran pentingnya dalam beberapa dekade awal pembangunan negara.

Kata Rod Such dari Electronic Intifada, buku "Ten Myths about Israel" itu juga "berusaha menjelaskan secara sederhana bagaimana mitos dan propaganda mendasar Israel yang memperpetuasi penindasan rakyat Palestina." Disimpulkannya, buku ini mutlak harus dibaca oleh mereka yang tertarik memahami hakikat Israel berbasikan fakta-fakta sejarahnya yang tak terbantahkan.

Dalam menulis karyanya yang luar biasa ini, Ilan Pappé tanpa rasa takut memeriksa gagasan-gagasan kontroversial seputar asal-usul dan identitas negara Israel kontemporer, sambil memeriksa secara kritis masa lalu, saat ini, dan masa depan. Dalam eksplorasinya yang mendalam ini, Pappé secara cermat membongkar sepuluh mitos yang tertanam dalam kesadaran kolektif dan telah lama memperpetuasi serta membentuk pemahaman kita tentang konflik Israel-Palestina.

Fokus pada kesalahan masa lalu, Pappé menemukan enam pemahaman keliru yang masih bercokol dan bertahan di benak banyak orang. Mitos pertama berpendapat bahwa Palestina adalah tanah yang kosong, klaim yang secara sistematis dibantahnya dengan menyelami catatan sejarah. Mitos kedua menyebut bahwa orang Yahudi adalah kaum tanpa tanah, suatu gagasan yang Pappé tanggapi dengan perspektif nuansa yang menantang kebijakan umum.

Mitos ketiga menanamkan anggapan bahwa Zionisme identik dengan Yudaisme, sebuah kesalahpahaman yang Pappé telaah untuk mengungkap dasar-dasar anggapan yang salah tadi. Dia juga menyangkal pernyataan bahwa Zionisme bukanlah kolonialisme. Eksplorasi Pappé meneliti pembentukan Zionisme dan peran instrumentalnya dalam fase awal pembangunan negara Israel yang didasari kolonialisme alias penjajahan.

Mitos kelima mengklaim bahwa penduduk Palestina dengan sukarela meninggalkan tanah air mereka pada tahun 1948, sebuah narasi yang Pappé tolak dengan mengambil informasi dari catatan sejarah dan kesaksian nyata dari lapangan. Mitos keenam berkisar pada keyakinan bahwa Perang Juni 1967 merupakan konflik yang terpaksa terjadi "tanpa pilihan," suatu asumsi yang dia teliti secara ketat.

Pappé kemudian memfokuskan pada kesalahan-kesalahan saat ini. Untuk ini, dia menyoroti tiga mitos umum yang terus membentuk wacana tentang Israel, yang dikembangkan melalui seluruh jalur intelektual dan media massa dukungan Israel. Mitos nomor tujuh menggalang anggapan bahwa Israel merupakan satu-satunya negara demokrasi di Timur Tengah, klaim yang dia telaah melalui lensa politik dan kebijakan kontemporer.

Mitos kedelapan berkaitan dengan Perjanjian Oslo dan mitos-mitos seputar momen krusial ini dalam konteks dan proses perdamaian Israel-Palestina. Mitos nomor sembilan menyangkut kontroversi dan kesalahpahaman berkelanjutan seputar Gaza dan dinamika yang memicu konflik di sana. Buku ini juga membongkar kegagalan Perjanjian Camp David dan alasan resmi di balik serangan terhadap Gaza.

Selanjutnya, dalam melihat ke depan, Pappé menyajikan mitos terakhir, yang kesepuluh. Dia menantang kepercayaan yang sangat diterima secara luas bahwa solusi dua negara merupakan satu-satunya jalur yang layak. Untuk tantangannya ini, dia mengemukan argumen bahwa solusi dua negara ke depannya mungkin sudah tidak bisa lagi dijadikan opsi praktis. Pappé menjelaskan mengapa solusi dua negara tidak lagi layak.

"Ten Myths about Israel" merupakan sumber inovatif dan tak dapat diabaikan bagi siapa pun yang ingin lebih memahami kompleksitas konflik Israel-Palestina. Narasinya telah mengungkap kebenaran tersembunyi di balik mitos-mitos dusta tentang Israel yang disebar secara masif dan terencana. Narasi yang merajalela ini telah membentuk wacana publik, citra media, bahkan kebijakan internasional, hingga memperpetuasi status quo regional.
 
Melalui karyanya, Pappé dengan keras menyeru kita untuk mengevaluasi kembali keyakinan yang mapan, dan mengajak kita membayangkan kemungkinan perdamaian yang adil dan berkelanjutan di wilayah tersebut. Berikut saya akan mengurai kesepuluh mitos tentang Israel tersebut, dengan mengutip tulisan Ilan Pappé yang dimuat sebagai salah satu judul di buku "Gaza in Crisis" karya Noam Chomsky dan Ilan Pappé.

Ilan Pappé menulis: Setiap upaya untuk menyelesaikan konflik harus menyentuh inti konflik itu sendiri; inti tersebut, lebih sering daripada tidak, terletak pada sejarahnya.
 
Sejarah yang didistorsi atau dimanipulasi dapat menjelaskan dengan baik kegagalan untuk mengakhiri konflik, sedangkan pandangan yang jujur dan komprehensif terhadap masa lalu dapat memfasilitasi perdamaian dan solusi yang berkelanjutan. Sejarah yang didistorsi sebenarnya dapat lebih merugikan, seperti yang ditunjukkan oleh studi kasus Israel dan Palestina: dapat melindungi penindasan, kolonisasi, dan pendudukan.

Penerimaan luas di dunia terhadap narasi Zionis didasarkan pada serangkaian mitos yang pada akhirnya meragukan hak moral, perilaku etis, dan peluang perdamaian yang adil bagi Palestina. Alasannya, mitos ini diterima sebagai kebenaran oleh media utama di Barat, dan oleh elit politik di sana. Begitu diterima sebagai kebenaran, mitos ini menjadi pembenaran begitu banyak bukan untuk tindakan Israel, tetapi untuk kecenderungan Barat untuk campur tangan.

Berikut sepuluh mitos umum yang telah memberikan kekebalan dan perisai bagi impunitas dan kekejaman di tanah Palestina.

Mitos 1: Palestina adalah tanah tanpa penduduk, menunggu orang yang tanpa tanah

Mitos pertama adalah bahwa Palestina merupakan tanah tanpa penduduk yang menunggu orang yang tanpa tanah. Bagian pertama dari mitos ini berhasil dibuktikan palsu oleh sejumlah sejarawan yang sangat baik dan menunjukkan bahwa sebelum kedatangan para Zionis awal, Palestina sudah memiliki masyarakat yang berkembang, sebagian besar bersifat pedesaan tetapi dengan pusat perkotaan yang sangat hidup.
 
Inilah masyarakat seperti semua masyarakat Arab lain di sekitarnya, di bawah pemerintahan Ottoman dan bagian dari kekaisaran Ottoman, namun tetap menjadi masyarakat yang menyaksikan munculnya gerakan nasional yang sedang berkembang. Gerakan ini mungkin akan menjadikan Palestina sebuah negara bangsa seperti Irak atau Suriah, jika bukan karena kedatangan Zionisme di pantainya.

Bagian kedua dari mitos ini juga meragukan, tetapi kurang signifikan. Beberapa sarjana, termasuk orang Israel, meragukan hubungan genetik antara para pemukim Zionis dan orang Yahudi yang tinggal pada zaman Romawi di Palestina atau yang diasingkan pada saat itu. Ini sebenarnya kurang penting, karena banyak gerakan nasional menciptakan secara artifisial kisah kelahiran mereka dan menanamkannya dalam masa lalu yang jauh.
 
Namun, yang penting adalah apa yang akan Anda lakukan berdasar narasi ini. Apakah Anda membenarkan kolonisasi, pengusiran, dan pembunuhan atas nama kisah itu, ataukah Anda mencari perdamaian dan rekonsiliasi?
Tidak masalah apakah narasi itu benar atau tidak. Yang penting adalah bahwa itu keji jika, atas namanya, Anda melakukan kolonisasi, merampas hak milik, dan dalam beberapa kasus bahkan melakukan tindakan genosida terhadap orang pribumi dan asli.

Mitos 2: Palestina melakukan tindakan teror terhadap pemukim Yahudi sebelum terbentuknya Israel

Mitos kedua yang dibangun adalah bahwa Palestina, sejak awal, melakukan kampanye teror anti-Semitik ketika para pemukim pertama tiba dan hingga terbentuknya negara Israel. Padahal, seperti yang terlihat dari catatan harian para Zionis awal, mereka diterima dengan baik oleh masyarakat Palestina, yang memberi mereka tempat tinggal dan dalam banyak kasus mengajari mereka cara bercocok tanam.

Baru ketika jelas bahwa para pemukim ini tidak datang untuk tinggal bersama atau bersama populasi asli, melainkan menggantikannya, resistensi Palestina dimulai. Dan ketika perlawanan itu dimulai, yang terjadi tidak ada yang berbeda dari perjuangan anti-kolonialis lainnya.

Mitos 3: Mitos seputar pembentukan Israel

Mitos 3a: Palestina harus disalahkan atas apa yang terjadi pada mereka karena menolak Rencana Pemisahan PBB tahun 1947.
Mitos 3b: Palestina meninggalkan rumah mereka secara sukarela atau sebagai hasil dari ajakan oleh pemimpin mereka.
Mitos 3c: Israel adalah David yang melawan Goliath Arab.
Mitos 3d: Setelah perang penciptaan negaranya, Israel mengulurkan tangan damai kepada Palestina dan tetangga Arabnya.

Mitos ketiga terdiri dari serangkaian dongeng Israel tentang perang tahun 1948. Ada empat mitos mendasar yang terkait dengan tahun ini. Pertama, bahwa Palestina harus disalahkan atas apa yang terjadi pada mereka karena menolak rencana pemisahan PBB pada November 1947. Tuduhan ini mengabaikan sifat kolonial gerakan Zionis.
 
Kemungkinan besar, misalnya, bahwa Aljazair tidak akan menerima pemisahan Aljazair oleh para pemukim Prancis — dan penolakan semacam itu tidak akan dianggap tidak masuk akal atau irasional. Yang jelas secara moral adalah bahwa penolakan seperti itu, dalam kasus negara Arab lainnya, seharusnya tidak membenarkan pembersihan etnis terhadap Palestina sebagai "hukuman" atas penolakan rencana perdamaian PBB yang dirancang tanpa konsultasi dengan mereka.

Juga sama absurdnya adalah mitos bahwa Palestina meninggalkan rumah mereka secara sukarela atau sebagai hasil dari ajakan pemimpin mereka dan pemimpin negara Arab tetangga, yang konon untuk memberi jalan bagi pasukan Arab yang akan datang untuk membebaskan Palestina.
 
Tidak ada seruan seperti itu — mitos ini diciptakan oleh menteri luar negeri Israel pada awal 1950-an. Sejarawan Israel kemudian mengubah mitos tersebut dan mengklaim bahwa Palestina meninggalkan, atau melarikan diri, karena perang. Namun, yang sebenarnya adalah bahwa separuh dari mereka yang menjadi pengungsi pada tahun 1948 telah diusir sebelum perang dimulai, pada 15 Mei 1948.

Dua mitos lain yang terkait dengan tahun 1948 adalah bahwa Israel adalah David yang melawan Goliath Arab dan bahwa Israel, setelah perang, mengulurkan tangan damai, namun sia-sia, karena Palestina dan Arab menolak tawaran tersebut.
 
Penelitian pertama membuktikan bahwa Palestina tidak memiliki kekuatan militer sama sekali. Mengenai poin kedua, negara-negara Arab hanya mengirimkan kontingen pasukan yang relatif kecil ke Palestina, dan mereka lebih kecil ukurannya serta jauh kurang dilengkapi dan kurang terlatih dibandingkan dengan pasukan Yahudi.
 
Selain itu, yang sangat penting, adalah fakta bahwa pasukan ini dikirim ke Palestina setelah 15 Mei 1948, ketika Israel sudah diumumkan sebagai negara, sebagai respons terhadap operasi pembersihan etnis yang dimulai pasukan Zionis pada Februari 1948.

Mitos tentang tangan damai yang diulurkan, dokumen-dokumen menunjukkan dengan jelas kepemimpinan Israel yang intransigennya menolak membuka negosiasi mengenai masa depan Palestina setelah Mandat atau mempertimbangkan kembalinya orang-orang yang telah diusir atau melarikan diri.
 
Sementara pemerintah Arab dan pemimpin Palestina bersedia berpartisipasi dalam inisiatif perdamaian PBB yang baru dan lebih masuk akal pada tahun 1948, Israel malah membunuh perantara perdamaian PBB, Count Bernadotte, dan menolak saran Komisi Konsiliasi Palestina (PCC), sebuah badan PBB, untuk membuka kembali negosiasi.
 
Pandangan yang intransigen ini akan terus berlanjut; Avi Shlaim telah menunjukkan dalam bukunya "The Iron Wall" bahwa, bertentangan dengan mitos bahwa Palestina tidak pernah melewatkan kesempatan untuk melewatkan perdamaian, sebenarnya Israel terus menolak tawaran perdamaian yang ada di atas meja.

Mitos 4: Israel adalah negara demokratis yang baik sebelum tahun 1967

Mitos keempat adalah bahwa Israel merupakan negara demokratis yang baik, yang mencari perdamaian dengan tetangganya dan menawarkan kesetaraan kepada semua warganya, sebelum perang Juni 1967. Inilah mitos yang sayangnya disebarkan oleh beberapa sarjana Palestina dan pro-Palestina terkemuka — tetapi tidak memiliki dasar sejarah dalam fakta.

Seperlima dari warga negara Israel tunduk pada pemerintahan militer yang kejam berdasarkan peraturan darurat Inggris yang keras yang menyangkal hak asasi manusia dan hak sipil dasar bagi mereka. Dalam periode ini, lebih dari lima puluh warga Palestina tewas oleh pasukan keamanan Israel.
 
Pada saat yang sama, Israel mengejar kebijakan agresif terhadap tetangga Arabnya, menyerang mereka karena membiarkan para pengungsi mencoba kembali atau setidaknya mengambil kembali properti dan usaha ternak mereka yang hilang. Bersekongkol dengan Inggris Raya dan Prancis, Israel juga mencoba menggulingkan rezim sah Gamal Abdel Nasser di Mesir.

Mitos 5: Perjuangan Palestina tidak memiliki tujuan selain teror

Mitos kelima adalah bahwa perjuangan Palestina hanya sebatas terorisme dan tidak lebih dari itu. Padalah, perjuangan yang dipimpin oleh PLO merupakan perjuangan pembebasan melawan proyek kolonialis. Entah bagaimana dunia kesulitan memberikan legitimasi pada perjuangan anti-kolonialis ketika sebagian besar yang tertindas adalah orang-orang Muslim dan penindasnya adalah Yahudi.

Mitos 6: Israel terpaksa menduduki Tepi Barat dan Gaza pada tahun 1967, dan harus memegang wilayah-wilayah ini sampai yang lain siap untuk perdamaian

Mitos keenam adalah bahwa perang tahun 1967 memaksa Israel untuk menduduki Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memegangnya sampai dunia Arab, atau Palestina, bersedia membuat perdamaian dengan negara Yahudi.
Elit politik dan militer Israel menganggap perang tahun 1948 sebagai peluang yang terlewatkan: momen sejarah di mana Israel bisa saja menduduki seluruh Palestina historis (dari sungai Yordan hingga Laut Tengah).
 
Alasan satu-satunya yang tidak mereka lakukan adalah karena adanya kesepakatan diam-diam dengan Kerajaan Hashemite Yordania: sebagai imbalan atas partisipasi terbatas Yordania dalam upaya perang Arab umum, Yordania akan diizinkan menggabungkan Tepi Barat. Setelah tahun 1948, elit Israel mencari kesempatan dan merencanakan dengan cermat sejak pertengahan 1960-an bagaimana melaksanakan rencana untuk mendapatkannya semua.
Ada beberapa titik sejarah di mana Israel hampir melakukannya — tapi menahan diri pada saat terakhir. Kejadian paling terkenal adalah pada tahun 1958 dan 1960. 

Pada tahun 1958, pemimpin negara dan perdana menteri pertamanya, David Ben-Gurion, membatalkan rencana pada saat terakhir karena takut akan reaksi internasional. Pada tahun 1960, Ben-Gurion menahan diri karena kekhawatirannya terhadap demografi — berpikir bahwa Israel tidak dapat mengakomodasi jumlah Palestina yang begitu besar.
 
Peluang terbaik muncul pada tahun 1967 — terlepas dari mitos Israel yang tidak ingin perang melawan Yordania tetapi terpaksa bereaksi terhadap agresi Yordania. Tidak ada alasan bagi Israel untuk tetap berada di Tepi Barat, jika ini hanyalah ronde ketegangan lain antara kedua negara. Penggabungan Tepi Barat dan Jalur Gaza ke dalam Israel telah menjadi rencana Israel sejak tahun 1948 dan diimplementasikan pada tahun 1967.

Mitos 7: Israel menduduki Tepi Barat dan Gaza dengan niat baik, tapi terpaksa merespons kekerasan Palestina

Mitos ketujuh adalah bahwa Israel bermaksud melakukan pendudukan yang baik hati tetapi terpaksa mengambil sikap yang lebih keras karena kekerasan Palestina. Israel sejak awal menganggap setiap keinginan untuk mengakhiri pendudukan — baik diungkapkan secara damai maupun melalui perjuangan — sebagai tindakan terorisme. Sejak awal, Israel bereaksi secara brutal dengan menghukum penduduk secara kolektif setiap kali terjadi perlawanan.

Palestina diberikan dua pilihan: 1) menerima hidup di penjara terbuka Israel dan menikmati otonomi terbatas serta hak untuk bekerja sebagai buruh yang dibayar rendah di Israel, tanpa hak-hak pekerja, atau 2) melawan, bahkan dengan cara ringan, dan mengambil risiko hidup di penjara keamanan maksimum, tunduk pada instrumen hukuman kolektif, termasuk penghancuran rumah, penangkapan tanpa pengadilan, pengusiran, dan dalam kasus yang parah, pembunuhan.

Perubahan realitas utama yang harus diterima oleh Palestina — atau menghadapi hukuman — adalah bahwa Israel akan sepihak memutuskan bagian mana dari Tepi Barat dan Jalur Gaza yang akan diambil selamanya dan dianeksasi ke Israel. Saat ini, lebih dari setengah Tepi Barat telah dianeksasi dengan berbagai cara, sementara Jalur Gaza dibiarkan sendiri, akhirnya, sebagai wilayah yang diinginkan Israel untuk diperintah secara langsung.
Bagian dari mitos ini terkait dengan klaim tentang Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) — klaim yang dipromosikan oleh Zionis liberal di AS dan Israel serta dibagikan dengan kekuatan politik lainnya di Israel.
 
Tuduhan ini adalah bahwa PLO — di dalam dan di luar Palestina — melakukan perang teror hanya untuk sensasi teror semata. Sayangnya, demonisasi ini masih sangat umum di Barat dan semakin menonjol setelah tahun 2001 dengan upaya untuk menyamakan Islam, terorisme, dan Palestina.
 
PLO, sebenarnya, diakui sebagai satu-satunya perwakilan sah rakyat Palestina oleh lebih banyak negara daripada yang mengakui Israel. Penting dicatat bahwa demonisasi ini berlanjut bahkan setelah Perjanjian Oslo tahun 1993, melalui mana Israel seharusnya mengakui PLO sebagai mitra yang sah.
 
Bahkan Otoritas Palestina masih digambarkan oleh Israel sebagai kelompok yang mendukung teror. Jenis demonisasi terburuk ini, yang meyakinkan dunia Barat untuk melakukan boikot politik, ditujukan kepada Hamas. Sementara masyarakat sipil internasional terus mempertanyakan karakterisasi tersebut, media utama dan politisi masih terjerat oleh fitnah ini.

Mitos 8: Perjanjian Oslo mencerminkan keinginan kedua belah pihak untuk mencapai solusi

Mitos kedelapan adalah bahwa Perjanjian Oslo merupakan proses perdamaian yang lahir dari keinginan kedua belah pihak untuk mencapai solusi. Padahal, ide pemartisian Palestina sudah menjadi konsep Zionis pada tahun 1930-an; Palestina menolak untuk menyerahkannya hingga akhir 1980-an.
 
Sementara itu, bagian tanah yang bersedia ditawarkan Israel kepada Palestina turun dari setengah luas tanah menjadi 15 persennya. Keinginan untuk menyebut 15 persen ini sebagai negara tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa proses Oslo, dirancang semata oleh Israel, hanya menawarkan Bantustan yang terfragmentasi bagi Palestina dan tidak ada "hak kembali" atau solusi lain bagi jutaan pengungsi Palestina.

Oslo merupakan hasil dari matriks peristiwa yang melemahkan PLO dan pemimpinnya, Yasser Arafat, sedemikian rupa sehingga, meskipun menentang saran terbaik teman-temannya, dia memasuki proses ini dengan harapan mendapatkan kemerdekaan setidaknya di sebagian Palestina. Hasil akhirnya adalah hancurnya Palestina dan rakyat Palestina hampir secara keseluruhan.

Mitos 9: Intifada Kedua merupakan serangan teror massal yang diatur oleh Arafat

Mitos kesembilan adalah bahwa Intifada Kedua merupakan serangan teroris mega yang disponsori dan, dengan suatu cara, direncanakan oleh Arafat. Yang benar adalah, itu tak lain demonstrasi massa akibat ketidakpuasan terhadap pengkhianatan Oslo, yang diperparah oleh tindakan provokatif Ariel Sharon dan yang sejenisnya di sekitar tempat-tempat suci Islam di Palestina.
 
Protes tanpa kekerasan ini ditindas dengan kejam oleh Israel, yang menyebabkan respons Palestina yang lebih putus asa: penggunaan bom bunuh diri yang lebih luas sebagai upaya terakhir melawan kekuatan militer Israel yang sangat besar. Terdapat bukti dari koresponden surat kabar Israel yang menunjukkan bahwa liputannya pada tahap awal Intifada — sebagai gerakan tanpa kekerasan yang ditindas dengan kekerasan — ditaruh di lemari oleh editor agar sesuai dengan narasi pemerintah.

Narasi bahwa Palestina menggagalkan proses perdamaian dengan melakukan kekerasan, dan dengan demikian "menegaskan" apa yang selalu dikatakan oleh Israel tentang mereka — yaitu, bahwa mereka tidak melewatkan kesempatan untuk melewatkan kesempatan perdamaian dan bahwa "tidak ada yang bisa diajak bicara di pihak Palestina" — merupakan narasi yang sangat sinistis.
Pemerintah dan militer Israel mencoba dengan segala kekuatan yang ada untuk memberlakukan versi mereka sendiri mengenai pertemuan Oslo — yang dimaksudkan untuk mempertahankan pendudukan selamanya, tetapi dengan persetujuan Palestina — dan bahkan Arafat yang lemah tidak bisa menerimanya. Dia dan begitu banyak pemimpin lain yang bisa membawa Palestina menuju rekonsiliasi pasti akan diincar oleh Israel. Sebagian besar dari mereka, bahkan mungkin Arafat juga, diincar akan dibunuh.

Mitos 10: Solusi di Israel dan Palestina hampir tercapai

Mitos kesepuluh dan terakhir adalah bahwa solusi di Israel dan Palestina hampir tercapai: "solusi dua negara" akan terwujud dan konflik hampir berakhir.
 
Pandangan tersebut tidak ada di bumi ini; mungkin itu ada di suatu tempat di alam semesta. Realitas di lapangan, yaitu kolonisasi massif dan aneksasi langsung sebagian besar Tepi Barat ke Israel, akan membuat negara yang dihasilkan menjadi Bantustan yang menyedihkan tanpa kedaulatan yang memadai.
 
Bahkan lebih buruk, Palestina akan didefinisikan hanya sebagai 20 persen dari apa yang sebenarnya, dan Palestina akan didefinisikan hanya sebagai mereka yang tinggal di Tepi Barat. (Secara signifikan, Jalur Gaza sepertinya dikecualikan dari pembicaraan tentang negara masa depan, dan banyak bagian dari Yerusalem juga tidak termasuk dalam negara yang diharapkan).
"Solusi dua negara," seperti disebutkan di atas, adalah ciptaan Israel yang dimaksudkan untuk memungkinkannya menyelesaikan masalah tanpa memasukkan penduduk yang tinggal di sana. 

Karena itu, diusulkan bahwa sebagian dari Tepi Barat akan otonom dan mungkin bahkan menjadi "negara" sebagai imbalan bagi Palestina untuk menyerahkan semua harapannya: harapan untuk kembalinya para pengungsi, hak yang sama bagi Palestina di Israel, nasib Yerusalem, dan kehidupan normal sebagai manusia di tanah air mereka.

Kritik terhadap mitos ini dianggap sebagai antisemitisme. Namun, sebenarnya, kebijakan dan mitos inilah yang menjadi alasan utama mengapa antisemitisme masih ada. Israel bersikeras bahwa apa yang dilakukannya, itu dilakukan atas nama Yudaisme. Karena itu, ia menciptakan asosiasi antara kolonisasi Zionis dan agama Yahudi dalam pikiran orang-orang yang bengkok. Asosiasi ini seharusnya ditolak atas nama Yudaisme.

Sebenarnya, demi nilai-nilai universal, hak semua orang yang tinggal di Palestina (atau yang diusir) semestinya dihormati. Hak bagi semua orang di Israel dan Palestina untuk hidup sebagai setara seharusnya menjadi prioritas utama semua upaya perdamaian dan rekonsiliasi di wilayah tersebut.
Share:

Arogansi dan Keangkuhan Israel

Membaca artikel di MEMO (Middle East Monitor) berikut ini, hati saya begitu geram. Pendapat jurnalis Israel Gideon Leavy, bahwa akar dari segala perang di Palestina tak lain arogansi dan keangkuhan Israel, membuktikan kebenaran banyak ayat suci al-Qur'an maupun Alkitab yang menampilkan watak alamiah bangsa Yahudi Israel yang telah mereka miliki sejak zaman purba.

Di dalam Alkitab disebutkan: "Keangkuhan Israel menjadi saksi terhadap diri sendiri. Israel dan Efraim akan tersandung oleh kesalahan mereka sendiri, Yehuda pun akan tersandung bersama-sama mereka." (Hosea 5:5)

Watak Yahudi seperti itu didasari keangkuhan dan egoisitas komunal karena merasa "dianak-emaskan" oleh Allah. "Wahai Bani Israel, ingatlah nikmat Allah yang telah Aku berikan kepada kalian. Sungguh Aku telah memberikan keutamaan kepada kalian melebihi bangsa lain di muka bumi" (QS Al-Baqarah [2]: 47). 

Padahal keutamaan yang dimaksud dalam ayat itu bersyarat: jika mereka mau beriman kepada Allah, mematuhi syariat, dan mensyukuri nikmat-Nya. Dan semua ini dilanggar oleh mereka.

Tulisan yang saya sertakan berikut ini, sekali lagi, mencerminkan pandangan jurnalis Israel, Gideon Levy, yang paham betul Israel. Dia menyampaikan bahwa di balik semua yang terjadi, akar dari permasalahan di Timur Tengah bermula dari sikap angkuh Israel. Mereka percaya bahwa mereka dapat melakukan apa pun tanpa harus membayar konsekuensi atas tindakan mereka.

Israel dianggap terus melakukan tindakan-tindakan di wilayah Palestina, seperti penangkapan, pembunuhan, penindasan, dan pencurian. Hal ini terjadi tanpa ragu, bahkan mereka mengunjungi tempat-tempat suci di tanah Palestina. 

Levy menyebutkan bahwa Israel berpikir dapat mengontrol Gaza dengan memberi sedikit insentif, seperti izin kerja bagi beberapa ribu warga Palestina di Israel, namun ini hanya seperti setetes air di samudra. Kondisi hidup sebagian besar penduduk Gaza sangat sulit, dengan mayoritas dari mereka hidup di bawah garis kemiskinan.

Levy juga mengomentari upaya perdamaian yang dilakukan Israel dengan negara-negara Arab seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Levy menganggap bahwa tindakan ini mengesampingkan perhatian terhadap nasib rakyat Palestina.

Pada akhirnya, Levy menegaskan bahwa kebanggaan Israel akan membawa mereka kepada harga yang mahal. Serangan terhadap pemukiman Israel di sekitar Jalur Gaza membuat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan negaranya dalam keadaan perang dan mengancam akan menghukum warga Gaza. 

Meskipun demikian, Levy percaya bahwa ancaman ini tidak akan memberikan solusi. Israel selama ini telah menghukum Gaza sejak 1948 tanpa henti, dan ancaman untuk "menghancurkan Gaza" hanya membuktikan bahwa Israel belum belajar dari pengalaman masa lalu. Arrogansi tetap ada, bahkan setelah Israel kembali membayar harga yang mahal.

~ Ahmadie Thaha
Pengasuh Ma'had Tadabbur al-Qur'an.


Middle East Monitor

Israel expert: Are we allowed to be arrogant without paying a price?

October 9, 2023 at 12:17 pm

Israeli journalist Gideon Levy said in an article in Haaretz newspaper that Israel's arrogance is behind everything that has happened, adding that the Israelis thought they were allowed to do anything and that they wouldn't pay a price or be punished for it.

Levy went on to say: "We continue without uncertainty. We arrest, kill, mistreat, rob, protect settlers committing massacres, visit Joseph's Tomb, Othniel's Tomb, and Joshua's altar, all in the Palestinian territories, and of course we visit the "Temple Mount" [Al-Aqsa Mosque], with more than 5,000 Jews visiting it on Sukkot. We shoot innocent people, gouge out their eyes and smash their faces, deport them, confiscate their lands, rob them, kidnap them from their beds, and carry out ethnic cleansing. We also continue the unreasonable siege. And everything will be fine."

"We build a huge barrier around the Gaza Strip; its underground structure cost 3 billion shekels ($766 million) and we will be safe. We rely on the geniuses of Unit 8200 and the Shin Bet agents who know everything and will warn us at the right time. We move half the army from the Gaza enclave to the Huwara enclave just to secure the settlers' Sukkot celebrations, and everything will be fine, whether in Huwara or Erez. Then it turns out that a primitive, ancient bulldozer can break through even the most complex and expensive obstacles in the world with relative ease, when there is a great incentive to do so."

He added that Israel believed it could control Gaza by "throwing it crumbs here and there, in the form of a few thousand work permits in Israel", but this was "just a drop in the ocean, and is always conditional on good behaviour". A large majority of the 2.3 million Palestinians in the Gaza Strip live in poverty. According to UN figures from 2021, "81.5 per cent of individuals in Gaza, 71 per cent of whom are Palestine refugees, live below the national poverty line. Sixty-four percent are food insecure."

Commenting on recent remarks by Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu and efforts by his coalition to sign peace deals with Arab states, Levy said: "We make peace with Saudi Arabia and the UAE, and our hearts forget the Palestinians, so that they can be wiped out."

We thought we could arrogantly continue to reject any attempt at a political solution, simply because it was not convenient for us to engage in it, and everything would definitely continue like this forever. Once again, this proved not to be the case.

"Palestinians in Gaza have decided they are willing to pay anything for a glimpse of freedom."

As a result of the Palestinian resistance's attack on Israeli towns around the besieged Gaza Strip, Netanyahu has declared that Israel is at war and has threatened to punish Palestinians in Gaza. Levy, however, says this will achieve little. "However, Israel has been punishing Gaza since 1948, without stopping for a moment. 75 years of abuse, and the worst awaits it now. Threats to "flatten Gaza" prove only one thing: that we have learned nothing. Arrogance is here to stay, even after Israel has once again paid a heavy price."
Share:

Isti'adzah Sebelum Membaca al-Qur'an

Pagi ini, di atas kereta komuter Jakarta-Bogor, seperti biasa saya menyempatkan diri membaca al-Qur'an. Saya menyelesaikan tepat satu juz alias 20 halaman, menuntaskan jadwal baca harian satu juz. Kebetulan suasana kereta cukup enak, penumpang jarang yang berdiri, meski kursi penuh.

Bacaan al-Quran saya antara lain tiba di ayat 98 surat An-Nahl (16). Bunyinya:
فَإِذَا قَرَأْتَ ٱلْقُرْءَانَ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ 

Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur'an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. (Qs. An-Nahl [16]: 98)

Saya pikir, saya perlu membuat catatan sekilas soal yang disinggung ayat ini, untuk mengingatkan diri saya sendiri tentang pentingnya membaca isti'adzah. Sebab, ketika dalam kondisi terburu-buru, kadang saya lupa membacanya. Padahal, Allah Swt telah menegaskan kepada Nab Muhammad ﷺ agar beliau lebih dahulu membaca doa istiadzah sebelum mulai membaca al-Qur'an. 

Isti'adzah, yang berarti mencari perlindungan, adalah praktik mencari perlindungan dan lindungan kepada Allah dari pengaruh setan sebelum terlibat dengan Al-Qur'an. Ayat dalam Surah An-Nahl (16): 98 memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk mencari perlindungan ini, memberikan contoh bagi semua umat Muslim.

Praktik ini penting karena membantu kita untuk menjaga koneksi yang fokus dan tulus dengan Al-Qur'an. Isti'adzah perlu kita baca untuk memastikan kita bahwa Allah akan melindungi kita dari gangguan dan pengaruh negatif setan. 

Bahkan Nabi Muhammad ﷺ pun diperintahkan untuk mencari perlindungan. Ini menegaskan pentingnya isti'adzah bagi semua orang. Apalagi saat kita membaca al-Qur'an, ketika kita berusaha terhubung dengan setiap kata dan firman Allah.

Al-Qur'an memberikan petunjuk untuk kehidupan yang abadi. Maka, upaya kita mencari perlindungan dari godaan setan yang terkutuk, sebelum terlibat dengannya, membantu kita memahami makna sejati ayat-ayat suci dan tetap berada di jalan yang benar.

Sumber-sumber tafsir menekankan bahwa setan sangat gigih dalam mencoba mengalihkan orang-orang yang beriman dari pemahaman Al-Qur'an. Dengan mencari perlindungan kepada Allah, kita memperkuat hati dan pikiran kita menghadapi kemungkinan gangguan ini, sehingga memungkinkan kita mendekati al-Qur'an dengan penuh dedikasi, refleksi, dan iman.

Instruksi untuk mencari perlindungan dari setan saat membaca al-Qur'an bukanlah wajib, sebagaimana konsensus para ulama. Namun, itu sangat dianjurkan (nawafil). Hal ini dilakukan terutama sebelum memulai membaca al-Qur'an, untuk mencegah hambatan dalam memahami kitab suci dan fokus pada bacaannya. 

Ayat ini sekaligus berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya memulai keterlibatan apa pun dengan Al-Qur'an dengan niat yang tulus ikhlas. Betapa pun kuat fisik kita, kita tetap memohon perlindungan kepada Allah dengan mengucapkan: 
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Kita baca itu dengan merenungkan maknanya, berserah diri dengan sepenuh hati kepada Allah untuk mengalihkan perhatian setan yang hendak mengganggu kita. Kita terus berupaya mengenyahkan obsesi dan pikiran buruk setan, serta berusaha mencari cara paling ampuh untuk mengusirnya, yaitu dengan menghiasi jiwa dan pikiran kita dengan keimanan dan ketawakkalan.

~ Ahmadie Thaha
Pengasuh Ma'had Tadabbur al-Qur'an
Share:

Jon Olav Fosse, Pemenang Nobel Sastra 2023

"Kehilangan arah, itulah pengalaman manusia yang paling kuat, yang membawa kita lebih mendekati pengalaman mendalam yang mirip dengan keilahian." 

Demikian kutipan tak langsung dari tulisan Jon Fosse, sastrawan yang baru saja memenangkan hadiah Nobel Sastra 2023, penghargaan tertinggi dan diakui dunia.

"Dalam kehidupan sehari-hari yang dikenali dengan cepat, kita menemukan momen-momen kritis dari ketidakpastian," tulis Fosse berikutnya. Dia merekam berbagai kehidupan sehari-hari, dan sering mendapatkan momen kritis, seperti bunuh diri.

Di salah satu karyanya, yang pertama, 'Raudt, svart' (1983), dia memang membahas tema bunuh diri. Di sini, dia dengan bahasa sederhana menggambarkan sifat pemberontakan dan sikap emosionalnya. 

Fosse menciptakan suasana yang menghadirkan perasaan kehilangan arah manusia dan bagaimana hal ini memberikan akses pada pengalaman mendalam yang mendekati pengalaman keilahian. Agama seolah hadir menjadi tema.

Di karya bukunya yang kedua, 'Sterk vind' (2021), dia menunjukkan peningkatan penggunaan gambar dan simbolisme dalam lakon-lakonnya. Ini menunjukkan kekayaan bahasanya.

Sejak penerbitan koleksi puisi pertamanya pada tahun 1986, Fosse selalu memanfaatkan bahasa lirik sebagai sumber daya penting dalam penulisannya. "Bahasa lirik selalu menjadi sumber daya penting bagi saya dalam menciptakan karya-karya saya," akunya.

Jon Fosse, penulis Norwegia, diganjar penghargaan Nobel Sastra pada 2023, "atas karyanya yang inovatif dalam bentuk sandiwara dan prosa yang memberikan suara pada hal-hal yang tak terucapkan." Dia mampu mengungkap bagian-bagian terdalam pengalaman manusia.

Lahir pada 1959 di Haugesund, pesisir barat Norwegia, Fosse memiliki sejumlah karya yang ditulis dalam bahasa Norwegia Nynorsk. Karya-karyanya mencakup berbagai genre seperti sandiwara, novel, puisi, esai, buku anak-anak, dan terjemahan.

Bukti kesuksesannya di panggung internasional terwujud pada sandiwara produksi Paris, 'Nokon kjem til å komme' (1996) pada 1999. Dalam bahasa Inggris, judul karya ini menjadi 'Someone Is Going to Come' (2002).

Karya ini membawa tema antisipasi takut dan cemburu yang melumpuhkan. Di sini dia menunjukkan keunikannya melalui bahasa yang sederhana namun mendalam untuk menggambarkan emosi manusia yang paling kuat.

Fosse menggabungkan akar lokal yang kuat dengan teknik seni modern, mirip dengan penulis pendahulunya dalam sastra Norwegia Nynorsk, Tarjei Vesaas. Dalam karya-karya Fosse, seperti dalam 'Stengd gitar' (1985), ia menyajikan momen kritis dari ketidakpastian dengan cara yang menggugah. 

Gaya penulisan "minimalisme Fosse" yang ditonjolkan dalam karya-karyanya, membawa nuansa kehidupan sehari-hari yang dikenali dengan cepat oleh pembaca.

Penghargaan Nobel Sastra 2023 untuk Jon Fosse mengakui kontribusinya yang luar biasa dalam membentuk sastra kontemporer dengan penyederhanaan bahasa yang kuat, mendalam, dan mencerminkan kehangatan, humor, dan kerentanannya terhadap pengalaman manusia yang tegas. 

Karya-karyanya menavigasi batas-batas bahasa dan memperkaya diksi dasarnya, menjadikannya inovator besar dalam teater modern. Penghargaan Nobel baginya seolah hendak membangkitkan kembali seni teater yang kini tergusur oleh pentas-pentas digital.

~ Ahmadie Thaha
Pengasuh Ma'had Tadabbur al-Qur'an
Share:

Akar Teologis Kapitalisme by Yudi Latif

Saudaraku, keyakinan dan konsepsi keagamaan sangat besar pengaruhnya pada perkembangan kehidupan. Bahkan pada kebangkitan ekonomi modern yg tampak sbg fenomena sekular, spt kapitalisme, pasar bebas dan negara kesejahteraan, sesungguhnya bisa dilacak akar-akar teologisnya.

Hal itu tersimpul dlm buku "Religion and the Rise of Capitalism", karya Benjamin M. Friedman (2021). Bertentangan dgn pandangan sejarah konvensional yg menganggap ekonomi sbg produk sekuler pada masa pencerahan, Friedman menunjukkan bahwa agama memberikan pengaruh yg kuat sejak awal. Friedman memperjelas bagaimana transisi mendasar dlm pemikiran ttg apa yg sekarang kita sebut ekonomi, yg dimulai pada abad ke-18, scr kuat dibentuk oleh garis-garis pemikiran keagamaan yg saling bertentangan dlm dunia Protestan berbahasa Inggris.

Hingga abad ke-18, dunia pemikiran di Eropa Barat sangat kuat dipengaruhi lingkungan epistemik Protestantisme, terlebih institusi universitas saat itu umumnya merupakan perpanjangan dari institusi gereja. Dan hingga awal abad itu, teologi Calvinis Ortodoks menjadi arus utama pemikiran keagamaan yg berkembang. 

Teologi Calvin sering diringkas dgn akronim TULIP. T mengingatkan bahwa kita Totally depraved (sepenuhnya bobrok). U mewakili fakta bahwa keselamatan itu Unconditional (tak bersyarat); Tuhan dan hanya Tuhan yang memilih orang-orang pilihan dan kita tidak dapat memengaruhi pilihan-Nya. Terlebih lagi, penebusan itu bersifat Limited (terbatas); Tuhan hanya menyelamatkan mereka yang terpilih. Selain itu, kasih karunia Tuhan itu Irresistible (tak dapat ditolak); jika dia menelepon, kami tidak punya pilihan selain merespons. Yang terakhir, doktrin Preservation (penjagaan) orang-orang kudus mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah berubah-ubah; begitu Dia memberikan keselamatan, Dia memberikannya selamanya.

Pandangan Calvin yg deterministik dan sangat pesimistis mengenai sifat manusia, kurang sejalan dgn dinamika ekonomi pasar baru dan gairah individu utk berburu kemakmuran yg dipacu oleh merkantilisme. Negeri Belanda akibat kemakmuran yg diperoleh sbg penguasa perdagangan antarbenua (terutama dari Hindia Belanda) sejak pertengahan abad-17, menjadi tempat persemaian komunitas epistemik yg lebih liberal. 

Dari lingkungan Universitas Leiden, muncullah seorang profesor teologi Protestan pembaharu, bernama Jacobus Arminius (1560-1609). Arminius menganggap Calvinisme yg ketat menghina Tuhan. Bahwa kemuliaan Tuhan tidak dapat dihargai sepenuhnya jika orang yg menyembah-Nya tak memiliki kebebasan untuk memilih-Nya. Jika manusia mempunyai kehendak bebas, maka konsep predestinasi hrs diubah dan gagasan tentang orang-orang pilihan yang terbatas harus diperluas. 

Pemikiran Arminian menegaskan "kebaikan alami manusia berbeda dgn kebobrokan bawaan, peran sentral dari kebebasan memilih dan bertindak berbeda dgn predestinasi dan rancangan alam semesta tidak semata-mata untuk memuliakan Tuhan tetapi juga untuk meningkatkan kebahagiaan manusia."

Perdebatan yg diprakarsai oleh kaum Arminian pada awalnya hanya terbatas di Belanda, namun tak lama kemudian merembet ke Inggris dan Skotlandia. Lantas memengaruhi pemikiran para teolog dan ilmuwan di kawasan tersebut, termasuk lingkaran komunitas epistemik di Universitas Edinburg dan Glasgow, termasuk Adam Smith dan David Hume. 

Smith sendiri tak terlalu peduli pada agama, bahkan Hume secara aktif bersikap bermusuhan. Meski begitu, kuatnya pengaruh lingkungan epistemik keagamaan berdampak pada tulisan mereka. Bahkan Smith sendiri bukan seorang profesor ekonomi--krn saat itu ekonomi belum menjadi disiplin ilmu tersendiri--melainkan profesor teologi "natural" (teologi yg memahami Tuhan tidak berdasarkan kitab suci, melainkan berbasis hukum alam). Di tangan para sarjana semacam Smith inilah, ilmu ekonomi baru muncul dgn mensekulerkan gagasan-gagasan Arminian, yg menggambarkan sebuah dunia di mana pasar dan lembaga-lembaga sekuler lainnya akan mengambil alih tugas Tuhan utk meningkatkan prospek manusia.

Teologi Arminian mempunyai pengaruh yg paling bertahan lama di Amerika Serikat. Kaum Puritan, penganut jenis Calvinisme yg lebih ketat, tidak mempunyai pandangan optimis tentang sifat manusia. Mungkin karena alasan itulah, teologi mereka semakin terasa ketinggalan zaman di negara baru yg penuh semangat ini. Ketika Amerika berkembang, Arminianisme juga berkembang, berbentuk Metodisme dan semua varian yg muncul setelahnya. Pada pertengahan abad ke-19, Calvinisme yg ketat hanya tinggal kenangan.

Kecuali di kalangan mereka yg menyebut dirinya fundamentalis. Fundamentalisme diasosiasikan dgn apa yg oleh para teolog disebut sbg eskatologi premilenial (eskatologi berkaitan dengan akhir zaman), dimana Yesus akan memulai Kedatangan Kedua. Sebagian besar umat Protestan setuju, namun kapan dan bagaimana masih menjadi bahan perdebatan. Penganut paham premilenialisme menganut keyakinan bahwa sifat bawaan kita yg penuh dosa akan membawa kita ke masa yg penuh gejolak, dan baru setelah itu Yesus akan menampakkan diri dan mengambil sisa-sisa org yg sungguh-sungguh benar (the righteous).

Kaum postmillennialis menantang gagasan semacam itu sepanjang abad ke-19 dan ke-20. Mereka mengajarkan bahwa umat manusia dapat memenangkan hati Yesus dgn melakukan reformasi sosial spt penghapusan perbudakan atau perbaikan kondisi kerja. Terinspirasi oleh kebaikan mereka, Yesus akan menunda kedatangannya sampai dunia yang menyerupai ajaran sosialnya tercipta.

Protestantisme Liberal muncul dari postmillennialisme dan mempunyai tumpang tindih dengan ekonomi; Richard T. Ely (1854-1943), salah satu pendiri American Economics Association, merupakan contoh utama. Kecenderungan reformis Ely memainkan peran utama dalam membangun gerakan Social Gospel, yg akhirnya membuahkan hasil pada masa New Deal. Friedman berargumentasi, kendati ilmu ekonomi Social Gospel melontarkan pertanyaan serius tentang kemanjuran laissez-faire, namun hal itu sangat sejalan dengan konsepsi kemajuan manusia yang ditemukan dalam Smith dan Hume.

Lewat buku ini, Friedman mengambil jalur yang berbeda dgn Max Weber dalam mencari hubungan antara agama dan kapitalisme. Weber menjangkarkan tolakan ke arah kapitalisme itu pada keyakinan dan etos Protestan secara keseluruhan, terutama pada teologi Calvinis. Sedangkan Friedman cenderung menarik akarnya pada teologi protestan yg lebih liberal.

Namun, lepas dari perbedaan perspektif, keduanya memberi insight tentang pentingnya menyiapkan kerangka teologi utk tujuan transformasi sosial, terutama bagi masyarakat bangsa dgn pengaruh agama yang masih menghunjam dalam di jantung kehidupan warga. (Edulatif No. 30)
Share:

Mendirikan Universitas Islam Al-Amien

Suatu saat kelak, entah kapan, Al-Amien yang tertetak di desa kacil di ujung timur Pulau Madura ini membuka lokasi baru puluhan hektar berdampingan dengan lokasi lama. Di dalamnya berdiri deretan bangunan super modern lengkap dengan peralatannya yang angat canggih, menyembul di tengah-tengah pepohonan yang rindang menyejukkan. Di pintu gerbangnya ada papan nama bertuliskan ...
UNIVERSITAS ISLAM AL-AMIEN

Di depan beberapa gedung terpampang tulisan Fakultas Ilmu-ilmu Tanzili, Fakultas Kedokteran, Teknik, Pertanian, Ekonomi, IImu-ilmu Politik, IImu-ilmu Sosial, dsb ...

Mahasiswanya berjumlah ribuan, yang disaring dari ribuan pendaftar sebagai calon mahasiswa baru setiap tahun. Mereka berdatangan dari seluruh penjuru Tanah Air dan mancanegara, terdiri dari berbagai etnis dan suku bangsa yang beraneka ragam.

Banyak orang tertarik kepada universitas ini, karena ia memang memiliki daya tarik tersendiri. Ia mampu memadukan tradisi-tradisi kepesantrenan yang Islami dengan tradisi-tradisi keilmuan modern.



Masjid Jami' Al-Amien yang masih nampak megah, kokoh, dan tidak kalah dengan bangunan-bangunan lain itu, menjadi pusat kegiatan keseharian seluruh penghuni kampus: sholat, berdzikir, belajar, berdiskusi, membaca Al-Quran, dsb. Di sudut-sudut tertentu dan di gazibo-gazibo nampak beberapa ustadz yang juga dosen sedang membimbing para mahasiswa mengkaji kitab kuning.

Perpustakaan yang terletak di bagian belakang masjid tidak pernah sepi dari pengunjung sepanjang hari. Semua kebutuhan mereka dilayani serba otomatis lewat komputer, internet, dan peralatan canggih lainnya.

Di sana-sini di berbagai sudut kampus nampak para mahasiswa berbaur menjadi satu dengan santri-santri cilik TMİ dan MTA, tanpa rasa risih dan rikuh sedikitpun, karena mereka juga merasa dirinya adalah santri. Semuanya menyatu dalam dekapan Ukhuwah Islamiyah yang kokoh dan harmonis, tetapi tetap bergerak aktif dan dinamis dalam suasana kompetetif yang sehat untuk meraih prestasi setinggi-tingginya.

Begitu adzan berkumandang, seluruh aktivitas dihentikan. Semuanya menuju masjid untuk sholat jama'ah, beraudiensi dengan Sang Kholiq dengan penuh khisyu' dan tawadu'.

Alumnimya menjadi pelopor-pelopor yang profesional dan gagah berami dalam bidangnya, memiliki prestasi yang tinggi dan mampu melahirkan karya-karya baru yang bermanfa'at bagi manusia dan kemanusiaan. Tetapi hatinya tetap tunduk di hadapan Sang Kholig, dan tawadlu' terhadap sesama. Tak ada kesan sombong, tak pernah meremehkan siapa pun. Mereka dikenal sebagai "fursaan" di siang hari dan "ruhbaan" di malam hari. Mereka adalah "tokoh-tokoh" di bidangnya yang sangat disegani dan dihormati, tetapi mereka tetap menjadi "bagian" dari masyarakat lingkungannya.

Demikianlah obsesi dan cita-cita para Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien. Sebuah khayalan atau utopia? Mungkin memang ada orang pesimis atau bahkan tersenyum sinis mendengar obsesi ini. Suatu reaksi yang, bagi kita, wajar-wajar saja.

Dulu, di awal abad ke-19, ketika Kyai Idris Patapan yang 'ndeso dan kampungan' itu berobsesi anak cucunya menjndi Ulama' dan Tokoh-tokoh masyarakat, banyak tetangganya yang tersenyum sinis. Ketika Kyai Chothib yang berada di bawah garis kemiskinanitu, berobseai seluruh anaknya blsa nailk haji dan belajar di Makkah, orang-orang pun tersenyum sinis. Begitu pula ketika Kyai Djauhari di awal tahun 50-an, hanya dengan modal sebidang tanah kering yang sempit, berobsesi untuk membangun pesantren besar bertarap nasional yang representatif, banyak orang tersenyum sinis.

Maka tak heran, jika obsesi Al-Amien untuk memiliki universitas bertarap intermasional ini, juga mendapat tanggapan dan reaksi yang sinis. Apalagi memang sudah berkembang suatu asumsi di kalangan para ahli, tentang "kemustahilan" lahirnya universitas yang kualifaid dari lembaga pendidikan keagamaan seperti pesantren. Mereka secara dikhotomis menggambarkan keduanya sebagai dua lembaga pendidikan yang memiliki prototipe yang bertolak belakang. Kepatuhan santri kepada kiai dilawankan dengan keterbukaan dan kebebasan akademik. Keikhlasan dan kesederhanaan yang menjiwai aktivitas pesantren dianggap sebagai penghalang kemajuan. Dan masih banyak asumsi-asumsi negatif lainnya yang bersumber dari "ketidaktahuan" atau bahkan dari "ketidakmautahuan".

Padahal, tradisi-traisi kepesantrenan yang ada dan berkembang sekarang ini, sebenarnya lahir dan diilhami oleh tradisi keilmuan dalam Islam yang dipadukan dengan tradisi-tradisi budaya bangsa. Yang pertama, telah membuktikan kemampuannya menjadi pelopor sekaligus memberikan arah yang tepat bagi upaya penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan yang kedua telah mampu mewarnai para santri dengan watak-watak yang positif, terutama dalam mengadaptasikan nilai-nilai universal dengan nilai-nilai setempat.

Selain itu sejarah perkempangan universitas-universitas di Eropa dan Amerika mengajarkan kepada kita, bahwa banyak universitas besar dan terkenal bermula dari kampus-kampus yang bernuansa keagamaan. Bahkan universitas-universitas Islam pada masa kejayaannya juga lahir dari semangat dan ruh keagamaan yang kuat, yang berawal dan berpusat di masjid. Istilah "universitas" yang dalam bahasa Arab disebut "Jami'ah" tidak bisa lepas dari istilah "Al-Jami" yang berarti masjid yang dipakai untuk melaksanakan Sholat Jum'at. Nah, masihkan kita ragu?

Lebih dari itu, modal dasar yang dimiliki Al-Amien saat ini sudah berkembang sebegitu rupa dan diakui memiliki kualitas unggulan yang kompetitif dan patut dibanggakan.
  • TMI dan TMaI Al-Amien, sebagai lembaga pendidikan keagamaan tingkat menengah telah memiliki reputasi nasional dan bahkan internasional. Beberapa universitas di luar negeri seperti Universitas Ummul Quro di Makkah, Islamic University di Madinah, Kuala Lumpur dan Islalabad, Universitas Al-Azhar di Kairo, Universitas Zaituna di Tunisia, telah memberi "Mu'adalah", atau persamaan ijazah bagi kedua lembaga tersebut. Keduanya diharapkan bisa mendroping calon mahasiswa pada Fakultas Ilmi-ilnu Tanzili.
  • Ma'had Tahfidzil Quran dengan SMP dan SMUnya dan sistim pesantrennya, telah diakui oleh berbagai kalangan sebagai salah satu Sekolah Unggulan di negeri kita. Dari lembaga ini diharapkan lahir Fakultas-fakultas Eksakta.
  • Al-Amien I dengan MTs dan MA plusnya juga telah menunjukkan reputasi dan prestasi yang patut dibanggakan, terutama dilihat dari NEM yang dicapai oleh murid-muridnya. Dari lembaga ini diharapkan lahir Fakulfas-fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora.
Nah, masihkah ada orang yang tersenyum sinis? Kalau punn masih ada, kita maafkan saja. Bahkan kita berharap semoga hal tersebut justru menjadi cambuk untuk memicu kerja keras, usaha sistimatis, dan do'a-do'a kia, dalam meraih obsesi dan cita-cita yang agung, dan luhur ini.

Yang terpenting, kita harus sadar sepenuhnya bahwa untuk meraih obsesi ini dituntut adanya kualitas yang tinggi dari setiap individu kita dalam berbagai bidang menyangkut iman, ilmu dan amal; menyangkut moral, mental, ethos, wawasan intelektual, dan keahlian atau keterampílan tertentu. Kualitas individu tersebut kemudian digabung dalam "team work" yang solid, kompak dan padu antara kita. Akhirnya setelah "'azm" ini, marilah kita bertawakkal kepada Allah SWT. Semoga. Amien.

Dikutip dari buku:
Pondok Pesanten Al-Amien dalam Lintasan Sejarah, halaman 92-94.
Share:

Mengatasi Korupsi Melalui Bahasa Kasar

Korupsi di Indonesia sudah begitu merajalela dan sulit diatasi, bahkan oleh lembaga antikorupsi seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Muncul ide, mungkin satu-satunya cara menghilangkan korupsi adalah mengganti istilah yang sudah kehilangan makna ini dengan kata lain yang lebih menohok.

"Ganti korupsi dengan kata yg sudah lama ada dan masih dipakai di kalangan rakyat, seperti garong, rampok, begal," kata Farid Gaban, aktivis dan jurnalis yang bersama tiga rekannya baru balik dari Ekspedisi Indonesia Baru, berkeliling Indonesia lebih dari 400 hari menggunakan sepeda motor. 

Namun, diakuinya, kata-kata asli apa adanya yg berlaku di kalangan rakyat kebanyakan masih harus diperkenalkan kembali dalam kosakata politik sehari-hari, seperti jancuk, bajingan, tolol, dan kata-kata kasar lain serupa.

"Ini bisa dimulai dengan para wartawan dan media menolak eufemisme," tegasnya dalam percakapan di suatu grup medsos. Dia memberi contoh, bayangkan berita di televisi bunyinya begini:

"Para pemirsa, Kejaksaan hari ini telah menangkap Menteri X yang menggarong uang negara."

"Bajingan itu berasal dari partai anu yang reputasinya jancukan semua."

"Presiden negeri itu juga tolol karena tidak bisa mengendalikan kabinet. Bukan cuma satu, enam menterinya terlibat merampok duit rakyat. Asu semua!"

Meskipun gagasan ini dapat memicu perdebatan, penting mempertimbangkan pendekatan alternatif tadi untuk memberantas korupsi yang sudah membudaya. Sekali lagi, korupsi telah begitu merajalela dan sulit diatasi selama bertahun-tahun. 

Meskipun lembaga antikorupsi sudah berupaya keras mengatasinya, dan sering diintervensi pihak tertentu, perubahan signifikan masih sulit dicapai. Maka, usulan penggantian kata "korupsi" dengan istilah-istilah kasar yang sudah lama ada dalam bahasa sehari-hari dipastikan dapat memiliki efek psikologis yang kuat. 

Bahasa yang tegas dan jujur dapat membantu masyarakat memahami dampak negatif dari tindakan korupsi dan merasa lebih terhubung dengan masalah tersebut. Namun, bersamaan dengan itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Pertama, Perubahan Budaya: Penggantian kata tidak akan berhasil tanpa perubahan budaya yang mendalam. Peningkatan kesadaran tentang korupsi dan penolakan terhadapnya harus didorong secara aktif melalui pendidikan, kampanye, dan kebijakan pemerintah yang transparan dan adil.

Kedua, Media dan Wartawan: Media memiliki peran penting dalam membentuk opini publik. Jika media dan wartawan menggunakan bahasa yang tegas, menohok dan jujur dalam melaporkan kasus korupsi, hal ini dapat membantu mempengaruhi perubahan sikap masyarakat.

Ketiga, Kepemimpinan yang Teladan: Para pemimpin, terutama di tingkat politik, harus menjadi teladan dalam berjuang melawan korupsi. Mereka harus menunjukkan komitmen yang kuat untuk memerangi korupsi dan tidak boleh terlibat dalam tindakan korupsi.

Keempat, Hukuman yang Tegas: Penting untuk memastikan bahwa hukuman bagi pelaku korupsi memadai dan efektif. Ini termasuk pengadilan yang adil dan penegakan hukum yang tanpa pandang bulu.

Kelima, Partisipasi Masyarakat: Masyarakat juga harus berperan aktif dalam memberantas korupsi. Mereka dapat melaporkan tindakan korupsi yang mereka saksikan dan mendukung upaya-upaya pemberantasan korupsi.

Meskipun mengganti nama korupsi dengan kata-kata kasar mungkin menjadi langkah yang kontroversial dan berdampak psikologis yang mendalam, penting juga diingat bahwa perubahan bahasa hanya merupakan bagian kecil dari solusi yang lebih besar. 

Yang tak kalah penting adalah menciptakan perubahan budaya yang mendasar dan berkelanjutan dalam masyarakat Indonesia untuk mengatasi masalah korupsi. Semua pihak, termasuk pemerintah, media, dan masyarakat, harus bekerjasama untuk mencapai tujuan ini memanfaatkan segala cara yang tersedia.

(Ahmadie Thaha, pengasuh Ma'had Tadabbur al-Qur'an)
Share:

Sukses Literasi Digital Melawan Misinformasi

Dua hari lalu, saya ditanya kawan, bagaimana cara efektif mengenali informasi hoaks. Saya agak kaget ditanya begitu, karena si kawan ini dulu sama-sama wartawan di harian Republika dan di tabloid mingguan politik Tekad yang saya pimpin. Tampaknya, usia mempengaruhi kemampuannya untuk mengenali berita hoaks yang banyak beredar dan viral secara online. Itulah problema kita.

Dalam dunia yang semakin bergantung pada media digital, mengatasi misinformasi yang dikenal dengan hoaks telah menjadi tantangan penting bagi kita semua. Namun, kita dapat belajar dari sebuah inisiatif revolusioner yang baru-baru ini coba dilaksanakan di Spanyol, yang telah berusaha mengatasi tantangan ini dengan memberdayakan generasi yang lebih tua untuk mengidentifikasi dan melawan misinformasi yang tersebar secara online. 

Dikembangkan oleh MediaWise, sebuah inisiatif berbasis di AS, dan Newtral, sebuah outlet berita Spanyol, kursus WhatsApp inovatif yang diselenggarakan baru-baru ini menjadi perhatian karena potensinya yang relatif berhasil menjembatani kesenjangan kepercayaan antar-generasi terhadap berita. Mereka membuat kursus literasi digital pada generasi yang lebih tua di Spanyol melalui platform WhatsApp.

Kursus yang Membuat Perbedaan

Dikirim melalui WhatsApp, platform yang banyak digunakan untuk konsumsi berita oleh 27% penduduk Spanyol, kursus tersebut bertujuan untuk meningkatkan literasi digital generasi yang lebih tua. Peneliti dari Universitas Navarra secara cermat mempelajari dampak kursus ini pada kelompok sampel orang berusia di atas 50 tahun di Spanyol. Hasilnya cukup menjanjikan, menunjukkan bahwa kursus ini memiliki efek positif dalam batas tertentu.

Kursus tadi dilaksanakan dalam sesi harian dengan mengirimkan pesan, pertanyaan, dan video, yang mencakup berbagai topik. Isinya beragam, mulai dari mendefinisikan misinformasi hingga mengidentifikasi saluran utama penyebaran hoaks. 

Peserta menerima pelatihan komprehensif yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Kursus ini diluncurkan pada April 2023, dan hingga sekarang masih berlanjut dengan terus membuka pendaftaran baru, mencerminkan relevansinya yang berkelanjutan.

Hasil yang Positif

Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Navarra dan Laboratorium Media Sosial Stanford membuahkan hasil yang menggembirakan. Kelompok orang dewasa yang mengikuti kursus tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan untuk membedakan berita nyata dari berita palsu setelah menyelesaikannya. 

Penelitian membuktikan, peningkatan ini terutama mencolok dalam keberhasilan pengenalan judul berita yang benar. Demikian pula, melalui kursus yang dirancang dengan baik, kemampuan para lansia untuk mengidentifikasi judul berita palsu juga mengalami peningkatan.

Yang penting, penlitian membuktikan bahwa usia, jenis kelamin, dan latar belakang pendidikan tidak tampak secara signifikan memengaruhi kemampuan peserta dalam mendiskernir akurasi berita. Hal ini menunjukkan bahwa literasi digital dan kemampuan melawan misinformasi dapat ditanamkan dalam beragam kelompok demografis.

WhatsApp: Media yang Tepat

Pilihan WhatsApp sebagai platform pengiriman kursus terbukti pula merupakan opsi strategis. Di Spanyol, WhatsApp digunakan secara signifikan oleh 27% warga untuk konsumsi berita. Ini menjadikannya platform sosial terpopuler kedua untuk berita setelah Facebook. Daya tarik WhatsApp sebagai medium untuk kursus ini berasal dari popularitasnya dan perannya ini.

Meskipun kursus ini berhasil dalam banyak hal, peneliti mencatat tantangan terkait dengan mempertahankan peserta untuk terus mengikuti kursus. Tantangan ini mungkin disebabkan oleh kebaruan WhatsApp sebagai alat pembelajaran bagi individu yang lebih tua, yang sering menganggap platform ini sebagai piranti komunikasi pribadi ketimbang sebagai sarana media pembelajaran.

Misinformasi di Spanyol

Pentingnya kursus ini diperkuat oleh maraknya misinformasi di Spanyol, sama seperti yang terjadi banyak negara, termasuk Indonesia. Studi yang dilakukan oleh Universitas Navarra dan UTECA mengungkapkan bahwa 91% responden menganggap misinformasi sebagai ancaman terhadap demokrasi dan stabilitas nasional. 

Misinformasi, seringkali berasal dari media sosial dan disebarkan melalui platform seperti WhatsApp, dapat memengaruhi persepsi publik terhadap berita. Maraknya informasi hoaks, yang bercampur antara berita dan info asal-asalan, telah menggerus kepercayaan masyarakat terhadap media.

Baik Charo Sádaba, penulis utama penelitian, maupun Marilín Gonzalo, Kepala Kebijakan Publik di Newtral, menekankan peran organisasi media dalam membantu audiens yang lebih tua mengidentifikasi misinformasi. Mereka menganjurkan penyesuaian sederhana pada outlet berita, seperti huruf yang lebih besar di situs web dan video yang dibuat lebih singkat, untuk membuat konten lebih mudah diakses oleh individu yang lebih tua.

Upaya Bersama Melawan Misinformasi

Pada akhirnya, menurut kesimpulan penelitian, tanggung jawab untuk melawan misinformasi mesti dilakukan secara bersama oleh koalisi yang luas. Organisasi media, pemeriksa fakta, LSM, perusahaan teknologi besar, dan pemerintah semua memiliki peran penting dalam mengatasi masalah yang mendesak ini. 

Seperti yang disarankan oleh temuan dari kursus WhatsApp di Spanyol ini, bahkan upaya kecil pun dapat menciptakan dampak yang signifikan. Kunci kesuksesan terletak dalam kerjasama, pendidikan, dan memberdayakan semua generasi untuk menavigasi lanskap berita digital yang kompleks dengan percaya diri dan pemahaman yang baik. 

Penulis: Ahmadie Thaha, wartawan senior, pengasuh Ma'had Tadabbur al-Qur'an.
Share:

Langganan Digital Tulang Punggung Media Online

Pada tahun-tahun terakhir, media online telah mengalami perubahan drastis dalam mencari cara untuk bertahan hidup dan membiayai diri. Telegraph Media Group (TMG), salah satu contoh sukses dalam perjalanan ini.

Berdasarkan laporan terbaru, TMG telah berhasil mencapai targetnya untuk mencapai satu juta langganan sebelum akhir tahun 2023. Ini menunjukkan bahwa media online tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang dengan cara yang unik.

TMG, yang menerbitkan The Daily Telegraph dan Sunday Telegraph, menjadi perusahaan surat kabar nasional Inggris ketiga yang mencapai tonggak satu juta langganan online, setelah The Guardian dan Financial Times yang mencapai jumlah langganan tersebut pada Desember 2021 dan Maret 2022. Lebih dari 70% dari satu juta langganan tersebut bersifat digital, menandakan bahwa konsumen semakin mengadopsi model berlangganan digital.

Salah satu strategi sukses TMG, fokus pada keterlibatan pelanggan. Mereka mencatat bahwa sekitar 300.000 pelanggan menggunakan aplikasi mereka setiap hari, menunjukkan tingkat keterlibatan yang tinggi. Selain itu, akuisisi Chelsea Magazine Company pada Maret dan penawaran produk seperti Telegraph Wine Cellar atau Telegraph Puzzles pada Juni turut membantu mereka mencapai target tersebut.

Dalam persaingan dengan media online lainnya, TMG juga menggunakan harga berlangganan yang sangat diskon sebagai bagian dari strategi pemasarannya. Tanpa diskon, berlangganan digital Telegraph berharga £189 per tahun. Ini menunjukkan bahwa penawaran harga yang menarik dapat memikat lebih banyak pelanggan ke dalam model berlangganan digital.

Perubahan ini mencerminkan keadaan industri media saat ini, di mana berkurangnya sirkulasi cetak dan ketidakstabilan pasar iklan online telah mendorong banyak organisasi berita untuk mencari sumber pendapatan yang lebih konsisten. 

Contohnya, laporan tahunan News Corp yang menunjukkan bahwa The Wall Street Journal telah mencapai 3,4 juta pelanggan digital, Barron's mencapai satu juta pelanggan, dan The Times dan Sunday Times naik 11% year-on-year menjadi 565.000 pelanggan.

Di sisi lain, The Guardian yang berbasis pada model "free-to-read" berhasil mencapai satu juta pelanggan dengan kombinasi 419.541 pelanggan digital dan 580.494 kontribusi berulang.

Sementara itu, strategi berlangganan digital yang difokuskan pada "bundle" dari The New York Times telah membuat mereka mencapai lebih dari sepuluh juta pelanggan digital, jumlah terbanyak di antara penerbit di seluruh dunia.

Meskipun pencapaian TMG telah mengesankan, mereka belum mengungkapkan berapa banyak pelanggan individual yang mereka miliki. Selain itu, perusahaan ini berada dalam proses lelang setelah Lloyds Banking Group mengambil alih TMG dan The Spectator dari pemilik sebelumnya, keluarga Barclay, yang kesulitan membayar utang sebesar £1 miliar kepada bank.

Demikianlah, kisah sukses TMG menunjukkan bahwa media online tidak hanya bertahan tetapi juga dapat berkembang dengan baik melalui strategi berlangganan digital yang cerdas dan penawaran yang menarik bagi para pelanggan. Dalam era di mana informasi adalah aset berharga, langganan digital telah menjadi tulang punggung bagi banyak organisasi berita. (catatan Ahmadie Thaha, 7/9/2023)

Share:

Cara Membaca Seluruh Hadits Nabi dalam Setahun

Oleh Ahmadie Thaha
Pesantren Tadabbur al-Qur'an

Resensi Kitab
Judul: Ma'alim al-Sunnah al-Nabawiyyah (معالم السنة النبوية)
Penulis: Shalih Ahmad as-Syami (صالح أحمد الشامي)
Edisi: Kedua, 1436 H - 2015 M
Sumber: Al-Shamilah al-Dzahabiyyah

Pernahkah Anda mempertimbangkan untuk membaca semua hadits Nabi yang shahih, meskipun hanya sekali dalam seumur hidup Anda? Ataukah Anda sebut itu mustahil, karena jumlahnya terlalu banyak, lebih 114 ribu hadits?

Tak diragukan lagi, penyebaran hadis-hadis shahih dan ketersebarannya di berbagai kitab besar membuat kita merasa ragu untuk melibatkan diri dalam proyek bacaan ini, karena tampak sangat sulit bagi kita. Sekali lagi, jumlahnya terlalu banyak.

Namun, puji bagi Allah, seorang ulama telah meluncurkan proyek besar untuk mempermudah akses terhadap Sunnah Nabi. Dia mendedikasikan hidupnya selama dua puluh tahun untuk merampungkan tugas yang tampak mustahil ini.

Dialah Syeikh Shalih bin Ahmad as-Syami, semoga Allah memberinya kebaikan dan memberkahi usahanya. Dia telah meringkas 14 kitab hadits rujukan utama, sehingga jumlah hadits di semua kitab itu yang semula 114.194 diringkasnya menjadi 3.921 hadits.

Caranya, dengan metologi yang diakui para ulama, dia menghapuskan hadits-hadits yang berulang (secara terminologis). Ini merujuk kepada hadits-hadits yang disampaikan oleh para sahabat dan berulang di berbagai kitab. Dia memutuskan untuk menghapus repetisi ini.

Sebagai contoh, hadits Umar bin Khattab ra "إنما الأعمال بالنيات" yang diriwayatkan oleh al-Bukhari sebanyak tujuh kali di beberapa tempat dalam koleksi Shahihnya, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban. Karena itu, as-Syami mencantumkan hadits ini hanya satu kali terkait para sahabat ini, dan dia menghapus repetisinya.

Dengan cara demikian, Syeikh as-Syami berhasil menyusutkan jumlah hadits yang dimuat dalam ke-14 kitab dari 114.194 hadits menjadi hanya 28.430 hadits. Artinya, kurang dari seperempatnya.

Tak puas dengan itu, dia kemudian melakukan pemeriksaan ulang. Kali ini, dia menghapuskan repetisi hadits yang memang benar-benar berulang, bukan hanya dalam arti terminogis (istilahi). 

Misalnya, hadits tentang "الحرب خدعة" yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan juga oleh Ibnu Abbas, Ka'ab bin Malik, dan Aisyah ra. Hadits-hadits demikian cukup disebutkannya satu kali, dan versi lainnya dihapuskan. Hal yang sama berlaku untuk hadits-hadits yang berulang dalam maknamya atau yang kontennya serupa.

Karena itu, jumlah hadits yang telah disusutkannya tadi kembali berkurang menjadi 3.921 hadits saja. Bayangkan, hampir seluruh Sunnah Nabi Saw dapat diakomodasi dalam kurang dari 4.000 hadits.

Ini usaha luar biasa dan mendorong kita untuk membaca seluruh hadits, karena terdapat kemungkinan kita menyelesaikannya dalam waktu singkat. Anda dapat memperoleh kitab ringkasan hadits ini dengan judul buku "Ma'alim al-Sunnah al-Nabawiyyah."

Selain tersedia dalam format cetakan, ia juga dapat Anda baca secara online. Anda dapat membuat jadwal membacanya bersama keluarga tidak lebih dari 11 hadits setiap hari sehingga Anda dapat menyelesaikan pembacaan seluruh hadis dalam setahun. Anda pun bisa berkumpul dengan keluarga dalam kebaikan dan beroleh berkah bersama.

Karya luar biasa ini merangkum hadits dari 14 kitab Muwattha' Malik, Musnad Ahmad, Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Jami' al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa'i, Sunan Ibnu Majah, Sunan al-Darimi, Al-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi, Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibban, Mustadrak al-Hakim, Al-Ahadits al-Mukhtarah karya al-Maqdisi.

Sebagaimana kita tahu, ke-14 kitab ini meerupakan kumpulan hadis paling penting dan utama dalam Sunnah. Semua diakui mutu dan kesahihah haditsnya oleh para ulama di atas koleksi lainnya, dan dihargai sebagai karya paling penting. 

Ke-14 kitab hampir tidak meninggalkan satu pun hadits yang shahih. Semua haditsnya diakui valid berasal dari Nabi Saw. Siapa pun yang telah membaca keseluruhannya dipastikan mengetahui sebagian besar, bahkan keseluruhan Sunnah Nabi.

Penulis as-Syami juga mengemukakan di pengantar karya ini bahwa metodologinya dalam mengklasifikasikan keabsahan hadits ini didasarkan panduan dari para ulama ilmu hadis terkemuka. Di antaranya al-Bayhaqi, al-Dzahabi, Shu'ayb al-Arnaut, Abdul Qadir al-Arnaut, Husain Salim Assad, Muhammad Mustafa al-A'zami, dan Abdul Malik bin Dahis.

Nabi Muhammad Saw pernah bersabda:
"Aku diberi al-Qur'an dan (hadits) yang semisal dengannya bersama." Kini Anda tak perlu ragu lagi untuk dapat selesai membaca keseluruhan hadits Nabi melalui kitab Ma'alim al-Sunnah al-Nabawiyyah karya Syeikh as-Syami.

(Komuter Bgr-Jkt 19082023)
Share:

Sebanyak 6,5 Penduduk Indonesia Kekurangan Gizi

Catatan KH. Ahmadie Thaha
Pesantren Tadabbur al-Qur'an

Bayangkan, sebanyak 6,5 persen dari penduduk Indonesia kekurangan gizi. Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO) periode 2019-2021, Indonesia menempati urutan pertama dari negara-negara di Asia Tenggara yang penduduknya kekurangan gizi. 

Data FAO yang dikutip Databoks menunjukkan, sebanyak 17,7 juta warga Indonesia dari 270 juta penduduknya hidup dalam kekurangan gizi. Di bawahnya, warga Thailand yang kekurangan gizi sebanyak 6,2 juta, Filipina 5,7 juta, Vietnam 5,6 juta, Myanmar 1,7 juta, dan Kamboja 1 juta.

Lantas, apa yang dimaksud kekurangan gizi? Apa kriterianya? Mengapa Indonesia yang begitu makmur, kaya raya dan tanahnya subur secara geografis, di mana tongkat dan batu konon bisa tumbuh jadi tanaman, tapi rakyatnya ternyata masih kekurangan gizi? 

Di bawah ini, saya dapat membantu menjelaskan konsep "kekurangan gizi" dan mengapa kondisi ini dapat terjadi di negara yang kaya seperti Indonesia, serta uraian singkat wawasan tentang solusi mengatasinya.

Kekurangan Gizi: Apa itu dan Kriterianya

Kekurangan gizi, juga dikenal sebagai malnutrisi, terjadi ketika tubuh tidak menerima nutrisi yang cukup untuk menjaga kesehatan dan fungsi normalnya. Nutrisi yang penting untuk tubuh meliputi protein, vitamin, mineral, karbohidrat, dan lemak. 

Kekurangan gizi dapat berdampak buruk pada pertumbuhan, perkembangan mental, daya tahan tubuh, dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Termasuk di dalamnya tubuh mengalami kelemahan, anemia, gangguan sistem kekebalan. 

Pada anak-anak, kekurangan gizi dapat menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan mental. Dikelas sering ngantuk. Bahkan secara ekstrem kekurangan gizi bisa menyebabkan kematian.

Kriteria kekurangan gizi melibatkan beberapa faktor, seperti berat badan kurang dari yang seharusnya (gizi kurang), defisiensi nutrisi spesifik, seperti kekurangan vitamin atau mineral tertentu (gizi mikronutrien), dan kurangnya asupan kalori yang mencukupi (gizi energi). 

Mengapa Kekurangan Gizi Terjadi di Indonesia?

Meskipun Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya dan pertumbuhan ekonomi yang konon pesat, faktor-faktor berikut dapat berkontribusi pada kekurangan gizi:

Ketidakmerataan Distribusi Kekayaan: Kekurangan gizi sering kali terkait dengan ketidakmerataan distribusi kekayaan dan akses terhadap makanan. Kekayaan yang disebut angkanya besar hanya dikuasai segelintir orang. 

Meskipun negara mungkin memiliki produksi pertanian yang besar, akses ke makanan yang sehat dan bergizi mungkin tidak merata di seluruh lapisan masyarakat. Rakyat enggan menanam dan bertani karena selalu merugi.

Kurangnya Pengetahuan Gizi: Pendidikan tentang gizi dan pola makan yang sehat penting untuk mencegah kekurangan gizi. Di banyak wilayah, warga belum memperoleh pengetahuan tentang pentingnya variasi makanan dan keseimbangan nutrisi. Di sekolah-sekolah, guru tak pernah mengajarkan soal gizi dengan baik kepada murid mereka, juga tak pernah mempraktekkan asupan gizi yang standar dan benar bagi diri dan keluarga mereka.

Kondisi Sosial dan Ekonomi: Masih banyak keluarga tidak memiliki dukungan ekonomi memadai, sehingga membatasi akses mereka terhadap makanan bergizi. Kekurangan gizi dapat lebih umum terjadi di daerah pedesaan atau dalam kelompok ekonomi lemah. Orang kota mungkin memiliki cukup dukungan ekonomi, tapi menghamburkan uang untuk membeli makanan tidak bergizi.

Pola Makan yang Tidak Seimbang: Pola makan yang didominasi oleh makanan berkalori tinggi namun rendah nutrisi, serta kurangnya konsumsi buah, sayuran, dan makanan bergizi lainnya, dapat menyebabkan kekurangan gizi. Ini terjadi di masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Makanan kemasan dengan kalori tinggi namun rendah nutrisi dijual hingga pelosok desa.

Solusi untuk Mengatasi Kekurangan Gizi

Dalam upaya memerangi kekurangan gizi, diperlukan pendekatan solutif komprehensif yang melibatkan pendidikan gizi, perbaikan distribusi makanan, akses terhadap layanan kesehatan, dan upaya ekonomi untuk mengurangi kemiskinan dan ketidaksetaraan.

1. Pendidikan Gizi: Penting untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya gizi yang seimbang. Kampanye edukasi dapat dilakukan melalui media massa, sekolah, pusat kesehatan, dan kelompok-kelompok masyarakat. Orang-orang perlu memahami nilai gizi berbagai jenis makanan dan cara mengolahnya agar tetap bergizi.

2. Program Bantuan Gizi: Pemerintah dapat mengimplementasikan program bantuan gizi khusus untuk kelompok yang paling rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Program ini dapat memberikan suplemen makanan atau sumber daya untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan nutrisi harian.

3. Pemberdayaan Ekonomi: Meningkatkan pendapatan masyarakat, terutama di daerah yang terdampak, adalah langkah penting. Program yang mendukung pelatihan kerja, kewirausahaan, serta akses ke pasar dan sumber daya ekonomi akan membantu keluarga untuk memperbaiki kondisi gizi mereka.

4. Peningkatan Produksi Pertanian: Mendukung petani lokal dan pengembangan pertanian adalah langkah vital. Ini dapat mencakup pelatihan teknik pertanian yang lebih baik, akses ke bahan baku, dan bantuan untuk meningkatkan produktivitas.

5. Akses ke Layanan Kesehatan: Fasilitas kesehatan yang terjangkau dan berkualitas harus tersedia di seluruh wilayah. Ini termasuk layanan perawatan kesehatan, imunisasi, dan perawatan ibu dan anak.

6. Pengendalian Harga Pangan: Pemerintah dapat menerapkan kebijakan untuk mengendalikan harga pangan, terutama bahan makanan pokok, sehingga masyarakat dapat mengakses makanan bergizi tanpa harus membayar mahal.

7. Pengawasan dan Evaluasi: Program-program ini harus terus diawasi dan dievaluasi secara berkala. Data mengenai kekurangan gizi harus terus dikumpulkan dan dianalisis untuk memastikan bahwa program-program tersebut berdampak positif.

8. Keterlibatan Masyarakat: Melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program-program gizi sangat penting. Keterlibatan ini akan memastikan bahwa solusi yang diadopsi sesuai dengan kebutuhan dan budaya setempat.

Dengan menggabungkan upaya dari berbagai pihak -- pemerintah, masyarakat, lembaga swasta, dan organisasi internasional -- kita dapat mengatasi masalah kekurangan gizi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di negara seperti Indonesia yang memiliki potensi besar dalam sektor pertanian dan sumber daya alam.
Share:

Pustaka Golden Shamela Memuat Teks 34 Ribu Kitab

Ahmadie Thaha
Pesantren Tadabbur al-Qur'an

Barangkali ini perpustakaan kitab terbesar yang tersedia di Internet. Kelebihannya, semua kitab di perpustakaan online goldenshamela.com ini tersedia dalam bentuk teks Bahasa Arab. Semua teksnya sudah divalidasi kesahihannya.

Tak hanya dapat dibaca online, setiap kitab bisa didownload dalam format Epub. Jadi, kita dapat membaca kitab tertentu secara offline. Untuk membuka dan membacanya, kita tentu harus punya aplikasi ebook reader yang dapat membaca file berformat epub.

Halaman depan website perpustakaan ini langsung mengantarkan kita ke form penelurusan, dengan beberapa pilihan seperti judul kitab atau kontennya. Pihak pengelola Golden Shamela mohon doa dari kita, agar perpustakaan ini kelak memiliki kemampuan kecerdasan buatan (AI) dalam fasilitas penelurusannya sebagaimana dimiliki Google.

هل تريد البحث في أكبر مكتبة نصية علمية عربية على الإطلاق ؟ 

هل تريد البحث في قلب 34 ألف كتاب بضغطة زر واحدة ؟                                                                                         

 تفضل  هنا  https://goldenshamela.com


مالفرق بين البحث في المكتبة الشاملة الذهبية وغوغل ؟ 

في المكتبة الشاملة الذهبية يتم البحث في داخل نصوص الكتب ( 34500كتاب )وهذا غير متوفر على غوغل حيث أن غوغل يبحث لك في أسماء كتب الpdf فقط لأن أغلب الكتب على شبكة الأنترنت هي كتب مصورة وليست نصية !

الذي يميز غوغل على المكتبة الشاملة الذهبية هو البحث الذكي 

 ماهو البحث الذكي ؟

يعمل البحث الذكي على فهم نية الباحث  ويساعده على العثور على ما يبحث عنه بدقة أكبر من البحث العادي بكثير من خلال معالجة اللغة الطبيعية (NLP) بالذكاء الاصطناعي فهو يبحث لك عن معنى الجملة المدخلة ولا يتقيد حرفياً بها ويفهم ما تريده بصورة أدق ومتوافقة مع رغباتك وبشكل أفضل من البحث التقليدي بمراحل كبيرة مثلا لو بحثت عن :
(حديث عائشة رَضي اللَّه عنها عن عبادته في العشر ﷺ)
فسيظهر لك النتيجة التالية :
(كَانَ رسولُ اللَّه ﷺ إذَا دَخَلَ الْعشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأيْقَظَ أهْلهْ، وجدَّ وشَدَّ المِئْزَرَ) فسيفهم عليك محرك البحث نيتك ومقصدك وسيظهر لك نفس الحديث مع أن كلمات البحث مختلفة تماماً !

فلو استطعنا بحول الله وقوته أن ننشئ محرك بحث ذكي يبحث داخل كتب المكتبة الشاملة الذهبية فنكون جمعنا بين الحسنيين ( قوة وذكاء محرك البحث + البحث داخل عشرات الآلاف من الكتب الشرعية )  نسأل الله أن يسر لنا ذلك إنه على ذلك قدير , الرجاء إعادة توجيه المنشور لتعميم الفائدة 🌹
Share:

Cara Para Sahabat Menghafal al-Quran

KH. Ahmadie Thaha
(Pimpinan Pesantren Tadabbur al-Qur'an)

Tahukah Anda bagaimana cara para sahabat menghafal al-Qur'an? Ternyata, mereka menghafal al-Qur'an secara pelan-pelan, tidak terburu-buru. Dalam sekali waktu, mereka cukup menghafal  sepuluh ayat, kemudian mentadabburi ayat-ayat yang sedang mereka hafal ini dengan memahami maknanya, dan selanjutnya mereka langsung mengajarkannya kepada orang lain. Baru setelah itu mereka pindah menghafal ayat-ayat berikutnya.

Mereka menekankan tadabbur al-Qur'an bersama hafalan karena tadabbur merupakan perintah Allah Swt yang ditegaskan di empat ayat, yaitu dalam surah an-Nisâ' [4]: 82, al-Mu'minûn [23]: 68, Shâd [38]: 29 dan Muhammad [47]: 24. Dua ayat di antaranya bernada ancaman keras dan teguran bagi mereka yang tidak mau mentadabburinya, dengan disebut "hati mereka sudah terkunci".

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا
Maka tidakkah mereka mentadabburi al-Qur'an ataukah hati mereka sudah terkunci? (Qs. Muhammad [47]: 24)

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Maka apakah mereka tidak mentadabburi al-Qur'an? Jika al-Qur'an itu berasal dari selain Allah, tentulah mereka mendapatkan banyak pertentangan di dalamnya. (Qs. an-Nisa [4]: 82)

Ibnu Taymiyyah, seorang pembaharu muslim yang sangat prolifik dalam berkarya, menegaskan dalam pendahuluan kitabnya Ushul fi al-Tafsir bahwa, "tidak mungkin mendatabburi al-Quran tanpa memahami makna-maknanya."

Untuk menjelaskan pernyataan Ibnu Taymiyyah ini, Ihsan bin Muhammad bin Ayisy al-'Utaibi dalam kitab 50 Faedah wa Qa'idah menyebut riwayat bahwa Ibnu Umar membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menghafal surah al-Baqarah. Sahabat yang dikenal sebagai ahlul Qur'an ini tak mau menghafal al-Qur'an begitu saja, tapi mewajibkan diri mentadabburi ayat-ayatnya bersama hafalannya.

Sikap demikian dilakukan bukan hanya oleh Ibnu Umar yang sangat rajin menghafal al-Qur'an, tapi juga oleh para sahabat yang lain. Misalnya, Abu Bakar As-Siddiq. Sahabat Nabi yang pertama kali menjadi khalifah ini juga dikenal sebagai salah seorang sahabat yang menghafal al-Qur'an dengan dibarengi pemahaman yang sangat baik atasnya.

Begitu pula Umar bin Khattab, khalifah kedua ini juga terkenal dengan hafalannya dan pemahamannya yang mendalam tentang al-Qur'an. Dia sering kali mengutip ayat-ayat al-Quran dalam pidato dan nasihatnya saat memerintah. Hal sama dilakukan Uthman bin Affan. Khalifah ketiga ini juga merupakan sahabat yang hafal al-Qur'an secara penuh dan memahaminya dengan baik.

Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat dan sepupu Nabi Muhammad Saw, juga dikenal sebagai sahabat yang menghafal dan memahami al-Qur'an secara mendalam. Dan Abdullah bin Mas'ud termasuk sahabat terkemuka dan ahli dalam ilmu al-Qur'an. Dialah sahabat yang paling awal menghafal al-Qur'an dan mendapat pujian langsung dari Nabi atas pemahamannya tentang al-Qur'an.

Abdullah bin Abbas, sepupu Nabi Muhammad Saw dari pihak ibu, merupakan sahabat yang juga dikenal dengan pemahamannya yang mendalam tentang al-Qur'an. Nabi Muhammad SAW berdoa untuknya agar diberi pemahaman tentang agama dan al-Qur'an. Terakhir, Aisyah binti Abi Bakar, istri Nabi sendiri, juga seorang sahabat yang hafal al-Qur'an dengan baik dan sering memberikan pemahaman tentang ayat-ayat al-Qur'an.

Itu hanya beberapa contoh dari banyak sahabat Nabi yang memiliki hafalan, yang didasari tadabbur dan pemahaman yang mendalam tentang al-Qur'an. Mereka adalah teladan bagi umat Islam dalam menghargai, mendalami, dan mengamalkan ajaran-ajaran kitab suci al-Quran.

Menurut Ihsan, para sahabat umumnya menghafal tidak lebih dari sepuluh ayat dalam suatu waktu, dan baru mau pindah menghafal ayat-ayat berikutnya setelah mempelajarinya dan juga setelah mengajarkannya.

Ada yang memaknai praktek para sahabat ini, bahwa hafalan sepuluh ayat itu bisa dilakukan sebagai target hafalan harian. Jika ini dilakukan, maka kita akan memerlukan waktu 1 tahun 8 bulan untuk menghafal seluruh al-Qur'an. Kita tahu, al-Qur'an terdiri dari 114 surah dan sekitar 6.236 ayat. Ini berarti, waktu yang dibutuhkan untuk menghafal seluruh al-Quran: 6.236 ayat/10 ayat/hari = 623,6 hari.

Tentu perlu kita ingat, proses menghafal al-Qur'an bisa berbeda-beda untuk setiap orang. Beberapa orang mungkin dapat menghafal lebih cepat, sementara yang lain mungkin memerlukan waktu lebih lama. Konsistensi, kesabaran, dan tekad adalah kunci penting dalam menghafal al-Quran dengan baik.

Yang pasti, praktek para sahabat tersebut menunjukkan, mereka menghafal al-Quran dengan tertib, penuh disiplin, untuk memastikan setiap ayat dikuasai sebelum melanjutkan ke bagian ayat-ayat berikutnya. Mereka memahami bahwa mendapatkan tadabbur dan pemahaman yang benar itu lebih penting dari sekedar menghafal secara cepat.

Para sahabat Nabi menjadi contoh teladan dalam proses menghafal al-Qur'an. Mereka tidak terburu-buru untuk menyelesaikan hafalan dengan cepat, melainkan menghafalnya secara bertahap dan tertib. Pendekatan para sahabat menghafal hanya sepuluh ayat pada suatu waktu, patut kita teladani untuk memastikan kualitas hafalan dan untuk menghindari kesalahan dalam mengulanginya.

Menghafal al-Qur'an tidak hanya sekadar menghafal huruf dan bunyi, tetapi juga memahami makna-maknanya. Para sahabat belajar dengan seksama makna setiap ayat yang mereka hafal. Mereka merenungkan pesan-pesan yang dikandung dalam ayat-ayat tersebut, sehingga hafalan mereka menjadi berarti dan mendalam. Pendekatan ini membantu mereka membangun hubungan yang kuat dengan teks suci dan memahami pesan-pesan Allah dengan lebih baik. Mereka sangat memahami makna-makna ayat al-Qur'an yang mereka hafal.

Bahkan tak hanya menghafal dan memahami, mereka juga mengajarkan ilmu yang telah mereka pahami itu. Para sahabat menerima pesan dari Rasulullah Saw bahwa menghafal tak boleh hanya untuk diri sendiri, tapi juga harus dibagikan ilmu yang didapatnya kepada orang lain. Setelah menguasai sepuluh ayat dengan baik, mereka mengajarkannya kepada orang lain dengan penuh pemahaman.

Pendekatan ini menciptakan lingkungan pembelajaran yang berkelanjutan, di mana ilmu dan pemahaman tentang al-Qur'an dapat tersebar dengan lebih luas di kalangan umat Islam. Para sahabat mengerti bahwa mendalami makna al-Qur'an dan mengajarkannya kepada orang lain akan memberikan pahala yang lebih besar. Sebuah hadits Nabi Saw menyebutkan, "Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang belajar al-Qur'an dan yang mengajarkannya."

Menghafal al-Quran secara perlahan membantu para sahabat untuk menjaga kualitas hafalan mereka. Mereka berusaha untuk benar-benar menghayati dan mengingat setiap kata dengan baik, sehingga menghindari kesalahan dalam mengulanginya. Konsistensi dalam menghafal dan memahami al-Quran juga membantu mereka meresapi nilai-nilai yang terkandung dalam setiap ayat. Selanjutnya, mereka dapat mengimplementasikan ajaran-ajaran al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan lebih baik. Ini membuat hafalan mereka menjadi semakin lebih berarti dan bermanfaat.

Menghafal al-Quran adalah proses yang memerlukan kesabaran, pemahaman, kedisiplinan dan ketertiban. Para sahabat Nabi telah memberikan teladan yang luar biasa dalam pendekatan mereka yang santai dan penuh penghayatan dan tadabburi terhadap al-Qur'an. Menghafal hanya sepuluh ayat pada satu waktu, mentadabburi dengan memahami makna-maknanya, serta mengajarkannya kepada orang lain, menjadi praktik yang menginspirasi. Dengan mengikuti jejak para sahabat, kita dapat lebih menghargai dan mendekati al-Qur'an dengan rasa takjub dan ketaatan yang lebih dalam. (ahmadie thaha 04/08/2023)


Share: